Akuarium Rania – Bab 9: Mahkota Kaca
Rapat itu bukan rapat biasa. Itu eksekusi publik.
Udara di ruang rapat Bappeda terasa berat, seolah oksigen disedot habis oleh ego laki-laki yang sedang bertarung. Aku duduk di barisan belakang, meremas jemariku yang dingin.
Pramono berdiri di depan layar proyektor, laser pointer-nya menari-nari liar di atas grafik yang ditampilkan Zarimuddin.
“Filosofi nggak bisa beli semen, Pak Zar,” suara Pramono tajam, disambut gumaman setuju dari beberapa Kabid lain. “Bapak bicara soal ‘jiwa zaman’, soal ‘memori kolektif’. Tapi anggaran kita defisit. BPK tidak akan mengaudit ‘jiwa’. Mereka mengaudit angka.”
Pramono berbalik, menatap forum dengan senyum kemenangan. “Saya usulkan proyek Sijuk dicoret. Alihkan dananya untuk drainase kota. Itu lebih… masuk akal.”
Aku melihat punggung Zarimuddin menegang. Dia terpojok. Dia duduk di kursi pimpinan, tapi bahunya merosot. Aku bisa melihat keringat dingin mengilap di pelipisnya dari tempatku duduk. Singa podium itu kehilangan aumannya. Dia gagap, membuka-buka lembar dokumen dengan tangan gemetar, mencari data yang tidak dia kuasai.
Lalu, dia menoleh.
Matanya mencariku di barisan belakang. Tatapan itu bukan lagi tatapan atasan ke bawahan. Itu tatapan orang tenggelam yang melihat satu-satunya sekoci. Help me.
Darahku berdesir panas. Adrenalin membanjiri otakku, menghapus rasa takut, menghapus keraguan, menghapus bayangan Tika dan rendangnya. Aku bukan lagi staf junior yang kemarin makan hati. Aku adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang memegang pelurunya.
Aku berdiri. Bunyi kursi lipat yang terdorong ke belakang terdengar nyaring di ruangan hening itu.
“Izin, Pak Kaban,” suaraku tenang, tapi memiliki resonansi logam yang dingin. “Ada kekeliruan fatal dalam argumen Pak Pramono.”
Semua kepala menoleh. Pramono menyipitkan mata, tersenyum meremehkan. “Oh? Silakan, Dek Rania. Bagian mana yang keliru? Filosofinya?”
“Datanya,” jawabku datar.
Aku berjalan maju, mengambil alih laptop yang terhubung ke proyektor. Jemariku menari di atas keyboard, membuka file Excel yang aku dan Zarimuddin kerjakan pukul dua pagi tadi.
“Pak Pramono menggunakan asumsi inflasi tahun 2019 untuk menolak proyek ini. Itu data pra-pandemi,” ujarku sambil menunjuk grafik batang yang kini muncul di layar. Grafik yang tegas, tajam, dan tak terbantahkan. “Menggunakan baseline itu di tahun 2025 adalah cacat logika, Pak. Itu sama saja merencanakan perjalanan ke bulan pakai peta jalan raya Jakarta.”
Terdengar suara terkesiap di ruangan itu. Aku tahu aku tidak sedang mengoreksi. Aku sedang mempermalukan. Dan rasanya nikmat sekali.
“Jika kita pakai data BPS terbaru—yang sudah saya dan Pak Kabid hitung ulang semalam—proyek Sijuk justru akan menutup defisit lewat retribusi pariwisata di tahun ketiga. Ini bukan pemborosan, Pak Pram. Ini penyelamatan aset.”
Aku menatap Pramono lurus-lurus. “Kalau kita ikuti saran Bapak untuk mencoret proyek ini berdasarkan data usang, kitalah yang akan jadi bahan tertawaan saat audit BPK nanti. Apakah Bapak siap bertanggung jawab?”
Hening. Sangat hening.
Wajah Pramono memerah padam, kontras dengan kemeja navy-nya. Dia membuka mulut untuk membantah, tapi tidak ada suara yang keluar. Angka di layar itu telanjang dan brutal. Dia kalah.
“Cukup,” suara Pak Kaban memecah kebekuan. Beliau mengangguk-angguk, menatap grafik itu dengan puas. “Datanya valid. Masuk akal. Proyek Sijuk jalan terus. Terima kasih, Rania. Analisis yang tajam.”
Aku kembali ke tempat dudukku. Kakiku tidak gemetar. Tanganku tidak dingin. Justru sebaliknya. Aku merasa tubuhku ringan, seolah melayang. Aku melirik Zarimuddin. Pria itu sudah tegak kembali. Wibawanya pulih. Dia menatapku sekilas—sebuah kedipan mata yang penuh kebanggaan dan persekutuan rahasia.
