Novel Belitung Unscripted – 3

Novel karya Syafree

cover-novel-belitung-unscripted

BAB 3: Routine & Rhythm

Alarm berbunyi pukul 06:30 dan gue literally rasanya mau mati. 

Seluruh badan gue sakit—setiap otot di kaki dan punggung gue teriak. Rasanya kayak habis maraton di gym, padahal yang gue lakukan kemarin cuma jalan, manjat batu, dan duduk di pasir. 

Apparently, being present itu melelahkan secara fisik.

Ponsel gue bergetar lagi. Bukan alarm. Notifikasi. 

Mbak Tina: Kir, content calendar minggu ini udah on track? Need update ASAP.

Gue mengetik balasan sambil setengah sadar: “On track. Hari kedua island hopping hari ini. Video siap minggu ini.” 

Secara teknis, gue nggak bohong. Gue punya footage Hari ke-1 yang belum di-post—Danau Kaolin, Tanjung Tinggi, sunset Tanjung Pendam, Kopi Kong Djie. Tinggal edit dan bikin caption. Gampang. (Kenapa gue menunda-nunda? Because… gue nggak tahu. Ada yang terasa berbeda dengan konten kali ini. Less transactional. More… personal?

Gue menepis pikiran itu. Waktunya mandi.

Air panas hanya menyala selama lima menit. Lima. Menit. Setelah itu? Airnya berubah dari suam-suam kuku jadi… beku seperti di kutub utara. Gue berteriak—literally berteriak—saat air sedingin es menghantam punggung gue. 

Hotel budget memang ada harganya. Lain kali, gue harus negosiasi dengan Mbak Tina untuk upgrade akomodasi. Ini adalah siksaan.

Keluar dari kamar mandi dengan gemetar, gue buru-buru mengeringkan badan dan memakai baju. Bikini di bawah sundress longgar—praktis untuk island hopping tapi tetap camera-ready. Topi siap. Senjata sunscreen di dalam tas. Tas anti air… Tunggu. Gue nggak bawa tas anti air. 

Shit.

Arkan bilang kemarin—”Semoga lo bawa tas anti air.” Dan gue hanya tertawa karena mengira dia bercanda. Dia tidak bercanda. Okay. Improvisasi. Gue memasukkan ponsel, dompet, dan power bank ke dalam kantong ziploc yang gue bawa untuk skincare travel size

Solusi seadanya, but it works. Hope so, at least.

Perjuangan berikutnya: makeup. Pencahayaan di hotel ini membuat frustasi. Lampunya kuning temaram, bikin semua warna jadi aneh. Gue literally berdiri di depan jendela agar cahaya alami membantu. Tetap aja, foundation jadi belang-belang. Concealer nggak rata. Ugh.

Akhirnya gue menyerah. Makeup minimalis hari ini: sunscreen, tinted moisturizer, maskara waterproof, dan lip tint. Itu saja. Arkan mungkin juga nggak akan peduli. (Kenapa gue memikirkan pendapat Arkan? Stop.)

Area Sarapan

Gue turun ke area sarapan jam 07:15. Bufetnya sederhana: nasi goreng (agak kering), telur orak-arik (agak pucat), roti bakar, dan kopi tubruk yang aromanya pekat banget, cukup kuat untuk membangunkan orang mati.

Dan Arkan sudah duduk di meja pojok, makan nasi goreng sambil scroll ponsel. Gue membeku sejenak. 

Kemarin = percakapan yang berat. Obrolan sunset tentang Dinda, patah hati, dan baggage

Hari ini = ???

Tarik napas dalam-dalam. Profesional. Ini pekerjaan. Gue berjalan ke arahnya. “Morning.” Dia mendongak. Jeda sejenak—mungkin sedang menilai?—lalu menunjuk ke kursi kosong. 

“Morning, Kira. Silakan.” Gue duduk di seberangnya. Awkward energy-nya terasa kental. Gue bisa ngerasain tegangnya di udara.

Gue mengambil piring, mengisinya dengan roti bakar dan telur orak-arik. Melakukan apa saja untuk menghindari kontak mata. Menuang kopi. Menyesapnya. Rasanya pahit dan nendang banget, ampasnya nyangkut di tenggorokan. Gue hampir tersedak.

Arkan memperhatikan. Ada senyum tipis tapi geli di bibirnya. “Kopi tubruk. Ampasnya harus dibiarin turun dulu. Lo harus aduk, terus diemin.” 

