Novel Belitung Unscripted-5

Novel karya Syafree

cover-novel-belitung-unscripted

BAB 5: Unscipted Moments

Cermin di homestay nggak pernah bohong: gue overthinking soal outfit buat acara yang beneran bukan kencan.

Kemeja putih lengan panjang dilipat sampai siku—kasual tapi rapi. Celana kain hitam. Rambut half-up, dibiarkan tergerai. Riasan minimalis karena pencahayaan outdoor bakal lebih “memaafkan” daripada lampu kamera.

“Ini bukan buat dia,” gumamku pada pantulan diriku sendiri.

Bullshit. Benar-benar omong kosong.

Suara langkah kaki dari balik dinding. Arkan pindah dari kamar mandi ke kamar. Air mengalir—dia cuci tangan mungkin. Pintu lemari berdecit. Gemerisik kain.

Dinding di homestay ini terlalu tipis. Atau gue yang terlalu aware.

Ketukan pelan di pintu. “Kira? Siap?”

Tarik napas dalam. Pasang muka siap tempur.

Buka pintu.

Arkan berdiri di ambang, kemeja putih berkancing yang bikin dia kelihatan bukan cuma “guide santai,” tapi lebih kayak “cowok yang kamu bawa pulang ketemu orang tua.” Rambut rapi disisir ke belakang—usaha yang jelas nggak biasa dia lakukan.

Mata kami bertemu. Napasnya tertahan.

“Siap,” kataku, berharap suara nggak mengkhianati seberapa cepat jantung gue lari sekarang.

“Bagus.” Suara dia agak rendah. Dia berdeham pelan. “Cantik. Uh, maksudku—kamu kelihatan rapi.”

Smooth, Arkan.Basi banget.

Tapi sudut bibirku naik sendiri. “Makasih. Kamu juga ganteng. Uh, rapi.” Impas. Haha.

Gue lihat Arkan cuma nyengir kikuk. 

Jalan kaki ke tempat acara sepuluh menit. Cukup buat tangan kami hampir bersentuhan lima kali. Cukup buat gue hiper-aware setiap sentimeter jarak di antara kami. Gossh! Kenapa nggak pegang tangan gue aja, sih!

Lampu-lampu terlihat sebelum kami sampai di halaman—lampu menjuntai di pohon, cahayanya hangat, seperti kunang-kunang yang terperangkap di resin. Musik halus, tabuhan kompang ritmis dan mengundang.

Di sepanjang jalan menuju rumah Pak Hasan, penjual-penjual kecil sudah bersiap—stan portabel dengan pajangan sederhana tapi strategis:

Boks pendingin bertumpuk, es batu terlihat, beragam varian minuman es: pop ice, sari rasa, nutrisari, es sirup, kamu sebut saja dalam bungkus plastik “cekek”. Kerupuk ikan, udang, talas, opak bertumpuk di atas wajan portabel, minyak mendidih panas. Wadah plastik berlapis dengan kue tradisional. Bunga-bunga plastik dan untaian melati asli. Anak-anak berkerumun dengan koin tergenggam di tangan mungil.

Insting content creator langsung nyala. Lampu tumblr, penjual, kekacauan komunitas yang otentik—ini materi emas.

Ponsel di dalam tas. Berat. Ragu.

“Cantik, kan?” Arkan berbisik di sampingku, menyadari mataku menyapu sekeliling.

“Iya. Banget.” Jeda. “Arkan, boleh gue foto sedikit? Buat konten?”

“Dokumentasikan aja.” Bukan pertanyaan. Izin. Suaranya santai. “Ini kultur kami. Bagus kalau orang luar lihat. Yang asli, bukan cuma pantai.”

Dadaku mengendur. “Serius?”

“Serius. Tapi—” Dia menghentikan kami sebelum masuk keramaian, berbalik menghadapku. Ekspresinya lembut tapi tegas. “Dokumentasikan budayanya, jangan orangnya. Terutama tanpa izin. Dan kalau aku bilang cukup…”

“Cukup berarti cukup,” gue menyelesaikan kalimatnya cepat, menatap matanya lekat. “Gue ngerti. Janji.”

Sesuatu bergeser di tatapannya. Respek. Kepercayaan mulai tumbuh.

“Bagus.” Senyum kecil. “Tunjukin Belitung yang asli, Mendanau, Suak Gual. Bukan cuma versi kartu pos.”

