Akuarium Rania – 4

Novel karya Syafree

cover-akuarium-rania

Akuarium Rania – Bab 4: Jejak yang Tak Terhapus

Pukul empat sore adalah waktu paling berbahaya di Bappeda.

Energi pagi sudah habis menguap, AC sentral terasa semakin dingin menusuk tulang, dan cahaya matahari sore yang masuk lewat celah blinds menciptakan garis-garis debu yang melayang di udara. Di jam-jam seperti ini, batas profesionalisme sering kali menjadi setipis tisu.

Aku menyandarkan punggung ke kursi yang bantalannya mulai kempes. Di layar laptop, kursor berkedip di akhir kalimat Laporan Pendahuluan yang macet sejak satu jam lalu.

Ting.

Bukan dari WhatsApp Web. Bunyi notifikasi itu berasal dari ponselku yang tergeletak di meja.

Pak Zar (16.05): Suntuk?

Satu kata. Tiga menit setelah aku mengunggah Instagram Story foto cangkir kopiku yang kosong dengan caption emoji baterai merah.

Aku menggigit bibir. He’s watching. Pejabat Eselon III yang sibuk itu meluangkan waktu untuk mengecek update status staf barunya. Ada desiran hangat yang merambat di dadaku—sensasi diperhatikan yang membuatku merasa penting.

Aku (16.06): Lumayan, Pak. Otak sudah not responding.

Pak Zar (16.07): Pulanglah tepat waktu. Pekerjaan negara tidak akan selesai hanya dalam satu hari. Jangan sampai sakit, nanti saya kehilangan partner debat.

Dadaku menghangat. Partner debat. Validasi itu lagi. Zarimuddin tidak menganggapku bawahan yang harus disuruh-suruh, tapi mitra intelektual.

Aku baru saja mengetik balasan—sesuatu yang witty tentang dedikasi abdi negara—ketika sebuah sikut menyenggol lenganku pelan.

“Nia, psst,” bisik Dian dari kubikel sebelah. Matanya melotot ke arah pintu lobi, alisnya terangkat tinggi. “Liat siapa yang dateng. Ratu Lebah masuk sarang.”

Aku mendongak. Dan seketika itu juga, aku mencium aroma itu.

Bukan aroma kopi basi dari pantry, bukan pula bau minyak angin Pak Joko. Ini aroma floral yang lembut, mahal, dan… segar.

Seorang wanita berdiri di lobi.

Dia tidak mengenakan gaun pesta yang mencolok, hanya setelan tunik berwarna sage green sederhana dengan potongan modern. Tapi aku tahu bahan itu—jenis kain premium yang jatuh sempurna di badan. Jilbab paris cream-nya melengkung paripurna di dahi, membingkai wajah yang riasannya masih matte meski hari sudah sore.

Aku menelan ludah, refleks melirik pantulan wajahku di layar monitor mati: berminyak di area T-zone, jilbab miring, dan mata layu. Perbandingan yang brutal.

Suasana kantor mendadak hening. Suara ketikan keyboard berhenti. Mbak Lastri membenarkan letak kacamata, Pak Joko pura-pura sibuk membalik koran tapi matanya melirik. Semua ikan di akuarium ini sedang mengamati predator baru yang masuk.

Wanita itu melangkah pasti melewati deretan kubikel, lalu berhenti tepat di depan mejaku.

“Permisi, Mbak?” Suara itu halus, sopan.

Aku refleks berdiri, nyaris menyenggol botol minumku. “I-iya, Bu. Benar.”

“Saya Tika. Istrinya Mas Zar.”

Tangan wanita itu terulur. Kulitnya halus, kukunya terawat rapi dengan manicure bening. Aku menjabatnya ragu-ragu. Tanganku sendiri terasa kasar dan dingin oleh keringat.

“Oh, Bu Tika. Maaf, saya nggak ngenalin. Selamat sore, Bu.” Aku tergagap. Dian di sebelahku pura-pura sibuk mengetik, tapi telinganya pasti terpasang tajam.

“Nggak apa-apa, Mbak. Saya memang jarang main ke sini.” Tika melepaskan jabat tangan, lalu matanya menyapu meja kerjaku sekilas.

Hanya sedetik, tapi aku merasa wanita itu sedang melakukan scanning menyeluruh. Dari tumpukan berkas, sampai ponselku yang layarnya masih menyala menampilkan ruang obrolan dengan kontak bernama ‘Pak Zar’.

Jantungku berhenti. Jemariku refleks bergerak, membalik ponsel hingga telungkup dengan bunyi plak pelan. Gerakan yang terlalu tiba-tiba, terlalu bersalah.

Tatapan Tika kembali ke wajahku. Masih dengan senyum yang sama. Tenang. Tidak terbaca.

“Mas Zar ada di ruangan?” tanya Tika. “Saya telepon kok nggak diangkat, ya.”

“A-ada, Bu. Bapak ada di dalam.”

“Ah, dasar bapak-bapak,” kekeh Tika pelan. “Ya sudah, saya tunggu di dalam saja.”

