Akuarium Rania – Bab 7: Navigasi dan Resistensi
Pagi itu dimulai dengan sebuah insiden kecil yang tidak dilihat oleh siapa pun, namun menghancurkan aku sepenuhnya.
Pukul sembilan pagi, aku masuk ke ruangan kaca itu untuk menyerahkan Draf Laporan Akhir Sijuk. Biasanya, ini adalah momen “curian”. Zarimuddin akan menahan berkas itu sedikit lebih lama, membiarkan jari kami bersentuhan sekilas, lalu menatap mataku sambil tersenyum tipis—sebuah kode rahasia yang berarti: “Terima kasih sudah mengerti saya.”
Tapi hari ini berbeda.
Aku meletakkan map itu di meja. Zarimuddin tidak mendongak dari layar laptopnya.
“Terima kasih,” gumamnya datar.
Pria itu mengulurkan tangan untuk mengambil map tersebut. Aku, karena terbiasa dengan ritme lama kami, menyodorkannya sedikit lebih maju. Saat jariku hampir menyentuh punggung tangan Zarimuddin, pria itu menarik tangannya dengan gerakan sentak yang kasar.
Seperti tersengat listrik. Atau lebih parah: seperti menghindari najis.
Zarimuddin mengambil ujung map itu dengan dua jari—memastikan tidak ada kontak kulit sekecil apa pun—lalu menariknya cepat.
“Silakan kembali bekerja, Rania,” ucapnya dingin. Tanpa tatapan mata. Tanpa senyum.
Aku keluar dari ruangan itu dengan tangan gemetar. Perubahan interaksi fisik itu adalah tamparan yang lebih keras daripada kata-kata kasar. Dulu tangan itu mencari kehangatanku, sekarang tangan itu menghindariku seolah aku adalah virus.
“Nah, gitu dong, Nong.”
Suara Pak Suroso menyapaku saat aku sedang melamun di parkiran motor sore harinya, menunggu Reza yang berjanji menjemput. Pria tua itu sedang menyapu halaman, tapi ia berhenti sejenak untuk menatapku sambil tersenyum lebar—senyum tulus seorang bapak.
“Bapak perhatikan, ikam sekarang sudah jarang lembur-lembur ndak jelas di atas,” kata Pak Suroso, menyandarkan dagu di gagang sapu. “Sudah sering pulang tenggo. Wajah ikam juga lebih cerah, ndak kusut mikirin negara terus.”
Aku memaksakan senyum sopan. “Iya, Pak. Lagi pengen santai aja.”
“Bagus itu,” Pak Suroso mengangguk mantap. “PNS itu lari maraton, bukan lari sprint. Ndak usah ngoyo. Ndak usah aneh-aneh. Yang penting aman, pensiun tenang.”
Pak Suroso menepuk bahuku bangga. “Bapak senang lihatnya. Ikam sudah kembali ke jalan yang benar. Ndak usah main api, nanti angus.”
Pujian itu tulus. Pak Suroso benar-benar lega melihat aku tidak lagi terjebak di ruangan kaca Zarimuddin. Bagi Pak Suroso, Rania yang “normal” ini adalah Rania yang sukses.
Tapi bagiku, pujian itu terdengar seperti ucapan belasungkawa.
“Hahaha! Sumpah, Pak Kasubag Umum tuh kalau ngomong muncratnya sampai ke meja depan!”
Reza tertawa ngakak sambil menepuk meja. Gigi putihnya terlihat rapi, matanya menyipit jenaka. Di sebelahnya, Dian dan Widya ikut tertawa terbahak-bahak.
Aku menarik sudut bibirku. Memaksakan otot pipiku naik. Mengeluarkan suara hahaha yang terdengar pas di telinga. Tapi mataku tidak tertawa. Mataku dingin, mengamati mangkuk baksoku yang masih penuh.
“Terus, terus, si Agus anak Keuangan malah nyodorin tisu pas rapat!” lanjut Reza, masih dengan semangat 45. “Mukanya polos banget lagi. Satu ruangan pecah!”
Tawa meledak lagi. Cerita slapstick. Humor fisik. Receh.
Aku mengaduk kuah baksoku pelan. Lucu, batinku datar. Tapi dangkal.
Kalau ini Zarimuddin, dia tidak akan menertawakan cipratan ludah atau tisu. Dia akan menganalisis kenapa Pak Kabag Umum itu gugup. Dia akan bilang: “Itu gejala psikosomatis, Nia. Dia tertekan karena temuan audit BPK tahun lalu belum tuntas. Gugupnya bukan karena dia bodoh, tapi karena dia memegang rahasia anggaran.”
