Akuarium Rania – Bab 10: Gelas-Gelas Kaca
Tiga hari setelah insiden telepon di koridor gelap itu, aku berubah menjadi hantu di dalam mesin birokrasi.
Aku datang tepat waktu, duduk di kubikelku, dan mengerjakan tugas dengan presisi yang menakutkan. Tidak ada lagi senyum malu-malu. Tidak ada lagi tatapan mencuri ke arah ruangan kaca. Tidak ada lagi diskusi senja tentang buku atau lagu.
Di mata rekan-rekan kerja, aku mungkin terlihat profesional. Tapi di dalam diriku, aku mati rasa.
Kalimat “She’s just a newbie” dan “Give her time” terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Setiap kali Zarimuddin melintas dan menyapaku dengan nada ramah—nada yang dulu terdengar hangat, kini terdengar merendahkan—aku hanya membalas dengan anggukan kaku.
Kamu palsu, batinku setiap kali melihat wajah itu. Kamu palsu, dan aku bodoh karena pernah menganggapmu dewa.
Siang itu, AC sentral kantor terasa mencekik. Dinding-dinding kaca ini terasa semakin sempit, seolah hendak meremukkanku. Aku memutuskan untuk menyingkir sejenak ke pantry, berharap menemukan sedikit ketenangan di sela jam istirahat.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Di pantry, aroma kopi saset bercampur dengan wangi kerupuk yang dibawa Mbak Lastri menguar hangat. Staf senior dari Sekretariat yang seumuran dengan Pak Suroso itu baru saja masuk. Mbak Lastri adalah sosok yang tegas tapi hangat, dengan senyum yang selalu genuine meski mata tajamnya bisa membaca situasi dengan akurat.
“Hebat kamu, Nia,” katanya ringan, sambil meletakkan termos kopi pribadinya di atas meja. Matanya menelitiku dengan cara yang hanya dimiliki orang berpengalaman. “Anak baru sudah bisa bikin Pak Kaban menoleh. Jarang-jarang lho, biasanya beliau cuek sama presentasi level eselon tiga.”
Aku tersenyum canggung, mengaduk tehku yang masih panas. “Datanya saja yang mendukung, Mbak.”
Mbak Lastri tertawa tipis mendengar kerendahhatianku. “Di kantor ini, data itu seperti pisau, Nduk. Hasilnya tergantung siapa yang pegang,” ujarnya penuh arti.
Ia berhenti sebentar, menatapku lekat-lekat, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan. “Beberapa tahun lalu ada juga anak baru yang pintar, sangat pintar. Jadi kesayangan Kabid. Begitu atasannya dipindah ganti baru, dia sendirian. Susah hidupnya.”
Aku terdiam. Kata-kata Mbak Lastri terdengar sangat serius. Itu bukan nasihat biasa, tapi peringatan. Tanda sayangnya kepadaku sebagai bawahan, anak baru, dan sesama perempuan.
Mbak Lastri menepuk bahuku pelan sebelum beranjak keluar, lalu berhenti di ambang pintu untuk memberikan satu kalimat terakhir.
“Jadi kesayangan atasan itu seperti pegang gelas kaca,” katanya. “Kelihatan indah, tapi kalau sekali jatuh, pecahannya bisa melukai tanganmu sendiri.”
Mbak Lastri mengelus pipiku sebentar, tatapannya menyiratkan keprihatinan yang tulus, sebelum ia melangkah kembali ke ruangannya di Sekretariat.
Aku kembali ke mejaku dengan perasaan gamang. Pencapaianku di rapat kemarin terasa hambar. Kata-kata itu terus terngiang. Gelas kaca. Melukai tangan sendiri.
Pukul tiga sore, aku tidak tahan lagi. Kubikelku terasa makin sempit dan sesak. Tumpukan berkas di meja seakan menertawakan kenaifanku. Di seberang sana, dari balik kaca, Zarimuddin terlihat tertawa renyah menerima telepon—mungkin dari Pramono lagi, menertawakan “ikan-ikan kecil” di kantor ini.
Aku mengetik pesan teks ke Dian di meja kubikel sebelah: Kalau Pak Kabid nyari, bilang aku ijin pulang. ‘Sakit perut’.
Hampir seketika, ponselku bergetar. Dian membalas dengan cepat. Weii mau ke mana?
Aku menatap layar itu dengan mata pedas. Aku tidak punya energi untuk menjelaskan. Tidak punya energi untuk berpura-pura baik-baik saja di depan sahabatku.
Ga usah tanya. Sumpek. Balasku singkat.
Aku mematikan layar ponsel. Memang betul perutku terasa melilit, bukan karena salah makan, tapi karena memikirkan kata-kata Mbak Lastri di pantry tadi. “Pecahannya bisa melukai tanganmu sendiri.”
Tanpa menunggu Dian menoleh atau bertanya lebih lanjut, aku menyambar tasku. Meninggalkan laptop kantor yang berisi data-data “jenius”-ku.
Aku berjalan cepat keluar gedung, menahan napas sampai aku benar-benar menghirup udara panas parkiran yang bebas dari aroma parfum Zarimuddin.
Tanjung Pendam di sore hari adalah satu-satunya tempat di kota ini yang tidak menuntut apa-apa.