Tangannya bersandar santai di punggung bawahku, membimbing ke depan. Tapi rasanya beda sekarang—partner yang mendukung pekerjaan, bukan mengontrol.

Ya Tuhan, pria ini.

Rekaman pertama: wide angle barisan penjual. Lampu tumblr di atas. Tanpa wajah—cuma atmosfer.

Video vertikal, slow pan. Suara sekitar—obrolan kerumunan, kerupuk ikan yang digoreng, tawa anak-anak, tabuhan kompang-hadrah dari kejauhan.

Stan minuman, es batu memantulkan cahaya. Close-up kerupuk yang digoreng—gelembung minyak slow-mo, cokelat keemasan. Materi konten makanan yang mahal.

Arkan mengawasi di dekatnya. Tenang. Menilai tapi nggak mengintimidasi.

Ponsel diturunkan setelah dua menit. “Selesai sama penjual.”

“Mau foto yang masaknya?” Arkan menawarkan, sekarang santai. “Dia oke. Aku kenal.”

Menghampiri stan bersama. “Pak, boleh foto kerupuk sebentar? Untuk promosi Belitung.”

Penjual itu menyeringai. “Boleh! Tangkap logo ini.” Menunjuk ke papan nama tulisan tangan.

Tiga jepretan: logo, proses masak, produk jadi. Efisien. Selesai.

“Terima kasih, Pak.”

“Kan, bini kau pandai!” si penjual setuju.

Arkan nggak mengoreksi “istri”. Cuma tersenyum, tangannya kembali ke punggung bawahku. Hangat. Mengklaim.

Semua orang menonton. Semua orang berasumsi.

Dia nggak bilang apa-apa.

Ponsel kembali ke tas. Adegan didokumentasikan. Sekarang—mengalaminya.

“Cukup?” dia bertanya lembut.

“Cukup,” kataku. Jujur.

Bahunya rileks. Dia tegang tadi.

“Makasih,” kataku pelan. “Udah percaya sama gue soal ini.”

Tatapan kami terkunci. “Elo bisa menghargai batasan. Itu kenapa gue percaya.”

Tempat acara utama ramai—meja-meja membentang di halaman, bangku penuh keluarga, anak-anak berlarian liar, musik menimpa obrolan.

Lampu-lampu bersilangan di atas.

Tangannya melingkari punggung bawahku saat kami masuk.

***

“ARKAN! ADE BALIK!” Pak Hasan melambai antusias. Arkan melambaikan tangan balik kepada pemilik hajat. Seorang lelaki seumuran Apak berbaju koko putih dan kopiah haji.

Kerumunan berbalik. Senyum menyebar.

“Siape ni, Kan?” Cik Ros mendekat. “Bini Arkan ke?”

Aku menunggu koreksi.

Tidak keluar.

Aku meliriknya—rahangnya mengeras sekilas. Tangan di punggungku—tekanannya terasa lebih kuat. Terasa protektif.

“Kira,” dia mengenalkan. “Dari Jakarta.”

“Ooooh. Tunangan?”

“Cik Ros, jangan—”

“Cantik! Serasi dengan Arkan!” Dia sudah bergerak, menyiarkan. “Arkan bawa bini dari Jakarta!”

Ya Tuhan.

“Maaf,” Arkan berbisik dekat telingaku. “Mereka antusias.”

“Lo nggak mengoreksi dia.”

Jeda. Tatapan dari samping. “Kamu mau aku koreksi?”

Nggak tau harus jawab apa. Jadi diam.

Umak tiba-tiba datang—menarikku ke “meja keluarga,” Arkan mengikuti, mengenalkanku ke keluarga besar yang langsung menerimaku seperti gue sudah jadi bagian dari suku ini.

Penipu. Aku penipu di tengah orang-orang tulus ini.

Tapi senyumanku otomatis.

Makanan datang silih berganti—nasi minyak wangi, opor ayam, ikan bakar bumbu kelapa, rendang kental, kuah lada pedas.

Visualnya menakjubkan.

“Mau foto?” Arkan bertanya, menyadari jedaku.

“Cuma satu foto piring aja?”

Go ahead.”

Gue tata piring—nasi di tengah, lauk diposisikan aesthetic tapi natural. Sudut bidik dari atas. Tiga klik.

“Selesai.” Ponsel langsung diturunkan.

“Secepat itu?” Alisnya terangkat.

