Novel Belitung Unscripted-1

Novel karya Syafree

cover-novel-belitung-unscripted

BAB 1: Bad News with Good Lighting

Alarm pukul 04:30 pagi berbunyi, dan gue pengin nangis. 

Dinginnya AC apartemen nusuk tulang, bikin makin nggak rela keluar dari selimut.

Followers gue stuck di 150K sudah tiga bulan. Apartemen Jaksel ini nguras dompet setiap bulan. Dan sekarang gue harus bangun jam segini buat flight ke Belitung yang—semoga—bakal jadi terobosan gue.

Gue ngecek HP sambil setengah sadar. Manajer gue udah kirim reminder:

Mbak Tina: Flight 6 pagi. Jangan telat. Ini peluang BESAR, Kir.

Iya. Peluang besar. Kerja sama berbayar dengan Tourism Board. Dua minggu di Belitung. Sepuluh serial video. Target minimal fifty thousand views tiap video. Dan fee yang basically tiga bulan sewa apartemen.

Gue seret diri ke kamar mandi. Air dingin nyiprat ke muka, bikin mata yang masih lengket kebuka paksa. Ini nyata. Sponsored trip pertama gue yang legit besar.

Dua koper segede gaban sudah siap dari semalam: deretan coastal outfits, ring light portabel, tetek bengek camera gear, segala jenis charger backup, arsenal sunscreen, dan—oke, mungkin lebay—tapi ini KERJA. Konten itu bisnis. Estetika itu mata uang.

Grab datang jam 05:00. Jakarta masih gelap. Ini jam di mana cewek kota kayak gue seharusnya masih tidur, bukan lagi di perjalanan ke bandara buat terbang ke pulau yang gue baru tahu ada tiga minggu lalu, well, aware at least.

HP getar—incoming call. Mama. Gue terima sambil nyender ke jendela mobil, volume pelan.

“Sudah di jalan, Nak?” Suara Mama lembut tapi ada worry undertone. “Udah, Ma. On the way ke airport sekarang.” “Bagus. Hati-hati ya… Dan ingat, ini kerja penting. Kamu harus deliver yang bagus biar dapat proyek lagi. Papa bilang kamu harus profesional.”

Right. Pressure disguised as concern. Classic. “Gue tau, Ma. Gue bakal serious.” “Good… Tapi jangan sampai sakit juga, ya. Kamu anak tunggal…” Anak tunggal card. Always. “Gue bakal hati-hati. Promise.”

Telepon ditutup. Gue menatap layar—foto keluarga Lebaran lalu. They mean well. Tapi jadi anak tunggal berarti setiap perjalanan rasanya kayak gue bawa semua harapan dan kekhawatiran mereka di tas. No pressure, right?

Bandara Soekarno-Hatta jam segini ternyata udah kayak pasar. Aroma kopi basi campur disinfektan khas bandara menusuk hidung. Gue check-in, masih zombie mode, terus sadar: tunggu.

Ini kesempatan konten.

Gue pasang ring light kecil, rekam Instagram Story: “Good morning, loves! Atau… aku harus bilang selamat pagi yang SANGAT pagi? Vibes pesawat jam 5. Lagi heading ke tempat spesial hari ini—tunggu ya!” Foto estetik: boarding pass, cangkir kopi, latar bandara. Posted. Komentar berdatangan.

Dopamin hit. Validasi. Views. Ini yang gue kejar.

Boarding call. Gue masuk pesawat—kursi 12A. Jendela. Sempurna. Pesawat take off. Gue rekam video sunrise menembus awan. Caption: Mengejar sunrise dan awal yang baru ☀️✨ #BelitungBound

Penerbangan cuma 60 menit. Ngantuk akhirnya menang. Gue tidur model ayam, kepala bersandar ke jendela, sampe suara pramugari yang renyah bangunin gue: “We are now descending into H.A.S. Hanandjoeddin International Airport, Tanjungpandan. Local time is 7:05 AM…” Gue bangun, pusing, benerin makeup seadanya. Showtime.


Bandara Tanjungpandan… kecil banget. Nggak ada garbarata—tangga manual turun dari pesawat. Begitu pintu kebuka, hawa panas lembap langsung nampar muka kayak handuk basah. Aromanya beda—bukan polusi, tapi campuran tanah basah dan garam laut.

Bandara ini pernah punya status internasional, sempat dicabut pasca-Covid, terus internasional lagi April 2025—beberapa bulan lalu. Belitung juga pernah jadi tuan rumah G20 side event 2022. Lumayan impressive buat pulau sekecil ini.

Baggage claim sederhana. Gue ambil dua koper, dorong troli keluar, terus scan kerumunan.

