Akuarium Rania – 6

Novel karya Syafree

cover-akuarium-rania

Akuarium Rania – Bab 6: Rasa Rendang

Pukul sebelas siang. Matahari Belitung sedang terik-teriknya, memanggang atap genteng tanah liat gedung tua Bappeda. Di dalam bangunan peninggalan Belanda ini, langit-langit yang tinggi dan dinding tebal biasanya cukup untuk menahan panas. Namun hari ini, hawa di ruangan besar tanpa sekat itu terasa gerah dan menyesakkan.

Rasa lapar pegawai yang biasanya memuncak di jam ini mendadak hilang. Digantikan oleh ketegangan yang merambat dari pintu kayu jati utama yang berat.

“Selamat siang, semuanya!”

Suara itu memantul di dinding-dinding tinggi, cerah dan sopan.

Aku mendongak dari balik monitorku. Tika berdiri di ambang pintu. Cahaya siang dari jendela krepyak besar di belakangnya menciptakan siluet yang mengintimidasi. Dia tidak datang dengan tangan kosong. Di tangan kanannya, dia menenteng rantang susun stainless steel besar, dan di tangan kirinya ada kantong kertas yang menguarkan aroma santan dan rempah yang kuat.

Aroma rendang.

“Maaf mengganggu jam kerjanya,” ucap Tika sambil melangkah masuk. Hak sepatunya beradu nyaring dengan lantai tegel kuno yang bermotif kembang. Tak. Tak. Tak. “Saya masak agak banyak hari ini. Daripada mubazir di rumah, mending saya bawa ke sini buat teman makan siang Bapak Ibu sekalian.”

“Waduh, Bu Kabid repot-repot amat,” celetuk Pak Joko, matanya langsung berbinar.

Tika tersenyum ramah, lalu berjalan lurus melewati deretan meja staf yang disusun memanjang di aula tengah gedung itu. Ia memegang satu kotak makan Tupperware kecil di tangannya yang bebas.

Jantungku mulai berpacu. Instingku berteriak lari, tapi kakiku terpaku di bawah meja.

Tika berhenti tepat di depan mejaku.

Satu ruangan hening. Bahkan dengung kipas angin tua di langit-langit seolah tak terdengar. Dian di sebelahku pura-pura sibuk membetulkan jilbab, tapi aku tahu dia menahan napas.

Tika meletakkan kotak makan itu di meja kayuku.

“Ini, Mbak Rania. Khusus buat kamu.”

Tika tersenyum. Senyum yang melengkung sempurna, mencapai matanya, namun sedingin ubin tegel di bawah kaki kami.

Aku memaksakan diri berdiri. Kursi kayuku berdecit nyaring saat terdorong ke belakang, membuatku semakin menjadi pusat perhatian.

“Wah, Bu… makasih banyak. Jadi nggak enak saya.”

“Lho, kenapa nggak enak? Harus dimakan dong.” Tika menatapku lekat-lekat. Matanya menyapu wajahku, seolah sedang mencari retakan di topengku.

“Mas Zar sering cerita soal kamu akhir-akhir ini,” ujar Tika. Suaranya pelan, tapi gema ruangan tua itu membuatnya terdengar jelas sampai ke meja ujung. “Katanya dia takut kehilangan partner debat kalau kamu sakit.”

Darahku berhenti mengalir.

Partner debat.

Frasa itu lagi. Frasa rahasia kami. Kunci masuk ke dunia Zarimuddin yang selama ini kubanggakan, kini dipegang oleh Tika dan diputar-putar di depan wajahku. Dia tahu. Dia tahu semuanya. Dan dia menggunakan frasa itu untuk memberitahuku bahwa tidak ada yang rahasia di antara mereka.

“Jadi dimakan ya, Mbak,” lanjut Tika riang. “Biar kuat debatnya.”

Tika menepuk bahuku pelan. Dua kali.

Puk. Puk.

Sentuhan itu seringan kapas, tapi rasanya seperti stempel panas di kulitku. Itu bukan sentuhan kasih sayang. Itu adalah sentuhan pemilik rumah kepada tamu yang tidak tahu diri.

Lalu wanita itu berjalan santai menuju ruangan kaca Zarimuddin di ujung aula—bekas ruangan administratur Belanda yang kini jadi kandang Kepala Bidang.