“Gue tau apa yang gue butuhin. Sisanya buat makan.” Mengambil garpu. “Dan ini aromanya terlalu enak buat difoto-foto.”

Dia tertawa—suara yang tulus. “Better than my ex. Dia menghabiskan dua puluh menit untuk satu piring.”

Dinda.

Your ex sounds exhausting.”

“Emang.” Simpel. Final.

Kami makan. Benar-benar makan. Nggak ada ponsel di antara kami.

Anak-anak menyerang di tengah makan, mencuri Arkan ke area permainan.

“Pergi sana,” gue melambai. “Gue mau ambil foto anak-anak. Boleh?”

“Boleh. Nanti aku tanyain orang tua mereka.”

“Makasih.” Waw, dia menawarkan diri untuk urusan consent. Murah hati sekali.

Kepercayaan. Berbalas.

Lima menit anak-anak bermain—wide shots, tanpa close-up. Konteks budaya, bukan eksploitasi.

Lalu ponsel diturunkan.

Malah mengamati Arkan dengan anak-anak. Senyum tulus. Tanpa penjagaan.

Ini—dia yang seperti ini—seandainya bisa gue abadikan. Tapi beberapa momen bukan untuk kamera.

Ponsel tetap di dalam tas.

Tiba-tiba Arkan di sampingku, tangannya terulur meminta ponselku. “Biar aku yang ambil. Kamu masuk frame juga, bukan cuma jadi suara di balik kamera.”

Aku kaget. “Mau ambil apa—?”

“Video. Candid.”

Aku nggak tau apa yang dia rekam. Aku hanya meliriknya sesekali—dia terlihat fokus, kameranya bergerak mulus. Mungkin dia merekamku tertawa dengan ibu-ibu, atau mungkin suasana panggung. Aku tak bisa menebaknya.

Selesai, dia mengembalikan ponsel. Matanya lembut. “Harus adil. Setiap kreator butuh juru kamera.”

Aku mengecek hasilnya. Gambarnya stabil, mulus. Terasa nyata.

“Untuk cowok yang benci ponsel, lo mencurigakan banget.”

“Latihan di kapal kemarin.” Seringai kecil.

Aku cepat beralih ke mode selfie. “Oke, sekarang kita butuh bukti kita berdua selamat dari ini. Senyum—sekali aja, please.”

Dia mencondongkan tubuh sedikit. Kami selfie—latar belakang lampu tumblr, senyum tulus, tanpa filter.

Aku mem-postingnya ke status WA, tanpa tag: “Perayaan yang sesungguhnya. Orang-orang yang sesungguhnya.”

“Lah lama?” Nek Limah tiba-tiba di sampingku.

“Hm?”

“Kao dengan Arkan. Uda lamak ke?”

“Oh. Um. Baru—”

“Serasi. Arkan ni jarang bawak perempuan balik sini. Terakhir duluk itu Dinda. Tapi kao lain. Kao cucok kan die.”

Dinda. Yang menolaknya. Nek Limah bilang kami cocok. 

Rasa bersalah menghantamku tiba-tiba.

“Nek, kami cuma—”

“Besok kawin sini ke? Kuang pakai tenda Pak Hasan.”

Ya Allah.

“Nek, pelan-pelan,” Arkan tiba-tiba kembali, terengah. “Kamek baru kenal.”

Tapi tangannya berlama-lama di punggung bawahku. Terlalu hangat.

Nek Limah terkekeh. “Baru kenal tapi la lengket macam perangko!”

Dia berlalu.

Arkan mendesah. “Maaf.”

“Mereka beneran ngira kita pacaran.”

“Iya.”

“Dan lo tetap nggak mengoreksi mereka.”

Dia berbalik padaku. Mata serius. “Kamu mau aku koreksi?”

Itu dia. Pertanyaan itu. Lagi.

***

Musik berganti—band memainkan lagu dangdut romantis, tempo lambat. Pemuda-pemudi langsung ke area dekat panggung, mulai berjoget bebas—beberapa solo, beberapa dalam kelompok, energinya tinggi tapi seru, bukan formal.

Mataku langsung berbinar. “Oh, ini konten yang sempurna. Energinya, lampunya—”

“Ambil,” Arkan berkata simpel, mengangguk ke arah kerumunan. “Mereka nggak akan keberatan.”

Aku memosisikan diri di sudut, sedikit lebih tinggi di tangga samping panggung. Angle bagus—bisa menangkap penari, reaksi penonton, lampu tumblr di atas kepala menciptakan efek bokeh.