Dan di sana, memegang papan nama gue, berdiri mungkin pria paling tidak adil menariknya yang pernah gue lihat in real life. KIRANA ANJANI – BELITUNG GUIDE

Tinggi. Tan. Kulit sawo matang gelap dari kehidupan outdoor, rambut hitam sedikit bergelombang, mata agak sipit—gen Hakka, pasti—dan rahang yang kayak dipahat dari batu granit yang terkenal di Belitung. Outfitnya: kaos hitam, celana kargo, sandal jepit. Entah kenapa masih kelihatan lebih keren dari setengah influencer di Jakarta.

Gue mendekat, pasang senyum profesional. “Hai! Kirana. Kamu pasti guide-ku?” 

“Arkan.” Jabat tangannya tegas. Kering, hangat, dan mantap. “Biar aku bantu barang-barangnya.” Dia ambil kedua koper gue tanpa nunggu jawaban, ngangkatnya enteng banget kayak cuma bawa tas jinjing. Unexpectedly perhatian.

Gue ikutin dia ke parkiran, dan di sana: pickup truck hitam. Tapi dimodif. Bersih, terawat. Interiornya bersih banget. Wangi kopi samar-samar, bukan parfum mobil murahan. Jok kulit coklat, dashboard teratur. 

“Ini punyamu?” Gue tanya sambil naik. 

“Iya.” Dia muat barang ke bak truk. “Lebih praktis buat off-road. Akses pantai, jalan tanah… Mobil sewaan nggak akan bertahan.” Masuk akal. Praktis.

Mesin nyala mulus. AC langsung berembus dingin—anjir, berfungsi. Udara dingin nabrak kulit gue yang lengket. Instan lega. Arkan—ternyata bukan tour guide biasa. Dia bilang dia dipilih agensi pemerintah buat jadi local facilitator

Two weeks… Aku just make sure lo access Belitung yang bener—bukan resort fake, tapi komunitas asli.” 

Simple. Transactional. Except—cara dia ngomong nggak kayak orang yang kerja untuk uang. Lebih kayak orang yang kerja untuk… melindungi sesuatu.

Kami mulai jalan. Terus… gue sadar sesuatu. Jalannya. Ini… sempurna. Lebar. Mulus. Gak ada lubang, sama sekali. 

“Kamu oke?” Arkan melirik gue, terhibur. 

“Jalannya,” gue blak-blakan. “Mulus banget. Kayak, nol lubang. Ini gila.” Dia ketawa—tulus, hangat. 

“Nggak biasa sama yang kayak gitu di Jakarta?” 

“Jalan Jakarta basically obstacle course. Kamu harus menghindar lubang kayak lagi main Mario Kart.” 

“Warisan tambang timah, dulu Belitung kaya karena tambang,” dia jelasin santai. “Kemudian Infrastruktur Belitung dapat upgrade besar-besaran… Plus, dorongan pariwisata belakangan—terutama setelah G20 side event 2022.” 

“Kamu terlibat di acara G20 itu?” Dia mengangkat bahu. 

“Peran kecil. Bantu koordinasi… Nggak major. Tapi itu… eksposur bagus. Bikin Belitung masuk peta lagi setelah Covid nge-hit kita parah.” Ada kebanggaan di suaranya, tapi juga sesuatu yang lebih berat. 

“Perjuangan pasca-pandemi?” 

“Iya.” Dia tetap fokus ke jalan. 

“Pariwisata runtuh. Banyak bisnis lokal tutup… Itu sebagian kenapa partnership kayak punyamu penting. Visibilitas konten membantu.” Oh. Ini… personal. Kelangsungan hidup komunitas. Gue merasa ada yang bergeser. Ini bukan cuma konten sponsoran. Ini… penting. 

“Aku akan usaha maksimal,” gue bilang pelan. “Buat nunjukin Belitung dengan benar.” Dia melirik gue, kaget. Terus senyum—kecil, tulus. 

“Aku percaya kamu.”


Jalan dari bandara ke kota sepi. Vibes pagi Belitung: santai, kebalikan dari kekacauan Jakarta. Kontrasnya nonjok gue. Nggak ada kemacetan. Nggak ada klakson. Nggak ada asap knalpot yang bikin sesak napas. Cuma… udara bersih, ruang terbuka, langit biru banget.

Gue refleks raih HP—tapi berhenti. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, gue cuma… nggak. Malah, gue nonton pemandangan yang berlalu—warung pinggir jalan, anak-anak naik sepeda. Kehidupan nyata. Bukan konten. Cuma… hidup. Damai.

