Akuarium Rania – Bab 2: Kandang yang Retak
Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul 09.15. Waktu di mana semangat pagi biasanya mulai menguap, digantikan oleh aroma kopi instan murah dan pembersih lantai aroma pinus yang menyengat dari arah pantry.
Aku mencoba fokus pada layar monitorku. Suara ketukan keyboard dari puluhan kubikel di sekitarku terdengar seperti rintik hujan di atap seng—monoton, ritmis, dan entah kenapa, membuat kantuk. Aku baru saja hendak mengetik baris pertama laporan evaluasi Latsar ketika mataku menangkap sesuatu yang ganjil.
Di bawah tepi keyboard-ku yang berdebu, tersembul ujung kertas yang berbeda teksturnya dengan dokumen kantor.
Itu kertas koran. Buram, kasar, dan sedikit menguning.
Aku menariknya perlahan. Bunyi gesekan kertas itu terdengar terlalu nyaring di telingaku, meski mungkin tidak ada yang mendengarnya. Itu potongan artikel kolom opini: “PNS vs AI, Siapa yang Akan Bertahan?”
Bukan artikelnya yang membuat napasku tertahan, tapi aroma samar yang menguar darinya. Bau tembakau maskulin yang tercampur dengan aroma kertas tua. Dan sebuah tulisan tangan di sudutnya. Tinta biru cair—bukan ballpoint standar jatah kantor—dengan tarikan huruf tegak bersambung yang menekan kuat ke serat kertas.
“Ternyata ada yang ‘keliarannya’ melebihi idemu. Selamat pagi. -Z”
Aku menatap tinta itu. Masih sedikit basah di bagian ujung huruf ‘Z’. Berarti baru saja diletakkan beberapa menit lalu.
Aku menoleh cepat ke kiri. Mbak Lastri masih menatap layar Excel dengan kacamata melorot, mulutnya komat-kamit menghitung angka. Di depan, Pak Joko sedang mengoleskan minyak angin ke lehernya, menyebarkan bau menthol yang tajam.
Tidak ada yang melihat. Tapi aku merasa tengkukku meremang, sensasi dingin yang tidak berasal dari AC sentral.
Jemariku meraba tekstur kasar kertas koran itu sekali lagi. Ada kepuasan aneh yang menjalari ujung jariku. Ini bukan pesan digital yang bisa di-screenshot atau diteruskan. Ini fisik. Nyata. Dan berbahaya.
Dengan gerakan terlatih—seolah aku sudah melakukan ini seumur hidup—aku melipat kertas itu menjadi kotak kecil. Aku tidak menyimpannya di laci (terlalu klise, terlalu mudah ditemukan). Aku menyelipkannya ke dalam saku rok hitamku, membiarkan sudut tajam kertas itu menekan pahaku melalui kain.
Baru saja aku menarik napas lega, sebuah bayangan jatuh di atas mejaku.
“Ciye… anak emas Pak Kabid.”
Aku tersentak. Lututku membentur bawah meja. Dug.
Dian sudah berdiri di sana, menyandarkan pinggul di partisi kubikelku. Aroma parfum vanila yang manis—terlalu manis untuk jam segini—langsung menguasai udara, mengusir bau minyak angin Pak Joko.
“Apaan sih, Yan. Gaje,” elakku. Aku membetulkan letak mouse, berharap Dian tidak melihat tanganku yang sedikit gemetar.
Dian tidak mundur. Dia malah mencondongkan tubuh, membuat anting-anting plastiknya berdenting pelan. Matanya tidak lagi jenaka seperti biasa.
“Serius, Nia. Hati-hati.” Suara Dian merendah, hampir berbisik, tapi intonasinya tajam. “Dinding akuarium ini kaca semua. Bening. Dan akustiknya bagus banget.”
Dian mengetuk partisi plastik pembatas kubikelku dengan ujung kuku yang dicat bening.
Tik. Tik.
Suara itu kecil, kering, tapi di telingaku terdengar seperti retakan pada kaca.
“Inget Mbak Rini yang dulu duduk di mejamu?” tanya Dian tiba-tiba.
Aku menggeleng kaku. Dari mana Dian tau dulu mejaku ini penghuninya bernama Rini?
“Dia juga dulu sering dapet ‘mentor khusus’. Sering diajak diskusi visi-misi sampai sore. Tahu sekarang dia di mana?” Dian tersenyum miring, senyum yang tidak mencapai matanya. “Dimutasi ke Kecamatan terjauh di selatan. Gara-gara satu rumor kecil yang bocor ke telinga yang salah.”
Dian menegakkan tubuh, kembali memasang wajah ceria seolah saklar lampu baru saja dinyalakan. “Daaan, jangan lupa iuran kas bulan ini ya, Bu Analis!”
Wanita itu melenggang pergi, hak sepatunya berdetak tak-tak-tak menjauh, meninggalkanku yang terpaku. Aroma vanila itu masih tertinggal, kini terasa mual di perutku.
Aku butuh air.
Langkahku menuju pantry terasa berat, seolah lantai keramik itu dilapisi lem. Pantry itu sempit, berbau lembap dan kopi ampas. Di sudut, Pak Suroso sedang mengganti galon air dispenser.
“Eh, Nong Rania,” sapa Pak Suroso. Suaranya serak-serak basah khas perokok berat. “Muke ikam pucat amat. Lupa sarapan ape kebanyakan mikir?”
Aku memaksakan senyum, mengambil gelas kertas yang terasa kasar di bibir. “Kebanyakan mikir kayaknya, Pak. Biasa, adaptasi.”
Pak Suroso terkekeh. Ia menepuk galon yang baru terpasang. Air bergelembung naik ke atas, glug-glug-glug, suara yang terdengar seperti seseorang yang sedang tercekik.
“Kerja di sini tu macam air dalam galon ini, Nong,” kata Pak Suroso sambil mengelap tangan basahnya ke celana dasar yang kedodoran. “Kelihatannya diam, tenang. Bening. Padahal di dalamnya ada tekanan. Kalau ikam ndak hati-hati buka kerannya, bisa tumpah ke mana-mana. Banjir satu lantai.”
Aku menatap gelembung udara terakhir yang pecah di permukaan air. Analogi itu sederhana, tapi entah kenapa membuat tenggorokanku tercekat.
“Bener juga ya, Pak,” gumamku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
“Naah, itu tau,” Pak Suroso mengangguk-angguk, lalu menatapku lekat-lekat. Tatapan orang tua yang sudah terlalu banyak melihat pegawai muda datang dan pergi. “Makanya, pintar-pintar atur napas. Jangan sampai kemasukan.”
Pak Suroso berlalu sambil menyeret sandal jepitnya, meninggalkanku sendirian.
Kemasukan.
Aku meneguk air dingin itu. Sensasi dinginnya menjalar turun ke kerongkongan, membekukan rasa mual tadi. Aku menatap bayanganku sendiri di kaca jendela pantry yang gelap.
Tanganku meraba saku rok hitamku. Kertas koran itu masih di sana. Sudutnya yang tajam menusuk kulit paha, sebuah rasa sakit kecil yang nyata.
Pak Suroso salah, pikirku sambil meremas gelas kertas kosong di tanganku hingga remuk. Aku tidak takut kemasukan. Justru sebaliknya. Aku yang dengan sadar membuka pintunya lebar-lebar.
***