Aku tersenyum tipis. Persetan dengan rendang. Persetan dengan etika. Ini rasanya berkuasa.
Siang harinya, aku masuk ke pantry untuk membuat kopi. Bukan kopi saset. Aku merasa berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik hari ini.
Pintu pantry terbuka. Pak Suroso masuk membawa ember pel.
“Siang, Pak Suroso!” sapaku riang. Energiku masih meluap-luap sisa kemenangan tadi. “Bapak lihat nggak tadi di rapat? Rame banget, Pak.”
Pak Suroso tidak menjawab. Pria tua itu meletakkan embernya pelan-pelan. Ia menatapku. Tidak ada senyum jenaka. Tidak ada nasihat soal “jalan yang benar”. Tidak ada analogi galon air.
Tatapan Pak Suroso kosong. Kecewa. Seperti seorang ayah yang melihat anaknya pulang mabuk dan menabrak pagar rumah, tapi sudah terlalu lelah untuk marah.
“Bapak kira ikam beda, Nong,” gumam Pak Suroso pelan. Suaranya serak. “Bapak kira ikam pintar. Ternyata sama saja.”
“Maksud Bapak?” senyumku pudar.
Pak Suroso menggelengkan kepala. Ia mengambil kain pelnya, lalu berbalik keluar tanpa menoleh lagi. Punggungnya yang bungkuk terlihat semakin tua.
Aku berdiri mematung di pantry. Ada rasa sakit yang menyengat sekejap di dada. Rasa bersalah. Tapi dengan cepat, aku menepisnya.
Ah, Pak Suroso tahu apa? batinku defensif. Dia cuma cleaning service. Dia nggak ngerti tekanan di level pengambil kebijakan. Dia nggak ngerti apa yang harus aku lakukan untuk bertahan.
Aku mengaduk kopiku kasar. Aku tidak butuh validasi Pak Suroso. Aku sudah punya validasi yang lebih tinggi.
Sore hari, saat kantor sudah mulai sepi, pesan itu masuk.
Pak Zar: Ke ruangan saya sebentar, Nia.
Aku merapikan jilbabku di pantulan layar monitor. Aku memoles sedikit liptint. Jantungku berdebar, tapi bukan karena takut. Ini debaran antisipasi.
Aku masuk ke ruangan kaca itu. Zarimuddin tidak duduk di balik meja kebesarannya. Ia duduk di tepi meja kerjanya, melipat tangan di dada. Posisinya santai, intim, sejajar.
“Tutup pintunya,” perintah Zarimuddin lembut.
Aku menutup pintu. Suara bising dari luar langsung senyap. Hanya ada kami berdua di dalam akuarium kedap suara ini.
“Tadi itu…” Zarimuddin menggeleng-gelengkan kepala, senyum lebar terukir di wajahnya. “…brilian. Benar-benar brilian. Muka Pramono merah kayak kepiting rebus.”
Aku tertawa kecil. “Saya cuma menyajikan data yang benar, Pak.”
“Bukan,” Zarimuddin berdiri, melangkah mendekat hingga jarak kami hanya tersisa setengah meter. Aroma parfum maskulinnya menguar kuat. “Kamu menyelamatkan saya. Di ruangan itu tadi, di antara puluhan sarjana dan pejabat, cuma kamu yang mengerti visi saya.”
Zarimuddin menatap mataku dalam-dalam. “Saya tidak salah pilih, Nia. Kamu bukan cuma staf.”
Tangan Zarimuddin terulur. Kali ini, dia tidak menariknya seperti saat insiden berkas kemarin. Dia meraih tangan kananku, mengusap punggung tanganku dengan ibu jari. Perlahan. Hangat. Penuh kepemilikan.
“Kamu itu senjata saya,” bisiknya. “Kamu perpanjangan jiwa saya.”
Aku menahan napas. Kata-kata itu. Senjata. Perpanjangan jiwa. Itu bukan kata-kata cinta yang manis. Itu adalah kata-kata yang menjadikanku objek. Alat.
Tapi bagi aku yang sedang mabuk euforia, itu terdengar seperti penobatan ratu. Aku bukan lagi “penyakit menular”. Aku berguna. Aku dibutuhkan. Aku satu-satunya.
“Saya akan selalu bantu Bapak,” jawabku, suaraku bergetar.
“Saya tahu,” Zarimuddin tersenyum, melepaskan tanganku perlahan tapi tatapannya masih mengikat. “Jangan pernah berubah, Nia. Tetaplah tajam.”
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah mengambang. Aku melihat meja Dian yang kosong. Melihat meja Pak Suroso yang bersih. Aku sendirian. Tapi aku merasa memiliki segalanya.
