Novel Belitung Unscripted-4

Novel karya Syafree

cover-novel-belitung-unscripted

Bab 4: Home & Belonging

Jam lima pagi, alarm gue bunyi dan gue bangun seperti disetrum. Kaget.

Hotel Tanjungpandan yang masih pekat gelap. 

Gue raih ponsel dengan mata setengah terbuka, layar menyala menyilaukan—notifikasi Instagram, email sponsor, reminder untuk bikin story. Rutinitas digital yang biasa.

Tapi pagi ini ada yang berbeda.

Hari ini kita akan ke Mendanau. Pulau kecil di lepas pantai Belitung yang bahkan Google Maps cuma nampilin detail minim. Tempat Arkan dibesarkan. Tempat yang selama ini dia hindari dalam obrolan, selalu pindah topik dengan senyum dan defleksi halus.

Gue bangun, mandi cepat, packing ulang dua koper—gear kamera, baju ganti, charger, skincare. Semua perlengkapan standar content creator. Tapi untuk pertama kalinya minggu ini, gue literally gugup. Bukan karena konten. Bukan karena sponsor. Karena gue bakal ketemu keluarga Arkan.

Dan entah kenapa, itu terasa… penting.

Arkan tiba tepat jam enam, pickup-nya idle di parkiran hotel. Dia turun, bantu angkat koper ke bagasi tanpa banyak bicara—gerakan orang yang sudah terbiasa dengan rutinitas. Gue naik ke kursi penumpang, pintu tertutup, AC menyala pelan melawan udara pagi yang lembab dan dingin.

“Siap?” tanya Arkan, tangan di gearshift. Gue mengangguk. “Siap.” Tapi gue bohong. Gue nggak siap. Sama sekali tidak.

Kami keluar dari Tanjungpandan menuju Kecamatan Badau, rute ke Pelabuhan Pegantungan. Jalan raya pagi masih sepi—hanya beberapa motor dan truk lewat. Di sebelah kanan, sesekali gue lihat pantai, cahaya mentari pagi mulai menyinari permukaan air. Di sebelah kiri, rumah-rumah penduduk mulai bangun—ada yang nyapu halaman dengan sapu lidi, ada warung yang buka jendela, anak sekolah jalan kaki pakai tas punggung. Biasa. Kampung. Nyata.

Gue ambil ponsel, rekam lewat jendela. Bukan untuk Instagram. Cuma… untuk diri sendiri. Untuk inget kayak apa Belitung terlihat saat nggak lagi dipoles untuk konten.

“You’re always recording,” kata Arkan. Bukan kritik. Observasi. Gue turunkan ponsel. 

“Reflex.”

“I know.” Jeda. “But… sometimes you could just… be here. Without capturing everything, you know?” Gue diam. Ada benarnya. Kapan terakhir gue cuma… hadir? Tanpa lensa, tanpa frame, tanpa audience? 

“Later,” kata gue pelan. “I’ll try later.” Arkan melirik sebentar, senyum tipis. 

“Oke.”

Kami terus berkendara, hening yang nyaman. Gue perhatikan Arkan—cara dia pegang setir, rahang yang sedikit tegang, mata yang fokus ke jalan tapi kayak pikirannya di tempat lain.

“Nervous?” tanya gue. 

“Hm?” 

“You look nervous.”

Arkan diam sebentar. Lalu, “Iya. Sedikit.” 

“Why? Kan pulang ke rumah.” 

“Makanya.” Dia ganti gigi, melambat. “Udah enam bulan aku nggak balik.” Gue dengar beban dalam hening itu. 

“Umak pasti kangen.”

“Iya. Dan dia nggak akan ngomong.” Jeda. “Itu bagian terberatnya. Umak nggak pernah ngeluh. Nggak pernah nyalahin aku ninggalin dia. Cuma… nyambut aku balik setiap kali kayak nggak ada yang terjadi.” Dia tertawa pahit. “Yang justru bikin rasa bersalahnya makin berat.”

Gue paham. Rasa bersalah orang yang dimaafkan tanpa diminta. Rasa bersalah yang nggak ada lawannya. “She’s probably really happy you’re back,” kata gue. 

“Mungkin.” 

Jeda. 

“Semoga.”

Hening lagi. Tapi kali ini berisi. “Kira…” 

“Hm?” 