“Oh.” Gue mengaduknya. Menyesap lagi. Lebih baik. “Thanks.” Keheningan yang canggung menyelimuti.

Akhirnya Arkan memecahnya: “Siap untuk island hopping?” Perasaan lega menyelimuti gue. Topik yang aman. 

“Yeah! Gue excited. Belum pernah melakukan ini sebelumnya.” 

“Lo bakal basah kuyup. Semoga lo bawa tas anti air.” Gue meringis. 

“…Define ‘kuyup’?”

Dia tertawa—tulus dan hangat. Ketegangan mencair. “Kuyup dalam artian basah total. Cipratan perahu, snorkeling, ombak. Semuanya bakal basah.” 

“Gue… berimprovisasi. Pakai kantong ziploc.” Alisnya terangkat. Terhibur. 

“Kreatif. Seharusnya sih… bisa.” 

“Seharusnya?” 

“Berdoa saja yang banyak. Hahaha.”

Gue tertawa lepas. “You’re terrible.” 

Honest,” koreksinya, sambil menyelesaikan nasi gorengnya. “20 menit lagi kita jalan. Selesaikan sarapan lo.” 

Aye aye, Captain.” 

Senyum kecil tersungging di bibirnya. Suasana menjadi lebih ringan.

Tanjung Kelayang – Persiapan Perahu

Pukul 08:45, truk berhenti di Pantai Tanjung Kelayang. Pantai itu ramai—suara mesin perahu campur teriakan orang, bau solar dan sunscreen menyengat. Turis sedang bersiap-siap di perahu, pemandu lokal meneriakkan instruksi, anak-anak berlarian. Pasir putih, bebatuan granit yang membingkai pemandangan di latar belakang, dan perahu-perahu berjejer di bibir pantai.

Arkan membawa gue ke sebuah perahu—perahu kayu tradisional, berkapasitas 10-12 orang, sudah dilengkapi dengan pelampung oranye dan peralatan snorkeling dasar. “Bang Asro!” Arkan melambai ke seorang pria di atas perahu—usia pertengahan 30-an, kulit sawo matang karena terbakar matahari, dengan senyum lebar yang identik dengan senyum Arkan sesekali.

Bang Asro melompat dari perahu, melakukan high-five dengan Arkan dengan energi yang luar biasa. “Woy! Sepupu ganteng! Lama nggak kelihatan!” 

“Sibuk, Bang. Kamu tahu sendiri.” Arkan menunjuk ke arah gue. 

“Ini Kira, dari Jakarta. Klien Tourism Board.” Mata Bang Asro melebar—langsung menggodanya.

 “Ohhh, ini yang kamu ceritakan kemarin? Influencer Jakarta yang—”

Arkan segera memotongnya dengan tatapan tajam. “Bang. Profesional.” Bang Asro tertawa terbahak-bahak. 

“Iya iya, profesional. Jangan galak-galak, nanti nggak laku kawin.” Dia menoleh ke gue, mengulurkan tangan. 

“Selamat pagi, Mbak Kira! Saya Asro, sepupu sekaligus pemandu perahu terbaik di Belitung. Dan sebelum sepupu saya ini nyinyir—saya punya sertifikat resmi: SSI Open Water Diver, Advanced Adventurer, bersertifikat FOSSI, plus pelatihan rescue diver. Jadi Mbak aman di tangan yang tepat.”

Gue terkesan, sambil menjabat tangannya. 

“Wah, legit! Senang bertemu denganmu, Bang Asro.” Arkan mengangguk setuju. 

“Makanya gue merekomendasikan dia. Kredensialnya profesional, tapi kepribadiannya… bisa diperdebatkan.” 

“Kepribadian saya menawan, kamu saja yang membosankan.” 

“Gue fokus.” 

“Membosankan.” Gue tertawa. This dynamic is gold.

Naik ke perahu ternyata sulit—perahunya bergoyang di atas air, lantai kayunya basah dan licin. Gue hampir terpeleset. Tangan Arkan tiba-tiba memegang siku gue, cengkeramannya kuat, menyeimbangkan. “Pelan-pelan.” 

Thanks.” Jantung gue berdebar. Stupid heart.

Bang Asro dari atas perahu: “Wah, langsung protektif! Ngeri, Sepupu! Boleh!” Arkan mengabaikannya sepenuhnya. Membantu gue menyeimbangkan diri sampai gue duduk dengan aman. Dia melepaskan tangannya begitu gue stabil. Profesional. Jelas sekali.