Aku membereskan tas dengan senyum yang sulit ditahan, siap pulang dengan kemenangan di tangan.
Namun, saat aku berjalan menuju parkiran motor di koridor samping yang mulai gelap, langkahku terhenti.
Di ujung koridor, di area blind spot dekat pilar beton, Zarimuddin berdiri membelakangiku. Dia sedang menelepon. Gesturnya santai, satu tangan di saku celana, bahunya rileks—sangat berbeda dengan sosok tegang di ruang rapat tadi.
Aku hendak menyapa, tapi sesuatu dalam nada bicara Zarimuddin menahanku. Suaranya rendah, akrab, dan sedikit… meremehkan?
“…iya, data itu sangat membantu. Dari junior di bidang kita. Cerdas, dan… bisa diandalkan.”
Aku tersenyum simpul. Dia sedang membicarakanku. Zarimuddin pasti sedang memujiku di depan Pak Kaban atau pejabat lain.
Tapi kemudian, Zarimuddin tertawa kecil.
“Easy, man… she’s just a newbie. Give her time.”
Senyumku memudar.
Just a newbie? Baru saja di dalam ruangan tadi dia menyebutku “Perpanjangan Jiwa”. Kenapa sekarang nadanya seperti sedang membicarakan anak magang yang baru belajar fotokopi?
Suara di seberang sana berbicara cukup panjang. Zarimuddin mendengarkan sambil mengangguk-angguk, lalu menjawab dengan nada sedikit defensif tapi tetap friendly.
“Kamu benar sih, tapi dia masih belajar navigasi semua ini. Belum terbiasa dengan… situasi yang lebih rumit. Biar saya yang pegang kendalinya. Kamu tenang aja.”
Zarimuddin diam sejenak mendengarkan lawan bicaranya, lalu terkekeh lagi.
Tiba-tiba semua itu terasa cuma panggung debat bercanda di mata mereka—setidaknya begitu yang kutangkap dari cara Zarimuddin tertawa.
Zarimuddin tertawa lagi, lebih lepas kali ini. “Lagian, kalau bukan kita yang perform debat, siapa lagi? Anak-anak muda kan perlu role model.”
Pram.
Duniaku berhenti berputar. Pramono. Orang di seberang telepon itu adalah Pramono.
Laki-laki yang baru saja kubantai di ruang rapat. Laki-laki yang Zarimuddin sebut sebagai “pembunuh mimpi” dan “orang gila” di Zoom jam dua pagi tadi.
Mereka sedang… mengobrol santai? Ngopi?
Aku mundur selangkah. Kakiku lemas. Ternyata perang tadi siang hanyalah pertunjukan. Sandiwara.
Bagi Zarimuddin dan Pramono, perdebatan anggaran hanyalah “dinamika forum”. Setelah palu diketuk, mereka kembali menjadi sesama pejabat Eselon III yang satu kasta, satu klub, satu frekuensi.
Dan aku? Rania yang begadang sampai jam dua pagi, Rania yang mempertaruhkan reputasinya, Rania yang mengecewakan Pak Suroso… aku hanyalah “Newbie” yang perlu “dipegang kendalinya”. Aku bukan partner. Aku cuma anjing penjaga yang baru saja diadu, lalu dikandangin lagi biar nggak gigit tamu.
Zarimuddin menutup teleponnya dan berbalik. Dari ekspresinya, aku bisa lihat dia kaget melihatku berdiri patung di dekat pilar.
“Lho? Nia? Belum pulang?” tanyanya santai. Wajahnya datar, seolah tidak baru saja membicarakanku di belakang punggung.
Aku menatap wajah itu. Wajah mentorku. Wajah “jiwa”-ku. Tiba-tiba wajah itu terlihat seperti topeng.
Aku ingin berteriak. Aku ingin bertanya kenapa dia akrab dengan Pramono. Tapi tenggorokanku tercekat.
“Ini… mau pulang, Pak,” suaraku serak.
“Hati-hati di jalan,” ucap Zarimuddin ramah, lalu berjalan menuju mobilnya. Santai. Tanpa beban.
Aku berdiri sendirian di koridor gelap itu. Angin malam berhembus, tapi aku tidak merasa dingin. Aku merasa kosong. Aku pikir aku adalah Ratu yang memakai mahkota. Ternyata aku hanyalah badut yang baru saja menghibur raja-raja yang sedang bosan.
Aku berjalan ke motor. Aku tidak menangis. Air mataku sudah kering. Tapi di dalam dadaku, sesuatu yang vital baru saja patah. Bukan retak lagi. Patah.
Dan aku sadar, patahan itu tajam sekali. Cukup tajam untuk melukai siapa saja. Termasuk diriku sendiri.
***