“Kalau… kalau nanti di sana mereka assuming sesuatu. Tentang kita. Jangan kaget.”

Jantung gue loncat. “Assuming what?” Rahang Arkan mengeras. 

“Kalau kita bersama. Orang kampung… mereka lihat cowok bawa cewek pulang, langsung kesimpulan.”

“Oh.” 

“Iya.” 

Jeda. 

“So… are we?” Gue tanya, suara lebih kecil dari yang direncanakan. “Together?”

Tangan Arkan mengencang di setir. Mata masih ke jalan. Dia buka mulut— Klakson dari truk di belakang. Kami hampir miss belokan ke Pegantungan. Arkan belok cepat. Momen hilang. Gue menatap jendela, jantung berdebar. 

Gue hampir tanya. Gue hampir dapat jawaban. Hampir. 

Shit.


Pelabuhan Penyeberangan Ferry Pegantungan ini kecil, tapi ramai dengan aktivitas pagi—kapal feri KMP Putri Leanpuri sudah standby, ramp turun, kendaraan mulai boarding. Arkan antri, ikuti instruksi petugas, jalankan pickup naik ke dek kapal. 

Bunyi logam beradu memekakkan telinga, bau diesel dan laut bercampur di udara, mesin gemuruh di bawah kaki.

“Mau stay di mobil atau naik?” tanya Arkan setelah parkir. Gue lihat sekeliling—beberapa penumpang lain naik ke dek atas, area terbuka. 

“I want to go up. See the view.” Arkan ngangguk. 

“Oke. Ambil jaket—angin kencang di atas.”

Kami naik tangga logam ke dek penumpang. Area duduk outdoor dengan kursi besi dengan tempat duduk kayu yang warnanya sudah pudar sepanjang railing, atap terbuka, view laut tiga ratus enam puluh derajat, hampir. 

Udara segar, agak dingin, bau garam menyengat. Beberapa ibu-ibu duduk di pojok, turis asing dengan backpack besar, pekerja lokal dengan cooler ikan di sepeda motor mereka di bawah.

Arkan pilih spot di railing, agak terpisah dari yang lain. Gue duduk, dia duduk sebelah—dekat, tapi tidak menyentuh. Jarak kecil di antara kami yang entah kenapa terasa besar. Klakson feri meledak. 

Kapal mulai bergerak, pelan, steady. Daratan Belitung perlahan mengecil di belakang.

“Sixty minutes,” kata Arkan. “Sampai Petaling.” Gue ngangguk. Satu jam. Satu jam untuk… apa? Bicara? Diam? Pura-pura nggak terjadi apa-apa di mobil tadi?

Gue ambil ponsel, mulai filming—laut, horizon, dek feri. Mode content creator nyala. Arkan mengamati. Dia nggak stop. Tapi ada sesuatu di matanya—bukan menghakimi. Rindu, mungkin. Kayak dia mau bilang sesuatu tapi nggak tahu caranya.

Setelah beberapa menit, Arkan bicara: “Give me your phone.” Gue kedip. 

“What?” 

“Kasih ponselnya. Aku jadi juru kamera.” 

“Arkan, you don’t have to—” 

“Aku udah ngamatin kamu kerja berhari-hari. Aku tahu yang kamu butuh.” Dia ulurkan tangan. “Trust me.” Jeda. Lalu gue serahkan.

Arkan berdiri, frame gue di railing. “Oke, terlihat natural.” 

“I don’t know how to look natural.” 

“Ya udah jangan lihat kamera. Cuma… hadir aja.”

Dia merekam. Wide shot, gue dengan laut di belakang. Close up, angin di rambut gue. Candid, gue selipkan rambut di belakang telinga, senyum setengah tanpa sadar. “Now look at me,” dia instruksi, suara lembut. Gue melakukannya. Kontak mata lewat lensa. Napas Arkan tertahan. Dia turunkan ponsel.

“That’s… really good footage,” katanya, suara serak. Gue mendekat, review klip. 

“Wait. This is actually… really good. How did you—” 

“Aku perhatiin,” kata Arkan sederhana.

Wajah kami dekat, layar di antara kami. “Watch what?” 

“Kamu.”

Hening. Deru mesin feri. Suara burung camar. Jantung gue berdegup kencang. “Arkan—” 

“Lihat.” Dia tunjuk. “Mendanau.”