“Jadi,” Arkan melirik gue, “penerbangannya panjang?” 

“Cuma sejam. Tapi bangun jam setengah lima bikin berasa kayak tiga jam. Kayaknya aku tidur di pesawat. Mode setengah zombie.” 

“Bisa dimaklumi. Mau sarapan dulu?” 

“Yes please. Makanan pesawat nggak terhitung sebagai makanan.” Dia nyengir. 

“Bagus. Aku tahu tempat yang sempurna.” Gue perk up

“Oh! Is it Mie Atep? I’ve read about it—legendaris, review Bondan Winarno—” 

We’re not going there.” 

Jeda. 

“…sorry, what?” 

“Mie Atep is good,” katanya tenang, mata di jalan. “Tapi sekarang lebih banyak tourists than locals. You want authentic Belitung breakfast, atau Instagram checkpoint?” 

Tunggu. Bahasa Inggrisnya… lancar. Gue expecting bahasa Inggris patah-patah—”You want see real Belitung, yes?”—tapi yang gue dapet adalah code-switching mulus, intonasi natural, vocab tepat. Siapa orang ini?

Gue singkirkan kejutan. “Maksudku, Mie Atep itu ikonik. Audiensku pasti expect—” 

Your audience,” dia memotong lembut tapi tegas, “doesn’t know apa itu real Belitung taste. They know viral posts and travel blogs.” 

Gue defensif. 

Listen, aku appreciate perspektif lokal, tapi aku literally datang ke sini buat tempat-tempat terkenal—” 

“Dan aku di sini buat tunjukin kenapa tempat-tempat itu jadi terkenal sejak awal.” Dia melirik gue, mantap. “Kita akan ke warung kecil di Kampung Ujung… Dikelola keluarga, komunitas Melayu, satu generasi dengan Mie Atep. Kualitas mie sama… lokal beneran yang makan di sana.” 

“Itu nggak ada di blog travel manapun—” 

Exactly.” Dia hampir senyum. “Kamu mau jadi content creator nomor 1.537 yang posting foto Mie Atep yang sama… atau kamu mau tunjukin audiens kamu sesuatu yang nyata?” 

Dia… ada benarnya. 

“Oke,” gue menggumam. “Tapi kalau tempatnya nggak sebagus yang kamu bilang, kita ke Mie Atep ya.” 

Deal.” Dia senyum—senyum beneran. Dan wow. Unfair.

“Bahasa Inggris kamu bagus banget, by the way,” gue nggak bisa nahan. Arkan mengangkat bahu. 

“Kuliah di Jogja. Plus, I do speaking gigs sometimes. International conferencessustainable tourism, blue carbon… You kinda have to be fluent when you’re presenting to European NGOs and Australian researchers.” 

Gue blink. Conferences? NGOs? Researchers? This man is full of surprises. 

Wait, so you’re not just a… tour guide?” Dia melirik, terhibur. 

I’m a guide and a researcher and an activist. Multitasking. Is that allowed?” 

Smart-ass. Attractive smart-ass. Damn it.


Warung di Kampung Ujung beneran pinggir jalan. Bangunan kayu sederhana, atap seng, tapi cukup penuh. Aroma kaldu gurih dan bawang goreng kecium bahkan sebelum kami parkir. Yang menarik: setup-nya bukan meja kecil, tapi tiga meja panjang dengan kursi kayu panjang—gaya komunal. Orang asing duduk sebelahan. Pasangan tua, pekerja konstruksi, keluarga lokal. Nggak ada satu turis pun.

Arkan memimpin gue ke salah satu meja, duduk di ujung. “Serahin ke aku,” dia bilang, berdiri. Dia jalan ke meja depan—ada etalase kaca kecil yang isinya surga gorengan: pempek ikan, kroket, tempe mendoan, risol. Semuanya kelihatan masih hangat, baru diangkat. 

Dia ambil beberapa potong—santai, familiar. Jelas dia regular di sini. Sementara itu, mak Tining—pemilik warung, wanita 60-an tapi masih terlihat segar dan kuat, wajah ramah, celemek ternoda kunyit—mendekat, senyum hangat ke Arkan. Arkan ngangguk, nunjuk ke gue. mak Tining senyum lebih lebar.

Arkan balik dengan piring kecil penuh gorengan. “Pemanasan,” katanya, meletakkan piring di antara kami.

Gue curious. Gue ambil pempek ikan—luarnya garing renyah, tapi dalamnya kenyal springy. Rasa ikannya nonjok, segar, nggak amis sama sekali. 

“Wow,” gue bergumam. Gue comot kroket—ini gila. Isian kentang dan sayurnya lumer di mulut, luarnya kriuk sempurna. “Oke, this is legit good,” kata gue. “Gorengan di Jakarta rasanya kayak… processed. Ini… real.” 