Pembagian pelampung. Arkan mengambil satu, mendekati gue. 

“Angkat tangan.” Gue mengangkat tangan. Dia memasangkan pelampung, menyesuaikan tali-talinya—menariknya kencang di pinggang, memeriksa pas di bahu. Efisien, fokus. Tapi gue sangat sadar. Kedekatan kami. Tangannya. Aromanya (sunscreen + sesuatu yang berbau kayu). Sentuhan profesional yang entah kenapa terasa… charged.

“Lo kencangkan di sini,” instruksinya, menunjukkan gespernya. 

Safety first.” Bang Asro, tentu saja: “Wah, Mbak Kira beruntung ya. Biasanya sepupu saya cuma melempar pelampung. Ini dipakaikan sendiri. Special treatment.”

Pipi gue memerah—menyebalkan.

Arkan berkata dengan datar: “Bang, fokus nyetir perahu. Jangan sampai nyebur ke laut nanti.” 

“Saya nggak nyetir kayak kamu, bro. Saya halus, lembut—” 

“Lo menabrak batu granit tahun lalu.” 

“SEKALI. Sekali saja! Dan itu karena sunset-nya cantik banget, saya jadi oleng!” 

Gue terkikik. This is comedy gold.

Bang Asro menyalakan mesin. Perahu menderu. Gue menyiapkan kamera untuk intro vlog—tripod di kursi perahu, dengan latar belakang lautan. “Guys, hari ini kita akan island hopping dengan Bang Asro, yang mengklaim dirinya sebagai pemandu perahu terbaik di Belitung—” 

SELF-PROCLAIMED?!” Bang Asro berteriak dramatis dari kemudi. “Saya RESMI yang terbaik! Ada sertifikatnya!”

Arkan, dengan datar: “Yang mana? SSI, FOSSI, atau ‘Sepupu Terbaik’ dari Umak?” 

“SEMUANYA MASUK HITUNGAN!” 

Gue tertawa saat syuting. Content gold. Kekacauan yang tulus.

Perahu mulai bergerak. Angin langsung menerpa—asin, kencang, dan menyegarkan. Bang Asro berteriak di atas deru mesin: “Mbak Kira! Fun fact! Sepupu saya ini dulu takut laut!” Gue terkejut, menatap Arkan. 

Seriously?!” Arkan menatap tajam. 

“Bang, tutup mulut.”

“Serius! Umur 7 tahun, dia nangis di perahu! Umaknya sampai bilang—” 

“BANG.” 

“—’Kan, nanti kamu jadi pemandu gimana?’ DAN LIHAT SEKARANG! Character development!” Gue terbahak-bahak. Arkan menutupi wajahnya dengan tangan. Malu tapi juga… sayang? 

I hate family,” gumam Arkan. 

Bang Asro: “Kamu sayang sama saya, ngaku saja!” 

“Nggak.” 

“Bohong!”

Banyolan mereka berlanjut. Gue merekam beberapa bagian—dinamika keluarga Belitung yang otentik, hangat, kacau, dan penuh kasih. Ini adalah konten yang tidak bisa dibuat skenarionya.

Pulau Lengkuas – Pulau Mercusuar

Pukul 10:00, perahu mendekati Pulau Lengkuas. Dan— “This is INSANE,” kata gue dengan napas tertahan. Pasir putihnya sempurna. Airnya gradasi biru kehijauan, jernih sekali. Gue bisa lihat karang di dasarnya dari atas perahu. Mercusuar peninggalan kolonial Belanda berdiri tinggi di tengah pulau, ikonik dengan latar langit biru. Postcard perfect.

Arkan memperhatikan gue dengan senyum puas. “Worth it kan bangun pagi-pagi?” 

Worth everything.”

Kami berenang di area perairan—kolam alami dengan formasi bebatuan granit. Airnya begitu jernih sehingga gue bisa melihat jari-jari kaki gue dengan jelas. Ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang di sekitar terumbu karang. 

Gue merekam di bawah air dengan action cam. Footage-nya sureal—dunia biru, penuh gelembung udara, sunyi kecuali suara napas gue yang aneh melalui snorkel. Tiba-tiba Arkan muncul di dalam frame, berenang melewatinya, melambaikan tangan di bawah air. Gue terkikik melalui snorkel—gelembung di mana-mana. Dia mengacungkan jempol, lalu berenang menjauh. Momen itu terekam secara spontan.

