Akuarium Rania – 3

Novel karya Syafree

cover-akuarium-rania

Akuarium Rania – Bab 3: Kata yang Tak Terucap

Ruang rapat Bappeda selalu memiliki suhu dua derajat lebih dingin dari ruangan lain. Atau mungkin itu hanya perasaanku saat melihat dua kutub kekuatan kantor sedang bertabrakan.

“Pusat Kebudayaan Sijuk bukan cuma gedung, Pak Pram,” suara Zarimuddin bergema, memantul di dinding ruang rapat yang kaku. Ia menunjuk slide proyektor—sebuah rendering arsitektur megah dengan atap melengkung khas Melayu. “Ini monumen kebangkitan pasca-pandemi. Kita butuh simbol.”

Pramono tidak repot-repot melihat layar. Kepala Bidang Infrastruktur itu sibuk membalik halaman dokumen anggaran, menciptakan bunyi krek-krek kertas yang mengganggu di tengah heningnya ruangan.

“Monumen butuh semen, Pak Zar,” potong Pramono tanpa mendongak. Suaranya datar, tipe birokrat yang sudah mati rasa pada kata ‘visi’. “Dan semen butuh duit. Anggaran kita defisit tiga miliar tahun ini. Baseline-nya mana? ROI-nya berapa? Jangan sampai kita bangun candi yang cuma dipakai jin buang anak.”

Beberapa staf menahan napas. Kaban melirik jam dinding, terlihat ingin segera mengakhiri ini.

Wajah Zarimuddin mengeras. Rahangnya mengetat. Ia mulai mengetuk-ngetuk pena di meja mahoni itu.

Tap. Tap. Tap.

Tanda bahaya. Aku sudah menghafal ritme itu meski baru sebulan di sini. Zarimuddin sedang tersudut dan egonya terluka. Dia butuh peluru, dan dia butuh sekarang.

Aku menelan ludah. Tanganku gemetar dingin di bawah meja, meremas ujung blus batikku. Otakku berputar cepat. Aku punya datanya. Aku membacanya semalam di jurnal kebijakan publik, hanya untuk berjaga-jaga.

Do it now or never, Rania.

“Izin, Pak,” suaraku memecah ketegangan.

Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat sepuluh kepala menoleh serentak. Termasuk tatapan tajam Pramono yang seolah berkata: Anak baru tahu apa?

Aku memaksakan diri menatap lurus ke arah Pramono, mengabaikan jantungku yang berdegup gila-gilaan. “Soal defisit anggaran… Ada preseden di Kabupaten Bangka Barat tahun lalu. Mereka pakai skema cost-sharing dengan CSR perusahaan tambang untuk pembangunan GOR. Beban APBD turun 60%.”

Aku menggeser laptopku, menampilkan grafik data yang sudah kusiapkan. “Dan partisipasi publik naik 40% dalam enam bulan karena mereka merasa memiliki gedung itu. Datanya valid, Pak. Ini bisa jadi solusi win-win untuk Sijuk.”

Hening.

Pramono berhenti membalik kertas. Ia menatap grafik di layar laptopku, lalu melirik Zarimuddin. “Staf Bapak?”

Zarimuddin tersenyum. Senyum kemenangan yang tipis tapi arogan. Egonya baru saja diselamatkan. “Analis Kebijakan baru saya. Lulusan terbaik Latsar tahun ini.”

Pramono mendengus, menutup mapnya kasar. “Oke. Kalau skema CSR bisa masuk, kita bahas lagi minggu depan. Rapat ditutup.”

Saat orang-orang mulai membereskan barang, Zarimuddin menoleh padaku. Tidak ada kata-kata. Hanya kedipan mata sekilas dan gumaman tanpa suara: Good job.

Aku menunduk membereskan kabel, berusaha menyembunyikan wajahku yang memanas.

Damn it. Perasaan bangga itu bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih hangat dan berbahaya. Aku bukan lagi sekadar staf. Aku adalah penyelamatnya.

Malamnya, hujan turun deras di Tanjung Pandan, menyamarkan suara motor yang lewat di depan kosku.