Ponsel diangkat, mode video horizontal. Zoom sedikit ke penari yang paling ekspresif, geser ke penonton yang bertepuk tangan, kembali ke penari. Musik menghentak, tawa menular.

Berkonsentrasi pada framingrule of thirds, garis penuntun dari lampu tumblr, memastikan—

Tiba-tiba ada kehangatan di belakangku.

Kehadiran Arkan—dekat, kokoh—dadanya hampir menyentuh bahuku.

“Angle-nya terlalu tinggi,” suara rendah, dekat telinga. “Nanti cuma kelihatan kepala doang.”

Tangannya melingkar—tidak menyentuhku, meraih ponsel.

Jari-jarinya menggenggam jariku yang memegang ponsel. Lembut tapi mantap. Menyesuaikan angle, menurunkannya sedikit.

“Gini. Lebih rendah. Biar kelihatan gerakan penuh.”

Dadanya menempel di punggungku. Tidak menekan penuh, tapi jelas terasa. Menopang. Membimbing.

Tangannya yang lain menahan sikuku. “Tahan di sini. Biar stabil.”

Napasnya hangat di telingaku.

Semuanya berhenti.

Otakku offline. Nggak bisa memproses. Nggak bisa mikir. Nggak bisa napas dengan benar.

Suaranya berlanjut, tenang, fokus pada teknik, gak sadar—atau justru sangat sadar—apa yang dia lakukan. “Lihat? Sekarang kamu dapat gerakan seluruh tubuh. Komposisinya lebih bagus.”

Yang bisa gue proses cuma: Kehangatan menjalar dari dadanya ke punggungku. Jari-jarinya di atas jariku, titik nadi kami bersentuhan. Napasnya—tenang, terkontrol—berhembus tipis di sisi leherku. Aromanya—sabun, keringat tipis, sesuatu di baliknya yang khas dia.

Musik memudar. Kerumunan menghilang. Dunia menyempit menjadi: Panas. Sentuhan. Napas. Kedekatan.

***

“Kira?” Suaranya lebih pelan. “Kamu dengar?”

Nggak bisa jawab. Tenggorokan tercekat. Jantung berdebar begitu keras, dia pasti bisa merasakannya lewat punggungku.

“Tangan kamu gemetar.” Sebuah observasi, lembut. Khawatir.

Karena napasnya tepat di sana. Tepat di telingaku. Dan tubuhnya kokoh menempel padaku. Dan semua orang yang menonton mungkin melihat kami sebagai—

“Kao peluk bini kao elok-elok, Kan!” Seseorang berteriak dari kerumunan, menggoda. Tawa meledak.

Ya Tuhan. Dari sudut pandang mereka—lengannya melingkariku, mengatur kamera—itu terlihat persis seperti pelukan dari belakang. Pose pasangan. Intim.

Arkan menegang sedikit di belakangku. Dan aku langsung sadar—dia pasti baru paham bagaimana ini terlihat dari sudut pandang orang lain.

Tapi dia tidak menjauh.

Jari-jarinya masih di atas jariku. Masih memandu angle. Masih cukup dekat sehingga setiap embusan napasnya menyapu leherku.

“Abaikan mereka,” bisiknya. Lebih dekat sekarang, jika itu mungkin. “Fokus ke rekamannya. Kamu dapat footage bagus.”

Tapi gue nggak fokus ke footage. Gue fokus pada: Cara ibu jarinya—sengaja atau tidak?—mengelus buku jariku. Cara napasnya tertahan sedikit saat gue menggeser berat badan dan punggungku menekan lebih kuat padanya. Cara suaranya menjadi lebih rendah, nyaris intim. “Bagus. Tahan. Persis kayak gitu.”

Dia nggak lagi ngomongin kamera. Nggak mungkin. Caranya bilang itu—

Video masih merekam. Penari masih bergerak. Penonton masih menonton. Tapi di dalam gelembung ini—di sudut kenduri, tubuhnya melindungiku dari pandangan penuh, ponsel jadi alasan untuk kedekatan—ini cuma kami. Panas. Keinginan. Tension begitu kental bisa dipotong pakai pisau.

“Kira.” Namaku. Nyaris berbisik. Sebuah pertanyaan tersirat dalam nadanya.

Memalingkan kepala sedikit. Kesalahan. Kesalahan besar.