Bang Asro tiba-tiba berada di samping gue, di bawah air, membuat wajah konyol ke arah kamera. Gue hampir tersedak karena tertawa. Dia muncul ke permukaan, menyeringai: “Keren, Mbak!”

Mendaki mercusuar. Udara di dalam menara pengap dan panas. Tangga-tangganya sempit, curam, dan melingkar. Arkan di belakang gue—posisi protektif, tangannya siap jika gue terpeleset. “Lo baik-baik saja?” tanyanya di tengah jalan. 

“Yeah. Cuma… curam.” Napas gue mulai ngos-ngosan.

“Pelan-pelan saja. Nggak usah buru-buru.”

Di lantai atas (lantai 3): angin langsung menerpa kencang, pemandangan panoramiknya membuat napas berhenti. Lautan tak berujung, batu-batu granit ikonik itu tersebar seperti Tuhan sedang bermain kelereng, perahu-perahu tampak seperti titik-titik kecil di atas birunya yang tak terbatas. “Ini…” Gue kehabisan kata-kata. “Wow.” Arkan di samping gue, tangannya di pagar pembatas. 

Worth it kan naiknya?” 

Worth indeed,” ulang gue, kali ini lebih lembut.

Kami saling bertatapan. Ada jeda yang terasa—penuh arti, berat. Lalu sekelompok turis tiba-tiba muncul—berisik, tertawa. Momen itu pecah. Gue menghela napas. 

Lega atau kecewa? Keduanya, mungkin.

Pulau Pasir

Pukul 12:00, air surut menampakkan sebuah gundukan pasir—pasir putih yang literally berada di tengah lautan, kayak oase di padang gurun biru, dikelilingi oleh biru tak bertepi. Sureal. Gue melompat dari perahu, berlarian tanpa alas kaki. “This is like a private island!” Arkan memperhatikan dari tepi perahu, terhibur. 

“Secara teknis, pulau ini hilang saat air pasang.” 

“Tetap saja dihitung!”

Gue menariknya turun. “Come on! Content opportunity!” Dengan enggan, dia ikut. Berdiri dengan canggung di atas pasir. “Jangan kaku!” Gue mengarahkannya. “Smile!” 

“Gue nggak bisa senyum sesuai perintah.” 

Try!” Dia mencoba. Hasilnya: seringai yang canggung. Gue tertawa. 

Okay, that’s terrible.”

Tiba-tiba gue punya ide. Gue menggelitiknya—di rusuknya, dengan cepat. Dia melompat. Tawa yang tulus—terkejut, nyata, dan lepas. Gue menangkap momen itu. Candid shot yang sempurna. 

“HA! Got it!” Gue menang, menunjukkan hasil fotonya. Dia melihatnya. Berhenti sejenak. 

“…Okay, yang ini bagus.” 

Told you.” Senyum kecil tersungging. 

Sneaky.” 

Effective.”

Bang Asro dari perahu: “Sepupu gue senyum?! Mbak Kira, kamu punya sihir apa?!” Arkan melempar pasir basah ke arah Bang Asro. 

“Fokus nyetir!” 

“Kita lagi parkir, bro!” 

“Kalau begitu… fokus jangan bicara!” 

“Impossible!” 

Chemistry-nya berubah—menjadi lebih ceria, nyaman, dan santai.

Pulau Kepayang – Istirahat Makan Siang

Pukul 12:45, kami tiba di sebuah pulau dengan warung sederhana beratap rumbia. Hidangan seafood prasmanan disajikan: ikan bakar (aromanya smoky banget), cumi goreng tepung (masih renyah), sayuran, nasi putih, dan sambal belacan (wanginya nonjok). Kami duduk di meja kayu, dengan pemandangan laut, dan angin sepoi-sepoi yang sempurna.

Gue mencoba semuanya. “Ini enak banget!” Arkan memperhatikan, senang. 

Seafood lokal. Baru ditangkap pagi ini.” 

“Gue nggak menyangka makanannya akan seenak ini.” 

“Itulah masalahnya dengan ekspektasi,” katanya santai. “Kenyataan seringkali lebih baik kalau lo terbuka.”

Gue berhenti, garpu tertahan di udara. Menatapnya. “Lo selalu filosofis, ya?” Dia mengangkat bahu. 

“Cuma jujur.” 

“Gue menghargai itu.” Dengan tulus. “Di Jakarta… semua orang tampil. Itu melelahkan.” Arkan menatap mata gue. 

“Kalau begitu jangan tampil. Cukup… jadi diri sendiri.” 

Easier said than done.” 