Pulau terlihat di kejauhan—hijau, kecil, belum berkembang. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada infrastruktur terlihat dari sini. Cuma… tenang. Arkan menatapnya. Tubuh tegang. “You okay?” tanya gue. 

“Iya. Cuma… udah lama.”

Dia raih, ambil tangan gue. Remas. Gue tidak melepas. Kami duduk begitu—tangan tergenggam, laut antara dua pulau, kata-kata tak terucap tapi terasa—sampai pengumuman feri berbunyi overhead.

“Preparing to dock. Return to your vehicles.” Realita kembali menyeruak. Kami berdiri, tangan terlepas enggan. “Ready?” dia tanya. Gue lihat pulau yang mendekat. 

“As ready as I’ll ever be.”


Kami turun tangga bersama, kembali ke pickup, kembali ke peran—guide dan klien—tapi ada yang bergeser tadi di dek atas. Sesuatu yang belum bisa kami namakan. Feri sandar. Ramp turun. Mendanau di depan.

Jalan dari Petaling ke Suak Gual sempit—aspal mulus tapi cuma muat satu mobil. Kalau ada kendaraan dari arah depan, salah satu harus menepi dulu baru bisa lewat. Pepohonan rapat di kiri-kanan, sesekali terbuka ke pemandangan rumah kayu tradisional, ayam bebas berkeliaran, jemuran baju tertiup angin. Anak kecil main di halaman, lambaikan tangan ke pickup. Arkan balas lambaian. 

Sepi. Tenang. Apa adanya.

Dada gue sesak. Ini bukan Belitung yang gue foto kemarin—pantai biru, batu granit dramatis, kafe Instagrammable. Ini Mendanau. Pulau kecil yang masih struggle dengan koneksi internet, dengan kesempatan ekonomi terbatas, dengan infrastruktur seadanya. Tempat yang Arkan tinggalkan.

Gue lirik ke Arkan. Tangannya kencang di setir, rahang kaku. Pulang bukan kemenangan buat dia. Pulang adalah konfrontasi dengan rasa bersalah. 

“It’s beautiful,” kata gue pelan. Arkan sekilas melirik, kaget. 

“You think so?” 

“Yeah. Really.” 

Jeda. Ekspresinya melembut sedikit. “Makasih.”

Kami sampai ke yang sepertinya pusat desa—dan gue nggak siap untuk apa yang gue lihat. Warna. Rumah-rumah di sepanjang area pelabuhan dicat warna-warni—biru langit, kuning cerah, hijau mint, pink coral, oranye terakota. 

Bukan acak. Terkoordinasi. Estetik. Dinding bersih, atap rapi, jalan depan rumah tersapu. Di beberapa dinding, ada mural sederhana—perahu, ikan, ombak.

“Kampung Nelayan Maju,” kata Arkan, ikuti pandangan gue. “Program Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mereka bantu cat ulang, perbaiki infrastruktur dasar. Jadi kampung nelayan lebih… layak. Dan ya, lebih photogenic.”

Gue blink. Ini unexpected. Gue pikir Mendanau, Suak Gual maksudku, bakal full rustic, untouched, monokrom kampung terpencil. Tapi ini… “This is beautiful,” katanya, pelan. 

“Iya. Surprising, kan?” Arkan senyum kecil. “Bukan semua pembangunan itu buruk. Kadang program pemerintah beneran bantu. Warga proud sama kampung mereka sekarang. Turis kadang mampir cuma buat foto rumah-rumah ini.”

Gue menatap lagi—anak-anak main sepak bola di lapangan terbuka dengan gawang dadakan, orang tua duduk di bangku depan rumah biru terang, ibu-ibu ngobrol di teras rumah pink. Hidup berlangsung di antara warna-warna cerah.

Ada sesuatu yang shift di kepala gue. Selama ini, konten “authentic” dalam mindset gue selalu tentang menunjukkan struggle—rumah kusam, jalan rusak, semacam poverty porn yang di-glorify sebagai “raw” dan “real.” 

Tapi apa yang salah dengan kampung nelayan yang dicat warna-warni? Apa yang salah dengan infrastruktur yang diperbaiki? Kenapa “authentic” harus selalu berarti “suffering”? 