Aku sedang berbaring di kasur busa tipis, wajah tertempel sheet mask murah sambil mencoba fokus pada episode terbaru drama Korea di laptop. Tapi pikiranku melayang ke ruang rapat tadi siang. Tatapan bangga Zarimuddin. Cara pria itu menyebut “staf saya” seolah aku adalah trofi yang ia pamerkan pada musuhnya.

Ting.

Sebuah notifikasi pop-up muncul di sudut layar laptop, menghalangi wajah aktor Korea favoritku. Ikon WhatsApp Web.

Zarimuddin (20.45): Sorry ganggu malam-malam. Kamu masih bangun?

Jantungku berhenti sedetik.

Fuck. Kenapa dia harus nge-chat jam segini?

Aku meraih ponselku. Menimbang-nimbang. Membalas sekarang berarti memberi sinyal bahwa aku available. Tidak membalas berarti tidak sopan.

Aku (20.46): Masih, Pak. Ada data yang kurang untuk besok?

Aku sengaja menggunakan kata “Pak” dan “data” untuk menegaskan batas profesional. Aku mencoba membangun pagar.

Zarimuddin (20.46): Enggak. Cuma mau bilang makasih buat tadi. You saved me back there.

Aku menggigit bibir bawahku. Saved me. Bukan “saved the meeting”. Bukan “saved the project”. Tapi “saved me”. Pilihan kata yang sangat spesifik. Sangat personal. Dia sedang memberitahuku bahwa aku menyelamatkan dirinya secara pribadi.

Aku (20.47): Ah, kebetulan aja saya baca risetnya kemarin, Pak. Senang bisa bantu.

Typing… Typing…

Indikator “sedang mengetik” itu muncul dan hilang selama beberapa detik, membuat perutku melilit. Apa yang sedang dia tulis? Apakah dia akan membahas pekerjaan? Atau…

Zarimuddin (20.48): [Link Spotify: “Vienna” – Billy Joel]

Zarimuddin (20.48): Dengerin ini. Cocok buat anak muda ambisius yang kadang lupa napas.

Aku terdiam menatap layar. Billy Joel? Selera musik bapak-bapak banget. Tapi tanganku menekan link itu. Intro piano klasik terdengar, disusul suara berat yang familiar.

Slow down you crazy child… You’re so ambitious for a juvenile…

Aku melepaskan sheet mask-ku yang mulai kering. Liriknya. Ya Tuhan, liriknya. Ini bukan sekadar rekomendasi lagu. Ini cara Zarimuddin bilang: “Saya memperhatikanmu. Saya melihat ambisimu. Saya tahu kamu lelah. Dan saya peduli.”

This is manipulative, batin sisi rasionalku. He plays the wise mentor card. Dia sedang memainkan kartu “Mentor Bijak” untuk masuk ke kepalaku.

Tapi sialnya, itu berhasil.

Aku tahu seharusnya hanya mengirim stiker jempol, lalu mematikan data seluler. Tidur. Melupakan ini. Itu yang akan dilakukan Rania yang rasional. Rania yang lulusan Cum Laude.

Tapi jariku bergerak sendiri di atas keypad. Didorong oleh rasa haus validasi yang baru saja diberi minum seteguk.

Aku (20.50): Old school. But good lyrics. Thanks, Pak.

Centang dua biru. Langsung.

Zarimuddin (20.50): Good night, Rania.

Tidak ada “Selamat tidur”. Tidak ada emoji bapak-bapak. Hanya kalimat pendek yang terasa intim karena dia menyebut namaku.

Aku meletakkan ponsel di dada, membiarkan lagu Billy Joel itu terus berputar memenuhi kamar kos yang sempit. Layar ponsel perlahan meredup, tapi hangatnya masih terasa menembus piyama katunku.

Di luar hujan masih deras, tapi di dalam kepalaku, alarm peringatan sedang meraung-raung. Aku baru saja membiarkan pintu itu terbuka sedikit lebih lebar. Dan aku tahu, Zarimuddin sudah menaruh kakinya di celah pintu.

***