“Coba dari hal kecil. Mulai dari sini.”

Rasa rentan muncul. “Gimana kalau gue nggak bisa?” 

“Lo bisa,” katanya sederhana, penuh keyakinan. “Lo sudah memulainya.” Gue berpikir tentang kemarin—kejujuran di Danau Kaolin, momen tanpa kamera di Tanjung Tinggi, percakapan saat sunset. Dia tidak salah. 

“Okay,” bisik gue. “Tryin….” Arkan mengangguk, puas. 

Good.”

Pulau Batu Berlayar – Pemberhentian Terakhir

Pukul 14:00, kami tiba di sebuah pulau dengan formasi granit yang dramatis—batu yang berbentuk seperti layar kapal berdiri di tepi pantai. Lebih sepi. Damai. Gue dan Arkan berjalan di sepanjang pantai. Dia tidak berbicara, gue juga tidak memaksakan percakapan. Keheningan yang nyaman. Hanya suara ombak kecil dan decit pasir di bawah kaki kami. Akhirnya gue berhenti. Meletakkan kamera sepenuhnya di dalam tas. Menutup ritsletingnya.

Arkan terkejut. “Nggak syuting?” 

“Nggak syuting,” gue mengonfirmasi. “Cuma… merasakan pengalaman.” Senyum tulus—yang langka dan mematikan—terukir di wajahnya. 

Really?” 

“Lo bilang coba. So… am trying.” 

Great.”

Kami duduk di atas sebuah batu besar. Bahu kami bersentuhan—sedikit, alami, tanpa paksaan. Panas kulitnya terasa di lengan gue. Ombak laut. Matahari yang hangat tapi tidak menyengat. Angin sepoi-sepoi yang lembut. Kedamaian yang nyata. Gue memejamkan mata. Bernapas. Present. Ini… adalah konten yang tidak bisa ditangkap. Perasaan ini hanya bisa dirasakan.

Suara Arkan, pelan: “Lo baik-baik saja?” 

“Yeah.” Gue membuka mata, menatapnya. “Lebih dari baik-baik saja. Ini… sempurna.” 

Ekspresinya melembut. 

“Yeah. Memang.” Momen itu bertahan. Gue tidak bergerak. Dia tidak bergerak. Hanya… ada. 

Bersama.

Bang Asro dari perahu, dari kejauhan: “OY! SEPUPU! MOMEN ROMANTISNYA SUDAH SELESAI BELUM?! GUE LAPAR LAGI!” Mantra itu pecah. 

Kami berdua tertawa. 

“Gue benci dia,” gumam Arkan, dengan nada sayang. 

No you don’t.” 

“…No. I don’t.”

Perjalanan Pulang – Evaluasi

Pukul 16:00, perahu kembali ke Tanjung Kelayang. Semua orang kelelahan, kulit lengket karena garam, terbakar matahari, dan bahagia. Bang Asro menambatkan perahu dengan gaya dramatis. “Dan… pendaratan sempurna! Tepuk tangan, dong!” Gue bertepuk tangan. Arkan memutar matanya tapi tersenyum.

Bang Asro membantu menurunkan peralatan. “Mbak Kira, gimana? Sepupu gue bilang saya ‘terbaik versi sendiri,’ padahal saya literally punya sertifikat resmi. Certified best.” 

Gue tertawa. 

Honestly? Pemandu wisata terbaik, komedian terbaik, dan kredensial bersertifikat terbaik. Triple threat.” 

“HAHAHA! DENGAR ITU, KAN!” Bang Asro menunjuk Arkan dengan penuh kemenangan. 

Jakarta girl appreciate quality!” 

Arkan berkata datar: “She’s being polite.” 

She’s being honest.” 

“Lo mustahil.” 

“Lo envy.” Mereka saling tos—kehangatan yang tulus.

Thanks, Bang. Besok ada tamu juga?” kata Arkan tulus. 

Always. Oh, salam buat Umak ya. Bilang gue kangen masakannya.” 

Will do.” 

Ikatan keluarga = di mana-mana.

Pukul 16:30, truk melaju kembali ke kota. Kami berdua diam—lelah yang nyaman. Arkan tiba-tiba berkata: “Gue mau mengevaluasi Hari ke-2. Lo oke dengan itu?” Mode profesional. 

“Yeah, of course.” 

“Dari segi footage, lo dapat cukup?” 

“Lebih dari cukup. Action cam di bawah air, sudut-sudut mercusuar, komedi Bang Asro—comedy gold—” Senyum kecil tersungging. 

