Akuarium Rania – Bab 8: Marcus Aurelius Jam Dua Pagi
Sore itu, di parkiran motor Bappeda yang mulai lengang, aku melihat sisi lain dari Dian.
Biasanya, Dian adalah ratu gosip yang tak pernah kehabisan baterai. Tapi hari ini, aku menemukannya sedang jongkok di samping Honda Beat-nya, menatap layar ponsel dengan wajah keruh. Bahunya merosot, seolah menahan beban tak kasat mata.
“Yan? Kenapa? Ban bocor?” tanyaku, mendekat sambil menenteng helm.
Dian tersentak kaget. Ia buru-buru mematikan layar ponselnyaâ, tapi tidak cukup cepat. Aku sempat melihat sekilas aplikasi mobile banking dengan saldo yang memprihatinkan.
“Eh, Nia. Nggak kok,” Dian memaksakan tawa, tapi suaranya sumbang. “Cuma lagi ngitung… cukup nggak ya bensin sampai gajian minggu depan.”
Aku terdiam. Aku tahu Dian adalah tulang punggung keluarga. Ayahnya sudah pensiun, dan dia membiayai kuliah dua adiknya. Tapi mendengarnya secara langsung, di parkiran panas ini, rasanya berbeda.
“Yan, kalau lo butuh…” Aku merogoh tas.
“Nggak usah,” potong Dian cepat, mengangkat tangan. Senyumnya berubah tulus, tapi ada ketegasan di matanya. “Gue masih bisa handle. Paling gue puasa jajan boba seminggu.”
Dian berdiri, memasang helmnya. Kaca helm itu terbuka separuh, menampilkan matanya yang lelah.
“Lo tahu kenapa gue nggak pernah mau ikut-ikutan kubu Pak Zar atau Pak Pram?” tanya Dian tiba-tiba.
Aku menggeleng.
“Karena gue nggak punya kemewahan buat milih, Nia,” kata Dian pelan. “Lo pinter, lo idealis, lo mungkin kerja buat passion atau karir. Kalau lo jatuh, lo masih punya sayap.”
Dian menunjuk motornya sendiri.
“Kalau gue jatuh, adik-adik gue putus sekolah. Gue harus main aman. Gue harus jadi air yang ngikutin bentuk wadah, mau wadahnya merah atau biru, yang penting gue nggak tumpah.”
Kalimat itu menamparku lebih keras daripada sindiran Tika. Selama ini, aku menganggap sikap netral Dian adalah bentuk ketidakpedulian. Ternyata itu adalah strategi bertahan hidup yang paling brutal. Dian memilih menjadi “dangkal” dan “receh” demi melindungi periuk nasinya. Sementara aku? Aku menjadikan kantor ini panggung drama romansa intelektualku, mempertaruhkan posisi yang mati-matian dipertahankan orang seperti Dian.
“Jangan main api terus, Nia,” bisik Dian sebelum menyalakan mesin motor. “Sayang karier lo. Lo punya apa yang gue nggak punya: pilihan.”
Motor Dian melaju keluar gerbang, lampunya mengecil menjadi titik merah di kegelapan. Meninggalkan asap tipis dan rasa bersalah yang tebal di dadaku.
Pukul delapan malam.
Aku sedang berusaha keras menjadi manusia normal. Aku sudah mandi, memakai piyama katun yang nyaman, dan memaksakan diri membaca novel populer yang dipinjamkan Dian—kisah cinta remaja yang manis dan tidak berbahaya. Di sebelahku, segelas susu hangat mengepul.
Ini adalah resep “hidup sehat” yang kususun sendiri. Detoksifikasi dari racun birokrasi dan obsesi terhadap atasan. Ponselku tergeletak di meja belajar, dalam mode silent.
Lalu, layar itu menyala.
Bukan pesan WhatsApp. Bukan notifikasi Instagram. Itu panggilan telepon.
Nama “Pak Zar” berkedip di layar.