Tika melangkah dua langkah, lalu berhenti dan berbalik.

“Oh iya, Mbak Rania.”

“Ya, Bu?”

“Nanti kalau Mas Zar sudah selesai ‘sibuk’ di dalam, tolong diingatkan ya, Mbak…” Hening sejenak. Dian di sebelahku berhenti mengetik total.

“Soalnya kalau Mas Zar sudah asyik kerja atau… diskusi… dia suka lupa waktu. Makanya butuh ada yang mengingatkan.”

Senyum Tika melebar sedikit. Manis. Sangat manis.

“Titip diingatkan ya, Mbak Rania. Kan Mbak Rania yang mejanya paling dekat.”

Darahku serasa surut ke kaki. Aku hanya bisa mengangguk kaku.

“Terima kasih, Mbak. Mari.”

Tika berlalu masuk ke ruangan Zarimuddin. Pintu tertutup perlahan.

Aku jatuh terduduk. Di sebelahku, Dian menghela napas panjang, seolah baru saja menahan napas selama lima menit.

“Gila,” bisik Dian tanpa menoleh. “Itu bukan nitip pesen, Nia. Itu marking territory.”

Tapi teror Tika belum selesai sore itu.

Pukul tujuh malam, kantor sudah sunyi. Hanya suara cleaning service di kejauhan. Aku dan Zarimuddin masih terjebak di ruangan Pak Kabid, merevisi angka belanja modal yang tak kunjung balance.

Zarimuddin lebih banyak diam sejak kepergian istrinya tadi sore. Wajahnya keruh.

Tiba-tiba ponsel Zarimuddin di atas meja bergetar panjang.

Nama “Tika ❤” menyala di layar.

Zarimuddin meliriknya. Ada kerutan di keningnya—campuran kekesalan dan rasa bersalah. Ia tidak menyentuh ponsel itu. Ia membiarkannya bergetar sampai mati.

“Abaikan,” katanya datar, kembali menatap laptop.

Aku menelan ludah. Suasana ruangan mendadak sesak.

Satu menit kemudian.

Drrt. Drrt.

Kali ini, getaran itu berasal dari saku blazerku.

Aku menarik ponselku dengan ragu. Nomor tidak dikenal. Tapi foto profilnya membuat darahku surut: Foto close-up Tika yang tersenyum sempurna.

Aku menatap Zarimuddin dengan mata membelalak. “Pak… ini…”

Zarimuddin mendongak, melihat layar ponselku, dan wajahnya memucat. Pria yang tadi sore mengirim pesan genit “Partner Debat”, kini tampak kerdil.

“Angkat,” perintah Zarimuddin dengan suara parau. “Kalau tidak diangkat, dia bakal telepon ke pos satpam.”

Tanganku gemetar hebat. Aku menggeser tombol hijau.

“Halo… selamat malam?”

“Malam, Mbak Rania.” Suara Tika terdengar jernih, tenang, dan ramah. Terlalu ramah untuk seseorang yang suaminya baru saja me-reject panggilan. “Maaf ganggu lemburnya. Saya telepon Mas Zar nggak diangkat-angkat. Mungkin lagi di toilet atau salat ya?”

Itu jebakan. Tika tahu suaminya tidak sedang salat. Tika tahu suaminya sengaja menghindar. Dan dia memaksaku untuk berbohong.

Mataku bertemu pandang dengan Zarimuddin. Pria itu memberi isyarat tangan: jangan bilang saya ada.

Aku merasa mual. Aku benci ini. Aku benci diseret ke dalam drama rumah tangga orang lain.

“Eh… iya, Bu. Bapak… sepertinya sedang keluar ruangan sebentar,” aku berbohong. Lidahku terasa pahit.

“Oh, begitu,” sahut Tika ringan. “Ya sudah, nggak usah dicari. Titip pesan saja ya, Mbak.”

Suara Tika merendah sedikit, lebih tegas.

“Bilang ke Bapak, anak-anak sudah lapar. Kami tunggu makan malam di rumah. Sekarang.”

Penekanan pada kata ‘sekarang’ terdengar seperti vonis hakim.

“Baik… Bu. Saya sampaikan.”

Klik. Sambungan putus.

Aku menurunkan ponsel perlahan. Keheningan di ruangan itu terasa memekakkan telinga. Fantasi tentang “koneksi intelektual” runtuh seketika menjadi debu.

Di hadapanku bukan lagi mentor visioner yang gagah. Hanya seorang suami takut istri yang bersembunyi di balik punggung staf juniornya.

“Ibu bilang…” suaraku tercekat. “Anak-anak sudah lapar. Ditunggu di rumah sekarang.”

Zarimuddin menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang beruban. “Maafkan saya, Nia.”

Permintaan maaf itu adalah hal yang paling menyakitkan malam ini.

Aku menutup laptop pelan, mengemas barang-barangku dengan gerakan kaku. “Sebaiknya Bapak pulang.”

Aku berjalan keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Zarimuddin sendirian di bawah lampu neon yang berdengung, dan meninggalkan fantasiku yang telah mati di lantai keramik yang dingin.

***