He is… a lot.” 

“Dia luar biasa. Keluarga lo hangat banget.”

Jeda. 

“Yeah. Itulah… Belitung. Keluarga di mana-mana. Sepupu, tante, om—semua orang terhubung.” 

“Gue sadar. Di Kopi Kong Djie kemarin, Bang Asro hari ini. Itu… menyenangkan.” Penuh harap. 

Dia melirik. 

“Lo anak tunggal?” Gue mengangguk. “Yeah. Orang tua gue suportif tapi… rasanya beda. Nggak ada kekacauan siblings. Nggak ada banyolan sepupu. Cuma… gue.” Ada pemahaman di matanya. 

“Itu sepi.” 

Sometimes.” Jujur.

Hening. Lalu: “Besok kita pergi lebih jauh—Pulau Mendanau. Menginap. Lo siap?” Gue terkejut. 

“Menginap?” 

“Yeah. Tempat mangrove walkterbaik. Homestay-nya sederhana. Nggak ada kemewahan. Tapi… otentik.” Jantung gue berdebar lebih cepat. 

Menginap = lebih banyak waktu. Lebih banyak momen. 

“Gue siap.” 

“Bawa barang ringan. Satu ransel. Yang penting saja.” 

Copy that.” Senyum singkat. 

Good.”

Dialogue Cafe – Air Saga

Pukul 17:30, kami berhenti di Dialogue Cafe, Jalan Pattimura, Air Saga—desainnya minimalis modern, bau kopi freshly brewed menyambut kami. Dinding putih, banyak tanaman hijau segar, dan jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Estetikanya sempurna untuk bekerja.

Gue memesan iced latte, Arkan memesan espresso. Kami duduk di meja pojok, laptop terbuka. “Gue harus upload konten malam ini,” jelas gue sambil menyalakan laptop. “Jadwalkan post untuk besok pagi.” 

Makes sense. Lo mau gue pergi atau tetap di sini?” 

“Tetap di sini. Gue butuh quality control.” Senyum kecil tersungging. 

Okay.”

Gue masuk ke dalam alur pengeditan. Memilih klip—pendakian mercusuar, footage bawah air, momen-momen komedi Bang Asro. Mengatur warna, menulis caption

Di tengah-tengah mengedit, ponsel Arkan bergetar. Gue melirik—di layar tertulis “Akila”—lalu dia permisi, berjalan ke luar kafe. 

Gue terus mengedit, tapi secara samar-samar sadar. Melalui jendela, gue melihatnya berbicara—ekspresinya lembut, protektif. Tersenyum pada sesuatu yang dikatakan penelepon. Gerak tangannya lembut—menjelaskan sesuatu. Energi seorang kakak laki-laki yang jelas terlihat.

Lima menit kemudian, dia kembali, duduk di kursinya. Menyesap espresso. “Maaf. Adik gue.” Gue berhenti mengedit, penasaran. 

“Adik?” “Yeah. Akila. Kuliah di Jakarta, tahun terakhir.” Menyesap lagi. “Mengecek transferan bulanan.” 

“Oh.” Gue menutup sedikit laptop, memberikan perhatian. “Lo mendukungnya secara finansial?”

Dia mengangkat bahu—tidak nyaman dengan pujian, tipikal. 

“Harus ada yang melakukannya. Penghasilan orang tua nggak stabil. Apak–Bapak dulu nelayan dan petani lada, juga karet, sekarang sudah semi-pensiun. Emak punya warung kecil di Mendanau. Pendidikan itu mahal. 20 juta satu semester plus biaya hidup di Jakarta” 

Gue mempelajarinya—lapisan baru terbuka. 

“Itu… sangat baik dari lo.” 

She’s my sister. Itulah gunanya keluarga.” Lugas, seolah-olah itu hal yang jelas.

Gue berpikir tentang hidup gue sendiri—anak tunggal, orang tua menanggung biaya pendidikan meskipun gue sudah punya penghasilan dari konten. Tidak ada yang bergantung pada gue. Sebuah privilege yang belum pernah gue pertanyakan sampai sekarang. 

“Dia beruntung punya kakak seperti lo,” kata gue pelan, tulus. Arkan terlihat tidak nyaman, mengalihkan pembicaraan: 

“Dia bekerja keras. Beasiswa parsial, IPK 3.7. Gue cuma bantu sedikit.” 

“Itu bukan ‘sedikit.’ Itu pengorbanan.”