Suak Gual masih tepat Suak Gual—masih rural, masih sederhana, masih struggling dengan pilihan ekonomi terbatas. Tapi warganya deserve tinggal di rumah yang cantik. 

Deserve jalan yang bersih. Deserve merasa bangga dengan kampung mereka. Authentic bukan tentang menolak kemajuan. 

Authentic tentang tetap jadi diri sendiri sambil berkembang.

Dada gue sesak—bukan karena sedih. Karena… realisasi. I’ve been getting it wrong. “Thanks,” kata gue tiba-tiba. Arkan melirik. 

“Untuk apa?” 

“For bringing me here.” 

Dia senyum. Lembut. Suara rendah: “Belum selesai tur-nya.”

Arkan pelankan laju pikap. Belok ke jalan lebih kecil. Dan gue lihat—perempuan lagi nyapu di luar bangunan kecil, lihat pickup, langsung berbinar. “ARKAN BALIK!” Keras. Antusias. Nol chill. Arkan lambaikan tangan balik, setengah senyum. 

“Selamat pagi, Nek!” 

“Siape tu sama kau?!” Nek Limah–namanya Arkan kasih tau pelan–teriak, nunjuk gue.

Arkan nggak berhenti jawab, terus nyetir. “Nek Limah. Dia petugas kebersihan homestay—tempat kita nginep nanti. Nenek gue, ibunya Apak. Generasi ketiga Hokkien dari Kepulauan Cina Selatan.” 

“She’s really… energetic,” kata gue ketawa. 

“Selalu.” Arkan menunjuk bangunan homestay. “Bongkar barang. Istirahat. Siang nanti ke Umak.”

Arkan belok lagi, masuk ke jalan sempit, berhenti di depan rumah kayu panggung—arsitektur Melayu tradisional, tiang, atap seng, teras kecil. Sederhana tapi terawat. Bunga dalam pot, halaman bersih, suara kokok ayam dari belakang. Ini dia. Rumah Arkan.

Dia parkir. Matikan mesin. Hening. “Ready?” dia tanya, tapi dia yang kelihatan belum siap. 

“Yeah,” gue bohong.

Kami turun. Pintu rumah terbuka sebelum kami sampai teras. Seorang perempuan keluar—awal lima puluhan, jilbab, wajah hangat berlapis garis dari tahun-tahun senyuman dan sinar matahari. Dia lihat Arkan dan seluruh wajahnya berubah—senang, lega, cinta. “Arkan!” 

“Umak.”

Dia turun tangga, tangan terbuka, tarik Arkan ke pelukan—erat, keibuan, tanpa syarat. Arkan tegang dulu, lalu meleleh, wajah tertanam di bahu Umak. Dia tepuk punggungnya, gumam sesuatu dalam Melayu—mungkin “Kamu pulang, kamu baik-baik, umak rindu.”

Gue berdiri canggung di pinggir, nggak mau mengganggu. Ini momen mereka.

Umak lepas Arkan, pegang wajahnya, memeriksa. “Kurus. Kau makan betul ke di kota?” 

“Makan, Umak. Jangan risau.” 

“Risau lah. Umak ni risau kan mikak.” Dia tepuk pipinya. Lalu matanya beralih ke gue. Kehangatan instan. Tanpa ragu. Tanpa menghakimi. Cuma sambutan terbuka.

“Assalamualaikum,” Umak kata, mendekat dengan tangan sudah terentang. “Selamat datang.” 

“Wa’alaikumsalam,” gue balas, kaget saat Umak tarik gue ke pelukan juga. Kapan terakhir ada yang meluk gue tanpa agenda? Tanpa energi transaksional? Kapan terakhir sentuhan fisik terasa murni baik? 

Tenggorokan gue sesak.

“Masuk, masuk,” Umak memberi isyarat. “Kakak pasti capek. Jauh dari Jakarta.” 

Kakak. Dia langsung panggil gue Kakak.

Di dalam, rumah kecil tapi nyaman. Denah terbuka—area living dengan meja rendah, bantal lantai, tikar gulung di pojok. Area dapur terlihat dari ruang tamu, bau masakan—sesuatu dengan santan, rempah, kenyamanan. Dinding dihias sederhana—foto keluarga, kaligrafi Quran, kalender lama.