Wajahnya tepat di sana. Berjarak sentimeter. Bisa melihat bulu matanya satu per satu. Denyut di lehernya. Bahkan hidungku hanya berjarak beberapa milimeter dari bibirnya. Bibir sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu—

“SATU LAGI! SATU LAGI!” Penonton bersorak meminta encore, musik berhenti mendadak.

Mantra itu pecah.

Arkan melangkah mundur—pelan, enggan. Tangannya meninggalkan tanganku, panas tubuhnya menghilang, udara dingin langsung masuk menggantikan kehangatan tadi.

Ponsel masih di tanganku. Video masih merekam. Gemetar begitu hebat, footage-nya mungkin nggak bisa dipakai.

Berhenti merekam. Tangan gemetar.

Berbalik. Dia berdiri di sana, mundur setengah langkah, napasnya sedikit lebih berat dari biasanya. Mata gelap. Intens.

Shot-nya bagus?” Suaranya serak.

Nggak bisa merangkai kata. Mengangguk.

“Bagus.” Menelan ludah dengan susah payah. “Aku… aku ambilin minum. Air kelapa?”

Mengangguk lagi. Bisu.

Dia berjalan pergi. Cepat. Seperti butuh jarak. … Dan melihat caranya Arkan praktis kabur tadi? Dia pasti merasakannya juga.

Aku bersandar ke dinding, kaki tiba-tiba terasa lemas.

Mengecek footage. Goyah di awal, lalu stabil saat tangannya membimbingku, lalu goyah lagi di akhir.

Hampir bisa terlihat—di pola guncangan itu—detik di mana napasnya mengenai leherku dan otakku korslet.

Dari meja keluarga, Apak mengamati. Sunyi. Penuh pikiran.

Dia melihat. Semuanya. Seluruh momen “pelukan-membimbing” tadi.

Ekspresinya gak terbaca. Tapi sesuatu di matanya—tahu. Menilai.

Aku yakin Apak tau ada chemistry. Dan AKU YAKIN beliau juga tau ada yang gak beres.

Umak menyenggolnya, membisikkan sesuatu, terkikik. Apak gak tertawa. Hanya mengamati.

Aku memasukkan ponsel. Tangan masih gemetar.

Itu bukan bimbingan kamera. Itu—

Nggak tau itu apa. Tapi jelas bukan cuma bantuan teknis.

Lebih banyak makanan. Lebih banyak tawa. Tsunami komentar dari ibu-ibu tentang “pasangan serasi” dan “kapan nikah.”

Arkan memerah, senang tapi juga sedikit kewalahan.

Aku cuma senyum, mengangguk, mainkan peran. Rasa bersalah menumpuk di setiap asumsi.

***

Jalan pulang hening kemudian. Jauh lebih larut. Penjual berkemas. Anak-anak meneriakkan selamat tinggal terakhir.

Penjual melambai saat kami lewat. “Kan! Istri kau baik!”

Satu lagi acungan jempol. “Jaga elok-elok!”

Penjual menawarkan melati—gratis. “Untuk istri.”

Arkan menerimanya, memberikannya padaku. Aroma melati yang manis, nyaris menyengat.

“Mereka beneran suka kamu,” bisiknya saat kami melewati penjual terakhir, kegelapan menelan kami di luar jangkauan lampu tumblr.

“Mereka kira gue milikmu.”

Jeda. Langkah kaki melambat di jalan tanah. “Apa itu… hal yang buruk?”

Ketiga kalinya malam ini. Pertanyaan itu.

Para penjual memudar. Hanya kami dan udara malam dan pertanyaan yang menggantung berat dengan beban hal-hal yang tak terucap.

Nggak bisa menghindar lagi.

“Arkan.” Suara sedikit gemetar. “Gue harus bilang sesuatu.”

Berhenti. Berbalik. Perhatian penuh. Rentan. Terbuka.

“Oke.”

Tarik napas. Kebenaran ada di sana, di ujung lidah—

“KAKAK KIRA!”

Umak berjalan cepat menyusul kami. Kedua tangannya menangkup piring dengan tutup serbet.

“Ini, untuk malam kini. Sebelum tiduk, makan kan abang ye.” Beragam kue basah: lapis lima warna, dodol ketan, bolu, roti goreng, roti… burung? Tersusun rapi ketika Umak membuka tudung serbetnya.

Aku menerima piring itu tegang. “Makasih, Mak.”

“Lah balik lah. Ati-ati gelap jalan.” Umak berlalu kembali ke tempat Pak Hasan.