Dia menatap mata gue. Kerentanan yang singkat tapi nyata—dindingnya menipis sejenak. “Terkadang pengorbanan itu worth it,” katanya lembut. “Dia akan menjadi yang pertama di keluarga kami yang punya gelar S1 yang layak. Lulus tepat waktu. Itu penting.” 

Lagi, pemahaman baru muncul di benak gue. Kenapa dia protektif. Bukan hanya tentang pulau—tapi tentang kelangsungan hidup keluarga. Kenapa dia berhati-hati dengan uang. 

Setiap rupiah secara harfiah mendukung masa depan Akila. Kenapa dia mengambil pekerjaan yang secara moral membuatnya berjuang. Pekerjaan dari Tourism Board = pendapatan stabil = biaya cetak skripsi Akila, biaya hidup, kelulusan.

Dia bukan hanya seorang pemandu. Dia adalah tulang punggung. Protector. Pondasi. 

“Lo luar biasa, tahu nggak?” Gue berkata tulus, sepenuh hati. 

Dia membuang muka—tidak nyaman dengan pujian. 

“Gue cuma… melakukan apa yang perlu.” 

“Tetap saja. Itu cinta. The real one.”

Dia berdeham. Beralih kembali ke topik yang lebih aman: “Pokoknya. Lo mau gue meninjau footage-nya atau nggak?” Gue tersenyum—membiarkannya mengalihkan pembicaraan. 

“Yeah. Please.” Tapi sesuatu telah berubah secara permanen. 

Gue melihatnya dengan cara yang sama sekali berbeda sekarang. Bukan stereotip “pemandu pulau” dari Jakarta. Seorang pria yang memikul impian keluarga di pundaknya. Diam-diam. 

Tanpa keluhan. Kata ‘menarik’ tidak cukup untuk menggambarkannya.

Sesi pengeditan berlanjut dengan Arkan sebagai pengawas kualitas yang tak terduga. “Kenapa lo buang adegan di Lengkuas yang itu?” 

Lightingnya jelek.” 

“Tapi ekspresi lo tulus. Penonton terhubung dengan keaslian, bukan kesempurnaan. Pertahankan.” Gue mempertimbangkannya. Mengembalikan klip itu. 

“…Okay. You’re right.” Ini menjadi sebuah ritme: wawasan dari Arkan, eksekusi dari gue. Sebuah kemitraan terbentuk—alami, seimbang.

“Adegan Bang Asro ini,” katanya sambil menunjuk, “potong sedikit. Terlalu panjang, leluconnya kehilangan dampak.” Gue memotongnya. Melihat pratinjau. 

“Lebih baik. Thanks.” 

“Lo jago dalam hal ini. Mengedit, bercerita. Itu terlihat.” katanya spontan. Kehangatan mekar di dada gue. 

Thanks. Gue… suka proses ini. Menciptakan sesuatu yang nyata.” 

“Kalau begitu teruslah lakukan itu. Yang nyata selalu menang.” Kontak mata. Jeda. Gue yang pertama kali memutuskannya—kembali ke layar. Jantung seperti diremas.

Pukul 19:30, konten diunggah. Jadwal diatur. Gue menghela napas lega. 

Done. Thank God.” 

Good work.” Arkan mengemasi barang-barangnya. 

“Gue antar lo ke hotel, lalu briefing untuk besok.” 

Sounds good.” Perjalanan ke hotel berlangsung hening—nyaman. Radio menyala pelan, jendela terbuka, angin malam berembus.

Hotel Drop-Off + Briefing

Pukul 19:45, truk berhenti di depan pintu masuk hotel. Tapi sebelum gue turun, Arkan berkata: “Tunggu. Briefing besok.” Gue kembali duduk. 

Shoot.” 

“Besok, berangkat jam 06:00. Kita berkendara ke Mendanau—satu jam. Check-in di homestay, taruh tas. Lalu kegiatan pulau—snorkeling, tur bakau, memancing dengan penduduk lokal. Makan siang di warung Umak. Tentative–” 

“Umak?”

“Ibu gue.” Santai, tapi bermakna. “Tantenya Asro. Dia punya warung tempat kami memberi makan turis. Lo akan bertemu dengannya secara alami. Nggak perlu suasana formal ‘bertemu orang tua’. Cuma… makan.” 

Okay. Itu… tidak apa-apa. Keren.” Sama sekali tidak gugup. Senyum kecil tersungging—dia membaca gue dengan mudah. 