“Wah, gila. Rendang Bu Tika emang juara.”

Suara pujian rekan-rekan kerjaku terdengar berdengung saat jam makan siang. Aroma rempah rendang memenuhi seluruh ruangan, membuat perut keroncongan, tapi nafsu makanku sudah mati total.

Aku duduk sendirian di mejaku, menatap kotak Tupperware yang terbuka. Daging rendang itu berwarna cokelat pekat, berminyak, terlihat sangat lezat.

Di ujung ruangan, dari balik kaca besar ruangan Kepala Bidang, aku bisa melihat pemandangan itu dengan jelas. Seperti menonton film bisu.

Zarimuddin duduk di kursi kerjanya. Tika duduk di tepi meja, menyendokkan nasi dan rendang ke piring suaminya. Tidak ada gestur Kabid yang Karismatik di sana. Zarimuddin terlihat kerdil. Bahunya merosot. Dia menerima suapan itu tanpa bantahan.

Yang kulihat di sana bukan kemesraan. Yang kulihat adalah seorang suami yang sedang ditertibkan. Seorang laki-laki yang sedang diingatkan siapa pemilik rantainya.

Aku menyuapkan sesendok rendang ke mulutku. Dagingnya empuk, bumbunya meresap sempurna sampai ke serat. Masakan seorang istri yang memegang kendali penuh atas dapurnya, dan atas suaminya.

Tapi saat aku mencoba menelannya, tenggorokanku menolak. Otot kerongkonganku mengejang, seolah tubuhku sadar aku sedang menelan harga diriku sendiri.

Glug. Glug.

Aku meneguk air botolku rakus, memaksa gumpalan daging itu turun. Rasanya pedas, tapi bukan karena cabai. Rasanya pahit.

Aku hanyalah penonton di gedung tua ini. Dan pertunjukan di ruang kaca itu adalah peringatan visual bagi semua orang: Kau bisa diganti. Kau bisa diusir. Tapi Ratu tetaplah Ratu.

Malam itu, hujan turun lagi.

Aku duduk bersila di kasur busa, memandang ponsel yang bergetar di nakas. Satu notifikasi WhatsApp.

Pak Zar (19.45): Rania, titipan pertanyaan dari Ibu Negara: Rendangnya sudah dimakan atau belum? Saya ditagih testimoni.

Aku menatap layar itu dengan tatapan kosong.

Pesan itu bukan pertanyaan basa-basi. Itu adalah bukti ketidakberdayaan. Zarimuddin bahkan tidak bisa (atau tidak berani) bertanya sendiri. Dia disuruh. Dia diperintah untuk memastikan aku memakan “peringatan” itu, dan dia patuh.

Di mana mentor yang garang mendebat Pak Pramono? Di mana laki-laki yang mengirim lagu Billy Joel dan bicara soal Marcus Aurelius?

Hilang. Digantikan oleh suami takut istri yang sedang menjalankan tugas.

Aku merasa mual. Bukan karena rendangnya, tapi karena betapa menyedihkannya laki-laki ini sekarang. Dan betapa menyedihkannya aku, yang masih saja berharap dia akan mengetik pesan lain—sesuatu yang rahasia, sesuatu yang memberontak.

Tapi tidak ada.

Aku mengetik balasan dengan jari kaku. Tidak ada lagi keinginan untuk membalas dengan manis atau cerdas.

Aku (19.46): Sudah, Pak. Enak. Terima kasih.

Send.

Aku langsung mematikan data seluler. Aku melempar ponselku ke ujung kasur, menjauhkan benda itu seolah-olah itu adalah granat aktif.

Aku tidak mau melihat apakah centang itu berubah biru. Aku tidak mau menunggu balasan stiker jempol atau basa-basi lainnya.

Aku memeluk lututku sendiri di kamar yang sunyi. Namun sialnya, aku baru sadar kalau aku belum mencuci tangan dengan benar. Aroma rendang samar-samar masih tercium dari ujung jariku. Bau rempah yang tajam dan persisten.

Seperti jejak kepemilikan Tika yang tidak mau hilang, menempel di kulitku, mengejekku bahwa aku tidak akan pernah bisa menang melawannya.

***