“Makase Mak… ” Arkan menyambung. Sekilas gue melihat Umak melambaikan tangannya tanpa menoleh.

Tension-nya pecah ke arah yang salah.

Saat Umak menghilang, momennya hilang. Menguap.

Homestay terlihat di depan. Pintu kami. Berjarak dua meter yang terasa seperti kilometer.

“Apa yang mau kamu bilang?” Dia mencoba lagi, penuh harap.

Gue kecut. Pengecut.

“Cuma… makasih. Buat malam ini. Udah percaya sama gue soal komunitas lo, kultur lo. Dengan—” Gerakan tangan tak berdaya. “Semua ini.”

Kekecewaan terlihat. Tipis tapi ada. “Yeah. Tentu. Kamu bersikap hormat. Aku menghargainya.”

Formal. Jauh. Dindingnya naik lagi sedikit.

“Selamat malam, Kira.”

“Malam.”

Pintu tertutup. Dinding tipis di antara kami.

Nggak bisa tidur.

Mendengar dia bergerak di sebelah—gelisah.

Langkah kaki. Tempat tidur berdecit. Desahan terdengar.

Kelelahan bukan cuma fisik. Ini beban dari “Serasi!” Beban dari tatapan Apak yang penuh selidik. Beban dari pertanyaan Arkan—ditanyakan tiga kali dengan harapan yang terus bertambah.

Beban dari tubuhnya yang menempel di punggungku, napas di telingaku, jari-jarinya di atas jariku.

Beban dia yang memercayaiku sepenuhnya malam ini. Membiarkanku mendokumentasikan. Menetapkan batasan dengan hormat dan keyakinan gue akan mematuhinya.

Dan kenyataan bahwa gue masih berbohong soal alasan sebenarnya gue di sini.

Tubuhku bergerak sebelum otak menyusul. Pelipis menekan dinding yang dingin—bukan bersandar, menyerah. Membiarkan plester menahan beban yang tak bisa ditanggung kepala sendirian.

Tangan terangkat. Telapak tangan rata. Jari-jari terentang.

Melalui dinding: gerakan.

Langkah kaki mendekat. Lembut tapi getarannya merambat lewat lantai, lewat dinding.

Napas tertahan. Telinga menekan lebih keras ke permukaan.

Gemerisik kain. Lebih dekat. Lebih dekat.

Lalu: telapak tangan bergeser di plester. Sisi dia. Tempat yang sama.

Aku bisa merasakannya. Getaran melalui dinding, melalui tangan, ke tulangku.

Dia tepat di sana. Tepat di sana. Aku bisa merasakan getaran telapak tangannya di sisi lain dinding, di tempat yang sama. Apakah kepalanya juga bersandar di sana, sama sepertiku? Dipisahkan oleh delapan inci belas kasihan.

Jika dinding itu gak ada—

Tapi dinding itu ada. Dan mungkin itu sebuah kebaikan. Karena jika pintu terbuka sekarang, jika tiga langkah dan mengetuk—

Aku harus memberitahunya segalanya.

Atau gue akan menciumnya tanpa memberitahu.

Nggak tau mana yang lebih buruk.

Besok. Besok gue bilang.

Malam ini… cuma ini. Cuma kedekatan. Cuma kesadaran yang menyakitkan tentang dia yang ada di sana, begitu dekat, menginginkan hal yang sama.

Kehadirannya berdengung menembus plester seperti arus listrik, denyut dari sesuatu yang tak terhindarkan dan menguetkan dan diinginkan, meskipun gue tahu ini akan menyakitkan.

Detik meregang. Menit. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bicara.

Hanya bernapas. Hanya merasa. Hanya merindu.

Akhirnya—desahan pelan dari sisinya. Langkah kaki mundur. Tempat tidur berdecit menahan beban.

Tangan meluncur menuruni dinding. Pelan. Enggan.

Dahi masih menempel di permukaan yang dingin.

“Besok,” bisikku pada kegelapan. Janji atau ancaman, nggak tau. “Besok gue bilang.”

Di sisi lain dinding, tanpa gue tau, dia melakukan hal yang sama. Kepala ke plester. Tangan rata di penghalang yang mustahil. Mata terpejam. Bernapas teratur, sengaja.

Sedekat itu. Sejauh itu.