“Dia santai. Janji. Umak nggak menilai berdasarkan penampilan atau merek. Dia hanya peduli lo makan cukup dan menghormati tempat itu.” 

I can do that.”

Jeda. 

Okay. Sampai jumpa jam 06:00 besok. Jangan terlambat.” 

Aye aye.”

Gue mengambil tas, membuka pintu—berhenti sejenak. Menoleh ke belakang. “Thanks untuk hari ini. Energi Bang Asro, pulau-pulaunya, sesi mengedit… itu luar biasa.” Ekspresinya melembut. 

“Yeah. Memang.” Sebuah momen. Lalu gue melangkah keluar. Melambaikan tangan. Dia menunggu sampai gue masuk ke lobi sebelum pergi. Melalui pintu kaca, gue memperhatikan lampu belakang mobilnya menghilang.

Menghela napas. Besok = bertemu ibunya. Menginap. Sunriseatau sunset bersama. Ini… bergerak cepat. 

Atau mungkin dengan kecepatan yang tepat.

Kamar Hotel – Rutinitas Malam + Video Call dengan Orang Tua

Pukul 20:00, akhirnya sendirian di kamar. Mandi cepat, berganti piyama, dan merebahkan diri di tempat tidur. Ponsel bergetar—pengingat: Telepon Mama. Oh. Benar.

Gue video call. Dua dering, Mama menjawab—latar belakang ruang makan. “Kirana! Gimana Belitung?” Gue tersenyum. 

“Baik, Ma. Hari kedua island hopping. Melelahkan tapi menyenangkan.” 

“Kamu makan cukup? Kamu kelihatan kurus.” 

“Mama, gue makan. Banyak, malah. Seafood setiap kali makan.” 

“Bagus, bagus. Papa!” Dia memanggil ke luar layar. “Kir telepon!” 

Papa muncul—kacamata baca terpasang, jelas baru selesai bekerja. 

“Sayangku! Gimana proyeknya?” 

“Sesuai rencana, Pa. Konten sudah diunggah, engagement-nya oke. Tourism Board sejauh ini senang.” 

“Bagus. Kamu kerja keras, kamu memberikan hasil yang baik. Itu penting.” 

“Aku tahu, Pa.”

Mama memeriksa melalui layar: “Kamu kelihatan… berbeda. Lebih… segar?” Gue tertawa. 

“Segar? Ma, gue literally sunburned.” 

“Bukan, bukan fisik. Ekspresinya. Kamu terlihat… bahagia.” 

Jeda. 

“Aku… yeah. Aku bahagia. Tempat ini… istimewa.” 

Mama dan Papa saling bertukar pandang—pandangan telepati orang tua itu.

“Ada seseorang?” Mama bertanya langsung, tanpa filter. 

“MA—” 

“Ada kan? Guide-nya, ya?” 

Gue menutupi wajah. 

Oh my God.” 

“Mama nggak marah! Mama cuma penasaran! Dia baik?” 

“…Yeah. Dia… sangat baik.” 

“Bagus. Kamu pantas mendapatkan yang baik, Nak. Cuma… jangan lupa kerja juga, oke? Proyek dulu.” 

“Aku tahu, Ma.”

Papa: “Dan hati-hati. Jangan terlalu cepat percaya orang.” Papa klasik. Protektif. 

“Aku hati-hati. Janji.” 

Mereka tampak puas. Obrolan ringan beberapa menit lagi—kabar rumah, gosip tetangga, bisnis Om. 

Akhirnya: “Oke, Mama nggak ganggu lagi. Kamu istirahat. Besok sibuk kan?” 

“Yeah. Menginap di pulau kecil.” 

“Wah! Seru! Oke oke, kamu tidur. Selamat malam, sayang. Kami sayang kamu.” 

“Sayang kalian juga. Malam, Ma, Pa.” Panggilan berakhir.

Gue menatap langit-langit. Mereka menyadarinya. Kebahagiaan gue terlihat melalui layar. Karena pulau-pulaunya? Atau karena Arkan? Keduanya, mungkin. 

Gue belum siap untuk mengurainya.

Mengunci ponsel. Memejamkan mata. Besok—Mendanau. Pulau asalnya. Ibunya. Taruhannya lebih tinggi. Tapi gue… enggak takut. 

Justru bersemangat. Tidur datang dengan mudah. Mimpi dipenuhi lautan, tawa, dan bebatuan granit. Dan mata cokelat yang melihat menembus setiap dinding yang pernah gue bangun. 

Fade out.