Seorang pria tua duduk di pojok, memperbaiki jaring ikan. Dia mendongak—wajah keriput, mata tenang, menilai. Apak. “Apak, ni Kira. Dari Jakarta. Kerja sama Arkan,” Umak memperkenalkan. Apak ngangguk. 

“Selamat datang.” Cuma dua kata. Tapi matanya baik. 

“Terima kasih, Pak,” kata gue, mengangguk hormat. Apak kembali ke jaringnya, tapi gue tangkap senyum kecil.

“Duduk, duduk,” Umak mendesak, tepuk bantal di sekitar meja. “Umak buatkan teh. Kau pasti lapar.” 

“Umak, nggak usah repot—” Arkan mulai. 

“Repot apa? Kau anak Umak. Dia tamu Umak. Diam dan duduk.” Arkan tukar pandang dengan gue—pandangan “nggak ada gunanya melawan Umak”. Kami duduk.

Umak bergerak cepat ke dapur, panaskan air, siapkan cangkir. Gue perhatikan segalanya—kesederhanaan, kebersihan, cinta yang dituangkan ke detail kecil. Taplak meja dijahit tangan. Bantal usang tapi ditambal hati-hati. Ini rumah yang dijaga dengan kebanggaan meski sumber daya terbatas.

Umak bawa teh—manis, hangat, beraroma daun pandan. Taruh cangkir. “Maaf ye, Umak ndak dapat lamak ngawanek—nak nulong persiapan kundangan isok. Kawin anak Pak Hasan.”

Arkan ngangguk, paham. “Umak sibuk. Kita check in homestay dulu.”

“Iye, iye. Homestay Nek Limah jaga—belau la nunggu mikak. Ke sanak la, uda itu kini makan siang de sinek ye? Umak masak cepat sebelum pergi bantu.” 

“Janji.”

Umak remas tangan gue. “Rumah ni rumah kau juga, Kakak.” Ada yang meleleh di dada gue. Rumah kau juga. Rumah kamu juga.

Kami habiskan teh cepat. Apak tangkap mata gue, ngangguk sekali. Persetujuan, tenang tapi jelas. “Pergi lah,” kata Umak, sudah kumpulkan barang-barang untuk bantu kenduri. “Nanti siang jumpa.”


Homestay tak jauh dari rumah Umak—bangunan kecil, dua kamar, sederhana. Nek Limah melambai dari teras. “ARKAN! Lamak tak balik! Siape itu?” Dia tunjuk gue, tanpa malu. 

“Ni Kira, Nek. Dari Jakarta. Buat konten.” Arkan menyodorkan tangan, mencium keriput tangan neneknya. Mungkin tujuh puluh, masih terlihat kuat meski sedikit bungkuk. Dan pipi kempot. Usia. 

“OOOOH! Cantik! Masuk, masuk!” Aku mengikuti Arkan, mencium tangan neneknya. Gugup. Kapan terakhir kali aku mencium tangan orang tua? Lebaran? Tahun kapan?

Nek Limah buka kunci, tunjukkan kamar cepat—dia juga sibuk bantu kenduri besok. “Ni kamar Kakak. Ni kamar Arkan. Sebelah-sebelah. Dinding tipis, kalau Kakak panggil, Arkan dengar.” Kedip. Arkan cuma diam, menahan kikuk. 

“Makasih, Nek.” 

“Kamar mandi belakang. Air panas ada. Sabun Nek taruh di dalam. Nanti siang ke Umak punya rumah makan ye? Nek pun kena pergi bantu kundangan.” Dia buru-buru pergi, energi tak terbendung.

Hening. Gue dan Arkan di lorong sempit. “She’s really… intense,” gue ketawa. 

“Selalu.” Arkan menunjuk kamar. “Bongkar barang. Istirahat. Siang nanti ke Umak.” 

“Okay.” Mata kami bertemu. Ruang sempit. Dinding triplek tipis. Arkan mundur. 

“Aku di sebelah kalau butuh apa-apa.” 

“Thanks.”

Dia menghilang ke kamarnya. Gue masuk ke kamar gue, tutup pintu, bersandar. Lewat dinding, gue dengar dia bergerak. Sedekat itu. Sejauh itu.