Taman kota yang menghadap langsung ke laut lepas itu belum terlalu ramai. Angin sore berhembus malas, menggerakkan daun-daun ketapang tua. Aku berjalan pelan, membiarkan suara debur ombak menggantikan suara bising di kepalaku.
Aku duduk di salah satu gazebo beton tua yang menghadap ke laut. Di hadapanku, Pulau Kalimoa tampak mengapung dalam kabut tipis. Orang-orang tua bilang pulau itu tempat membuang sial.
Aku tersenyum getir. Bisakah aku membuang kesialan bernama perasaan ini ke sana?
Di kejauhan, warung-warung mulai membakar otak-otak, menerbangkan aroma ikan panggang yang gurih ke udara. Ritme di sini lambat, damai, dan jujur. Tidak ada intrik anggaran. Tidak ada manipulasi data. Tidak ada atasan yang menjual mimpi. Hanya ada laut, angin, dan gravitasi.
“Surang, Nong? Usa temenong kusong, kemasokan kini.”
Sapaan dalam logat Belitung yang kental itu mengejutkanku. Seorang kakek petugas kebersihan berdiri tak jauh dariku. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terpanggang matahari, tapi matanya jernih. Ia sedang menyapu daun kering.
Sendirian, Neng? Jangan melamun kosong, nanti kesambet.
“Eh… iya, Kek. Lagi cari angin,” jawabku, memaksakan senyum sopan.
Si Kakek tertawa kecil, memperlihatkan sisa giginya. Ia menyandarkan dagu pada gagang sapu lidinya, menatapku dengan sorot mata teduh.
“Kepak badan isak kerje bawak tiduk saja,” ujarnya dengan suara parau yang khas. “Tapi mun kepak banyak pikeran, bawak bedue.”
Kalau capek badan karena kerja, bawa tidur saja. Tapi kalau capek banyak pikiran, bawa berdoa.
Dadaku sesak seketika. Pertahanan yang kubangun selama tiga hari terakhir retak oleh satu kalimat sederhana itu. Tidak ada kutipan Marcus Aurelius. Tidak ada analisis psikologis. Hanya kebijaksanaan jalanan yang murni.
“Iya, Kek,” suaraku bergetar. “Terima kasih.”
Si Kakek mengangguk, lalu kembali menyapu. Srok. Srok. Srok. Suara sapu lidi di atas semen itu terdengar meditatif.
Aku memejamkan mata. Aku membiarkan angin laut membasuh wajahku. Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan oksigen, mencoba mengusir racun asap rokok dan janji manis yang mengendap di sana.
Ting.
Ponsel di saku gamis batikku bergetar panjang. Dunia nyata memanggil kembali.
Aku membuka mata dengan enggan. Aku merogoh ponsel itu. Sebuah pesan WhatsApp masuk.
Pak Zar: Nia, kamu di mana? Saya cari di ruangan kok kosong? Kita perlu bahas strategi untuk hadapi BPK minggu depan. Pramono sudah setuju kita pakai data kamu.
Aku menatap layar itu lama. Nama itu. Nama yang dulu membuatku berdebar. Nama yang membuatku rela mengkhianati nuraniku sendiri.
Dan isi pesannya… Pramono sudah setuju.
Tentu saja dia setuju. Mereka kan satu kubu di balik layar. Mereka kan teman ngopi yang menertawakan staf-staf naif sepertiku. Zarimuddin menggunakan nama Pramono seolah itu adalah trofi kemenangan bersama, padahal aku tahu itu adalah bukti persekongkolan mereka.
Aku melihat ke laut lagi. Matahari hampir tenggelam sempurna.
Kursor berkedip di kolom balasan. Dulu, aku akan langsung membalas: “Siap, Pak. Segera.” Dulu, aku akan merasa bangga dilibatkan.
Tapi hari ini, aku meletakkan ponsel itu di bangku beton di sebelahku. Layarnya masih menyala, menampilkan pesan itu.
Aku tidak membalas. Aku tidak mengetik satu huruf pun. Aku membiarkan layar itu meredup, lalu mati dengan sendirinya. Gelap.
Suara azan Magrib mulai terdengar sayup-sayup. Aku berdiri, merapikan jilbabku yang tertiup angin. Aku mengambil ponselku, tapi tidak menyalakan layarnya. Aku memasukkannya begitu saja ke dalam tas.
“Mari, Kek,” pamitku pada si kakek penyapu yang kini sedang mengikat karung sampahnya di kejauhan. Kakek itu melambai singkat.
Langkahku menuju parkiran terasa sedikit lebih ringan. Masalahnya belum selesai. Besok aku masih harus ke kantor. Tapi setidaknya malam ini, aku memegang satu kendali kecil: Aku memilih untuk diam. Dan bagi Zarimuddin yang terbiasa dipuja, diamku mungkin akan menjadi suara yang paling bising.
***
*(BERSAMBUNG…)*
> **Penasaran kelanjutannya?** Kisah Rania di Bappeda makin memanas! Akankah dia survive dari intrik sanksi sunyi Zarimuddin dan istrinya? Baca naskah utuhnya (40 Bab) sekarang juga melalui Karya Karsa Syafree