Jantungku tidak sekadar berdebar; rasanya seperti berhenti, lalu memukul tulang rusuk dengan palu godam. Selama seminggu terakhir, pria itu memperlakukanku seperti penderita kusta. Menghindar, membuang muka, menjawab seperlunya. Dan sekarang, di jam istirahat, dia menelepon?
Jangan diangkat, teriak logikaku. Ini jebakan!
Tapi tanganku bergerak sendiri, didorong oleh refleks budak korporat yang takut pada atasan, atau mungkin oleh kerinduan yang menyedihkan.
“Halo… selamat malam, Pak?”
“Nia, buka laptopmu. Sekarang.”
Suara Zarimuddin terdengar parau, tegang, dan tanpa basa-basi. Tidak ada salam, tidak ada intro manis.
“Maaf, Pak? Ada apa ya?”
“Pramono menyerang data Sijuk,” jawab Zarimuddin cepat. Di latar belakang, aku mendengar suara kertas dibalik kasar. “Dia baru saja kirim memo ke Pak Kaban, menembuskan ke Bupati. Dia bilang asumsi inflasi di proposal kita cacat logika. Kalau besok pagi saya tidak punya data sanggahan yang valid, proyek ini mati. Dan saya habis.”
Aku terdiam. Naluri profesionalku langsung mengambil alih. Ini bukan soal perasaan. Ini soal perang. Dan jenderalku sedang diserang.
“Bapak butuh data apa?” Suaraku berubah. Tegas. Efisien.
“Hitung ulang proyeksi lima tahun dengan asumsi inflasi moderat. Cari komparasi data BPS lima tahun terakhir. Saya kirim file-nya sekarang. Kita bedah sama-sama via Zoom.”
“Siap, Pak.”
Aku melempar novel cintanya ke kasur. Susu hangat dilupakan. Aku menyambar laptop, menyalakannya dengan urgensi seorang paramedis di ruang gawat darurat.
Inilah “Kuda Troya”-nya. Alibi yang sempurna. Kerjaan. Krisis. Negara. Sesuatu yang tidak bisa didebat oleh Tika, oleh Dian, bahkan oleh nuraniku sendiri.
Pukul 01.30 dini hari.
Mataku terasa pedas. Punggungku kaku. Selama lima jam terakhir, tidak ada romantisme. Tidak ada kutipan puisi. Hanya angka, grafik, rumus Excel yang rumit, dan suara Zarimuddin yang membereri instruksi lewat speaker laptop.
Kami bekerja seperti mesin. Efektif. Dingin. Mematikan.
“Cek sel D45, Nia. Rumusnya salah itu. Lookups-nya lari.”
“Sudah saya koreksi, Pak. Angkanya naik jadi 4,2 persen.”
“Bagus. Masukkan ke slide tujuh. Buat grafiknya batang, jangan garis. Biar kelihatan tegas.”
“Siap.”
Zarimuddin di layar Zoom tampak berantakan. Kemejanya kusut, lengan digulung tinggi, rambutnya acak-acakan karena sering disisir jari. Di belakangnya, asap rokok mengepul tipis—tanda dia melanggar aturan rumahnya sendiri demi stres ini.
Tapi bagiku, melihat Zarimuddin dalam mode “perang” seperti ini… jauh lebih seksi daripada saat dia rapi. Kecerdasannya tajam, perintahnya jelas. Pria ini tahu apa yang dia mau.
“Selesai,” gumam Zarimuddin akhirnya. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerjanya yang berdecit.
Aku menekan tombol Save. “Sudah saya kirim balik ke email Bapak.”
Hening.
Di layar, jam laptop menunjukkan pukul 01.45. Misi selesai. Serangan Pramono bisa dipatahkan besok pagi. Alibinya sudah habis. Seharusnya aku bilang, “Selamat malam, Pak,” lalu mematikan laptop. Seharusnya Zarimuddin menutup Zoom.