Itu yang aku rindukan. Kedalaman. Lapisan makna di balik peristiwa remeh.
“Nia, kok bengong?”
Suara Reza membuyarkan lamunanku. Pemuda itu menepuk bahuku pelan. Sentuhan yang hangat, bersahabat, dan sopan. Tidak ada listrik statis yang berbahaya. Tidak ada ketegangan yang membuat napas berhenti. Hanya rasa aman yang datar.
Kalau saja Zarimuddin yang menyentuh pundakku… aku pasti sudah gemetar ketakutan sekaligus kegirangan. Tapi Zarimuddin tadi pagi menarik tangannya seperti melihat kusta.
“Nih, makan kerupuknya,” Reza menyodorkan toples plastik sambil tersenyum tulus. “Biar nggak mikirin negara mulu. Sekali-kali otak tuh diistirahatin, jangan diajak lari maraton terus.”
Aku menerima kerupuk itu. “Thanks, Za.”
Reza tersenyum lebar. Dia adalah definisi air putih hangat. Sehat. Aman. Menghidrasi.
Aku memandangi Reza agak lama, lalu melihat Dian yang menatapku tajam dari seberang meja. Dian tahu. Dian tahu aku sedang membandingkan “Air Putih Hangat” ini dengan “Kopi Hitam” yang merusak lambung.
Aku mengunyah kerupuk itu. Hambar.
Tapi aku harus menelannya. Karena inilah “jalan yang benar” kata Pak Suroso tadi. Inilah “keamanan” yang diinginkan semua orang untukku. Lidahku sudah terlanjur rusak oleh kopi hitam pahit buatan Zarimuddin. Dan sekarang, air putih ini rasanya tawar. Tawar, sangat tawar.
Pukul sembilan malam. Kamar kosku sunyi. Laptop menyala, menampilkan kursor yang berkedip di halaman kosong.
Aku duduk memeluk lutut. Hujan rintik-rintik di luar jendela seolah mengejek kesepianku.
Tidak ada notifikasi dari Zarimuddin. Tidak ada link lagu. Tidak ada perdebatan seru. Hanya ada pesan terakhir Reza: Good night, Rania. Mimpi indah ya 🙂
Aku menatap layar ponselku yang gelap. Tadi sore, Pak Suroso memujiku. “Bapak senang lihatnya. Ikam sudah kembali ke jalan yang benar.”
Aku tertawa pelan. Tawa yang kering dan miris.
Jalan yang benar ini ternyata sunyi sekali, Pak Suroso. Jalan yang benar ini rasanya seperti berjalan di lorong rumah sakit yang steril: bersih, aman, teratur, tapi baunya membuat mual.
Aku merindukan “api” yang dibilang Pak Suroso tadi. Aku merindukan bahaya. Aku merindukan sensasi ditarik tangannya, bukan dihindari. Aku merindukan adrenalin menjadi “spesial”, bukan menjadi sekadar “salah satu pegawai yang aman”.
Tanganku bergerak sendiri, membuka galeri foto. Jauh di folder tersembunyi, ada satu screenshot yang belum kuhapus. Bukan foto selfie, bukan foto makanan. Tapi tangkapan layar percakapan pukul 02.00 pagi.
Di sana, di layar itu, Zarimuddin sedang membedah filosofi Stoic. Tentang Amor Fati—mencintai takdir, betapapun menyakitkannya. Kalimat-kalimat Zarimuddin tajam, analitis, penuh wawasan yang membuat otakku mendesir nikmat.
Dia tidak tahu, saat itu, bahwa dia sedang mengajariku mencintai penderitaan yang disebabkan olehnya.
Screenshot itu ditutup dengan kalimat Zarimuddin: “Di kantor ini, cuma kamu yang mengerti bahasa saya, Nia.”
Aku mengusap layar dingin itu dengan ibu jariku. Ada desiran halus di dadaku. Desiran intelektual yang tidak bisa diberikan oleh seribu lelucon Reza.
Dan di dunia nyata, Zarimuddin menganggapku penyakit menular. Dan aku baru sadar, dibenci dan dihindari oleh Zarimuddin ternyata jauh lebih menyakitkan daripada dilabrak oleh istrinya.
“Sialan,” bisikku pada ruangan kosong itu. Air mataku menetes satu. “Aku kangen.”
Dan pengakuan itu adalah hal paling berbahaya yang pernah kuucapkan. Karena saat seseorang merindukan racunnya, dia sudah siap untuk mati demi seteguk lagi.
***