Arkan cuma senyum. “Itu baru permulaan.”

Beberapa menit kemudian, mak Tining sendiri bawa dua mangkuk besar: Mie Belitung dan Soto Lontong Belitung.

Gue natap. Mie Belitung: Kuah udang kental berwarna keemasan, mie kuning kenyal, udang segar, telur rebus, tauge, ditaburi bawang goreng renyah dan emping. Soto: Kuah santan super creamy, warnanya kuning pekat, potongan daging sapi empuk, potongan lontong yang berenang menyerap kuah, bihun… Aromanya gila—serai, lengkuas, daun jeruk—nabrak hidung.

“Kamu pesan… keduanya?” 

“Kamu harus coba keduanya.”

Refleks, gue langsung raih HP. Ini content gold. Uapnya masih mengepul, warnanya pekat, pencahayaan dari pintu warung pas banget.

“Tunggu.” Tangan Arkan lembut di pergelangan gue. Nggak nyabet, cuma… ngehentiin. “Minta izin dulu.” Gue kedip. 

“Dari…?” 

“Mak TIning. This is her space. Cerita tentang dia.”

Oh. Bener. Consent. Kemanusiaan dasar yang hampir gue lupa di autopilot mode konten.

Gue deketin mak TIning, nanya dengan sopan. Dia setuju, senyum lebar—bahkan berpose sedikit, bangga. Gue balik ke meja dan ambil beberapa shot cepat: flat lay dua mangkuk (dengan piring gorengan di sampingnya), close-up kuah soto yang creamy, video pendek uapnya.

“Oke, done,” kata gue, akhirnya menyimpan HP.

Arkan senyum tipis, puas. Dia dorong soto ke gue. “Yang ini dulu.”

Gue ambil sesendok kuah. Oh. 

OH. 

Lidah gue kayak meledak. Ini… kaya rasa. Creamy santan tapi nggak bikin enek. Ada sedikit manis gula merah, gurih kaldu daging yang dalam, kehangatan dari lengkuas dan jahe. Kuahnya umami berlapis yang cuma dateng dari kaldu slow-cooked. Gue gigit daging—meleleh di mulut. Rasanya kayak… luar biasa nyaman. Kayak masakan nenek dengan cinta.

“Gimana?” Arkan nonton, terhibur. Gue menelan, terpana. 

“Ini… gila. Kok ini nggak terkenal?” 

“Terkenal kok. Cuma nggak Instagram-famous. Beda.”

Gue pindah ke mie Belitung. Gigitan pertama: balance manis-gurih sempurna, udang kenyal, mie springy.

Arkan condong ke depan. “Jadi… gimana? Masih mikirin Mie Atep?”

Gue putar mata, tapi nggak bisa nahan senyum sambil nyuap soto lagi. “Mie Atep apa?”

Dia nyengir—senyum penuh, dan holy hell, menghancurkan.

“Lihat? Autentik nggak berarti membosankan. Cuma berarti kamu butuh guide yang tepat.”


Mak Tining mendekat, ngisi ulang air putih, melirik gue. Terus dia lihat Arkan, mata berbinar nakal: “Arkan, pacar baru?” Gue tersedak soto. Arkan ketawa—dalam, tulus. 

“Bukan, Mak. Klien. Content creator dari Jakarta.” 

“Wah, Jakarta!” mak TIning impressed

“Cantik sekali. Arkan, jangan sia-siakan kesempatan, ya?” 

“MAK!” Arkan protes, telinga agak merah. Mak Tining tepuk bahunya, kedip ke gue, terus balik ke dapur. “Maaf soal itu,” dia gumam, malu. 

She’s cute kok,” gue bilang jujur. “Dan makanannya luar biasa. Kamu bener.” Dia lihat gue, genuinely surprised

“Kamu ngaku aku bener? Di hari pertama?” 

“Jangan kebiasaan.” Dia ketawa lagi—hangat, tanpa penjagaan.

Balik ke meja, Arkan bilang pelan, “Konten itu bagus. Tapi orang bukan properti. Respect dulu, foto kedua. Ingat itu selalu.” Ini bukan judgment. Cuma… prinsip. Pengingat lembut. Dan entah kenapa, itu bikin gue merasa lebih dilihat dari semua postingan viral yang pernah ada. 

“Paham,” gue bilang lembut. “Terima kasih.” Dia ngangguk, puas. 

“Siap buat hari pertama?” 

“Siap!”

Mungkin partnership ini nggak akan jadi bencana.

Mungkin.