Tapi tidak ada yang bergerak. Koneksi Zoom itu masih menyala, menampilkan dua orang kesepian di dua kamar yang berbeda, dipisahkan oleh jarak fisik namun disatukan oleh kelelahan yang intim.
Zarimuddin melepas kacamata bacanya, memijat pangkal hidung. Gerakan yang sangat manusiawi, sangat rapuh.
“Kamu tahu…” suaranya terdengar berat, serak oleh asap rokok dan jam malam. “…kenapa saya benci orang-orang seperti Pramono?”
Aku menahan napas. “Kenapa, Pak?”
“Karena mereka membuat kita merasa gila,” gumam Zarimuddin, matanya menerawang menatap langit-langit ruang kerjanya. “Mereka bicara soal aturan, soal prosedur, soal kehati-hatian. Padahal intinya cuma satu: ketakutan. Mereka takut bermimpi, jadi mereka membunuh mimpi orang lain.”
Zarimuddin menoleh ke arah kamera. Tatapannya menembus layar, menembus pertahananku yang sudah tipis.
“Marcus Aurelius pernah menulis di Meditations…”
Darahku berdesir. Ini dia. Screenshot di ponselku menjadi hidup.
“…’Objek kehidupan bukanlah untuk berada di sisi mayoritas, tapi untuk melarikan diri dari barisan orang gila’.”
Zarimuddin tersenyum getir. Senyum yang tidak ditujukan untukku, Rania sebagai bawahan, tapi Rania sebagai… sesama jiwa yang tersesat.
“Malam ini saya merasa dikelilingi orang gila, Nia. Di kantor. Di birokrasi. Bahkan di rumah…”
Suaranya memelan di kata terakhir. Aku mencengkeram ujung meja. Aku tahu aku harus lari. Aku tahu ini adalah racun yang dimaksud Pak Suroso. Tapi rasanya begitu manis. Begitu memabukkan.
“Stoikisme bukan soal pasrah, Pak,” aku mendengar suaraku sendiri menjawab, lembut namun berani. “Amor Fati. Mencintai takdir. Termasuk mencintai kekacauan ini, karena ini yang membentuk karakter Bapak.”
Mata Zarimuddin melebar sedikit. Ada kilatan kekaguman yang menyala di sana—kilatan yang sama seperti saat di Pusdiklat dulu. Kilatan yang membuatku merasa dilihat.
“Kamu baca Seneca?” tanya Zarimuddin, nadanya berubah antusias. Lelahnya menguap.
“Sedikit, Pak. Sejak Bapak… sejak Bapak kirim kutipan itu dulu.”
“Tuhan,” Zarimuddin tertawa pelan, menggelengkan kepala. “Di kantor ini… di kota ini… cuma kamu yang mengerti bahasa saya, Nia. Cuma kamu.”
Validasi itu menghantam dadaku lebih keras daripada pujian kerjaan apa pun. Reza bisa memberiku bakso. Dian bisa memberiku persahabatan. Tapi hanya Zarimuddin yang bisa memberiku ini: perasaan bahwa otakku adalah sesuatu yang berharga, sesuatu yang seksi.
“Bapak tidak sendiri,” bisikku.
Dan tembok itu runtuh.
Pukul dua pagi lewat sepuluh menit. Zoom itu tidak dimatikan.
Kami bicara. Bukan soal data inflasi. Bukan soal Pramono. Kami bicara soal filosofi, soal ketakutan menjadi tua tanpa meninggalkan jejak, soal sepinya menjadi idealis di dunia yang pragmatis.
Aku lupa pada Tika. Lupa pada rendang. Lupa pada Pak Suroso.
Aku sedang mabuk. Mabuk kepayang oleh candu intelektual yang disuntikkan langsung ke pembuluh darahku lewat layar 14 inci. Aku tahu besok pagi aku akan menyesal. Aku tahu ini salah. Tapi malam ini, aku memilih untuk sakit.
***