Rumah Umak berbau gorengan—ikan, sambal, nasi putih mengepul. Makanan sederhana, cepat karena semua buru-buru. “Makan cepat ye,” kata Umak, taruh piring. “Lepas ni Umak dan Apak kena pergi rumah Pak Hasan bantu bekemas.”

Kami makan gaya keluarga—piring-piring dioper, hening nyaman. Gue mengamati Umak bergerak efisien, Apak makan tenang, Arkan bantu beresin piring tanpa diminta. Kebersamaan domestik tanpa sandiwara. 

Ini keluarga.

Ketukan pintu. Nek Limah sodokan kepala masuk. “Aidah! Lah ke! Ros la nunggu!” 

“Iye, iye!” Umak berdiri, lap tangan. Ke Arkan: “Kau bawa Kakak Kira jalan-jalan dulu. Malam kini mika ke sanak ye?”

Arkan kedip. “Kita diundang?” 

“Kau anak Umak. Mesti lah diundang. Kakak Kira pun.” Umak senyum ke gue. “Kau akan suka. Meriah.” Apak berdiri, siap pergi. Sebelum berangkat, dia berhenti di samping Arkan, tangan di bahu. Satu kata: “Baik.” Bagus. Lalu dia pergi.

Umak peluk gue cepat. “Nanti malam.” Tiba-tiba, rumah kosong. Cuma Arkan dan gue dikelilingi piring kotor dan hening. 

“So…,” kata gue. “They’re all busy prepping the wedding.” 

“Iya.” Arkan mulai kumpulin piring. “Nanti malem pesta. Siang ini setup.” 

“And we’re… invited?” 

“Kayaknya.”

Kami cuci piring bareng—gue bilas, Arkan lap. Berdampingan di dapur kecil. Domestik. Mudah. Berbahaya. 

“What are we doing until tonight?” tanya gue. Arkan senyum. 

I know someplace.”


“I know a place,” kata Arkan setelah kami selesai cuci piring. Gue lihat ke jendela—matahari sudah lebih rendah, keemasan.

“Now?” 

“Best Time.”

Kami jalan dari rumah Umak, tanpa tujuan dibahas. Jalanan Suak Gual sepi—sebagian warga sudah di rumah Pak Hasan bantu setup kenduri nanti malam. Ayam mematuk di halaman, jemuran bergoyang, bau masakan dari jendela terbuka. Kebersamaan domestik tanpa filter.

“It’s quiet here,” kata gue. 

“Membosankan, sebagian orang bilang.” 

“Is that why you left?” Rahang Arkan mengencang. “Sebagian alasannya.”

Kami jalan dalam hening—nyaman, tapi berisi. Gue pengen nanya lebih banyak, tapi gue rasa gue belum siap.

Dermaga muncul—dermaga kayu kecil memanjang ke air dangkal, papannya yang tua solid di bawah kaki. Perahu nelayan diikat di tiang, mengayun lembut. Di sisi kiri area darat tampak sebuah perahu kayu yang belum jadi. Tumpukan bekas gergaji kayu menebal menutupi tanah. Workshop perahu. Air surut, jadi akar bakau terlihat di garis pantai—berbelit, terekspos, menciptakan labirin air dan kayu. 

“Wow.” 

Gue berhenti di pinggir dermaga, staring.

Hutan bakau membentang kiri dan kanan sepanjang pantai—kanopi hijau, akar bengkok menyelam ke lumpur, ekosistem utuh dan berkembang. Burung bersarang. Kepiting berlarian. Hidup di mana-mana.

“Apak kerja di sini,” kata Arkan, duduk di pinggir dermaga, kaki bergoyang. “All Nelayan mostly. Tapi bakau—itu sebabnya ikannya bagus.” Gue duduk di sampingnya. Dekat. Bahu hampir menyentuh. 

“How so?”

“Pembibitan.” Dia menunjuk akar yang kusut. “Ikan bayi, udang, kepiting—mereka tumbuh di sana. Terlindung. Terus pindah ke laut terbuka. Nggak ada bakau, nggak ada ikan. Matematika sederhana.”

“And the mangroves here in Mendanau…?” 

“Masih di sini. Masih sehat.” Suaranya membawa kebanggaan tenang. “Nggak kayak Belitung utama—beberapa pantai kena kerusakan dari tambang, pembangunan. Tapi Mendanau? Kecil, miskin, terlupakan.” 