Tangan masih di dinding. Dingin sekarang. Kehangatannya sudah hilang. Aku menarik napas panjang, buka mata. Kamar masih gelap, cuma cahaya bulan dari jendela kecil. Mendengar Arkan bergerak di sebelah—langkah kaki ke tempat tidur, spring bed berdecit, lalu hening. Hening yang gelisah.

Aku yakin dia juga belum tidur.

Kuseret tubuh ke tempat tidur, duduk di tepi. Laptop di atas meja kecil masih ada footage hari ini yang belum di-review. Manajer pasti nanya progres besok pagi.

Buka laptop. Cahaya layar menyilaukan di kegelapan.

Notifikasi Inbox: Mbak Tina: “SUBJEK: PENTING: Deadline Dek Investor Dimajukan”

“Kir, update cepat. Presentasi investor dimajukan—Minggu ke-3 jadi deadline keras. PRIORITAS TERTINGGI: (1) Gugusan Pulau Lima (gugusan tak berpenghuni = potensi resor murni) (2) Aik Lembong (inisiatif komunitas ‘belum profesional’ = dasar pitch ‘peningkatan kemitraan’) Butuh footage ini SEGERA. Beri tag GPS SEMUA. Pemetaan database penting. P.S. Footage kenduri dan homestay kemarin diterima—catatan bagus, investor suka narasi ‘kohesi komunitas’ & ‘tepi pantai yang belum berkembang’.”

Mataku membeku. Gugusan Pulau Lima. Pulau yang Arkan bilang dilindungi. “Jangan diganggu,” katanya. Mangrove. Proyek POKDARWIS yang dia ceritakan dengan bangga.

Dan P.S. itu… ‘Kohesi komunitas’. ‘Tepi pantai yang belum berkembang’.

Jadi, rekaman tulus dari kenduri tadi malam… tawa anak-anak, penjual, kehangatan Umak… di mata investor hanyalah “bukti kesiapan lokal untuk investasi skala besar.”

Tanganku menutup laptop pelan. Gemetar. Ini bukan dokumentasi. Ini prospektus.

Ponsel di sebelah laptop. Aku seharusnya jujur pada Arkan. Tapi aku tahu apa yang akan dia katakan. Dia akan bilang tidak. Dia akan bicara soal hukum konservasi, soal hak komunitas, soal rasa hormat.

Semua valid. Semua benar. Dan gue akan kehilangan rekamannya.

Mbak Tina bilang PRIORITAS TINGGI. Bayaran tiga bulan sewa apartemenku bergantung pada ini.

Tapi kalau gue gak tanya… kalau gue… membingkainya secara berbeda? “Arkan, bisa kita lihat Pulau Lima dari jauh? Cuma film dari perahu. Konten alam Belitung yang indah.”

Dia akan percaya. Dia akan percaya kebohongan itu. Karena dia percaya padaku.

Mataku beralih ke dinding. Tangan kami tadi di sana. Kedekatan itu. Kepercayaan itu.

Dia membiarkanku mendokumentasikan kenduri—budayanya, komunitasnya—dengan keyakinan penuh aku akan menghormatinya. Dan besok, aku akan mempersenjatai kepercayaan itu untuk mendapatkan rekaman yang gak akan pernah dia setujui jika dia tahu agenda sebenarnya.

Pilihanku jelas: jujur dan kehilangan segalanya, atau berbohong dan mendapatkan rekamannya.

Atau… gue gak perlu bilang apa-apa. Ambil rekamannya. Kirim ke Mbak Tina. Semua menang. Arkan gak pernah tahu. Komunitas dapat visibilitas. Investor bawa pembangunan. Aku dibayar.

Win-win. Kecuali ini bukan win-win. Aku tahu itu. Ini eksploitasi yang dibungkus kemitraan. Dan aku memilih untuk berpartisipasi.

Aku mengambil ponsel. Membuka chat dengan Mbak Tina. Jemariku mengetik balasan:

Aku: “Ngerti. Pulau Lima + Aik Lembong besok. Dengan tag GPS. Akan gue kirim.”

Kirim. Tutup ponsel. Tutup laptop. Kutatap langit-langit yang gelap.

“Besok,” bisikku pada kegelapan. “Besok gue ngomong.”

Mungkin.

**Penasaran kelanjutannya?** Kisah Kirana di Belitung makin memanas! Akankah dia survive dari perasaannya sendiri terhadap Arkan? Baca naskah utuhnya (23 Bab) sekarang juga melalui Karya Karsa Syafree