Jeda. 

“Yang ternyata jadi berkah.”

Gue memproses ini. “Nobody wants to exploit it, so it stays… intact.” 

“Iya. Dan sekarang warga jaga. Bukan karena pemerintah suruh—karena mereka tahu ini yang ngasih makan mereka. Literally.” Dia lihat ke gue. “Apak bilang beberapa pohon ini lebih tua dari dia. Cuma… ada di sini. Bertahan. Nggak dramatis, nggak tumbuh cepat. Cuma… bertahan.”

Gue menatap akar berbelit, batang yang tua. “Bertahan.” 

“Iya. Kadang itu cukup. Cuma… stay. Jaga yang penting.” Dia lirik ke gue. Dia nggak cuma bicara soal pohon.

Hening. Air berombak. Suara burung camar jauh. Matahari turun ke horizon—langit berubah oranye, pink, emas. 

Magic hour

Content creator dalam diri gue seharusnya lagi filming. Tapi gue nggak raih ponsel. Cuma… hadir.

“I never felt like I had a place,“ kata gue tiba-tiba. Nggak direncanakan. Cuma… kebenaran yang nyeplos. Arkan menoleh ke gue. Menunggu.

“Jakarta, I mean. Born there, grew up there. But it always felt… temporary. Like I was performing a version of myself for everyone else. Sponsors, followers, brands. Even for my family—trying to be the daughter they could be proud of.“ 

Dia ketawa pahit. “Never enough.”

“Kira—” 

“But here…” Gue lihat sekeliling—bakau, desa, dermaga sederhana. “I don’t know. Feels different. Real, maybe. Or maybe I’m just romanticizing because it’s new.”

“Kamu nggak.” Dia tatap mata gue. Dia dekat. Beneran dekat. “Kamu belong di sini,” kata Arkan, suara rendah. Serius. “Sama—sama kita. Komunitas. Umak. Apak.” Jeda. “Aku.”

Napas gue tertahan. “Arkan…” Dia condong lebih dekat. Gue juga. Jarak menyempit. Matanya turun ke bibir gue. Mata gue ke bibirnya. It’s happening.

“ABANG ARKAN! KAKAK KIRA!” Kami tersentak terpisah. Anak kecil—mungkin tujuh tahun, berlari menuruni jalan—melambai frantic. “UMAK BILANG DATANG! ADA KUEH!”

Gue ketawa, napas memburu. Frustasi. Lega. Ketakutan. Arkan usap rambutnya. “Timing.” 

“Yeah.”

Kami berdiri. Momen hancur. Tapi residunya masih ada—listrik, belum terselesaikan. Anak sampai ke kami, terengah. “Umak tunggu! Cepat!”

Arkan ke gue, pelan: “Kita harus…” 

“Yeah.” Kami jalan balik, anak kecil itu berlari duluan. Nggak ada yang nyebut hampir-ciuman. Tapi tangan bersentuhan dua kali. Nggak sengaja-sengaja.

Di tengah jalan balik, Arkan berhenti. “Malem ini. Kenduri.” 

“Yeah?” 

“Itu bakal… ramai. Banyak orang. Semua orang bakal ada. Dan mereka bakal—” Dia ragu. “Mereka bakal assuming hal-hal. Tentang kita.”

Jantung gue berdebar. “What do I…?” Dia lihat ke gue. Mata jujur. Rentan. 

“Cuma jadi diri kamu. Itu yang aku mau.”

Dan entah kenapa, itu lebih menakutkan dari performance apa pun yang pernah gue lakukan.


Kami sampai di rumah Umak—kueh tersebar di meja, Umak buru-buru, Apak kumpulin peralatan untuk pergi bantu-bantu di rumah orang kondangan. “Makan cepat!” kata Umak. “Uda ini mikak rehat. Malam kundangan!” Umak cuma balik sebentar dari rumah kenduri cuma buat bawain kue buat anak-anaknya. Wait, ANAK-ANAK-nya? What am I even thinking right now?

Gue ambil kueh—manis, lengket, dibuat dengan cinta. Mengamati Arkan di seberang meja. Dia mengamati balik. Malem ini. Ada yang bakal berubah malem ini. Gue merasakannya. 

Dan gue ketakutan. 

Bukan takut jatuh. 

Takut sudah jatuh.