BAB 2: Instagram vs Reality
Gue lap bibir pakai tissue, ngeliatin mangkok soto santan yang literally licin tandas. Worth every calorie.
Arkan bayar di depan—gue nawarin split bill tapi dia geleng, “Tourism Board yang cover“—ngobrol sebentar sama Mak Tining yang masih nyengir lebar, terus kita balik ke pikap.
“Jadi,” kata Arkan sambil nyalain mesin, AC langsung berembus dingin. “Check-in hotel dulu atau langsung mulai?”
Gue cek jam: 09:40 pagi. Check-in hotel biasanya jam 2 siang, dan honestly gue masih penuh energi—sarapan legendary itu bikin gue revive banget.
“Langsung aja,” jawab gue. “Koper bisa ditaruh di pikap kan?” Dia setuju dengan ngangguk. “Smart. Oke, kita mulai dari tempat yang… beda.” Gue angkat alis. “Beda gimana?” “Nanti liat sendiri.”
Danau Kaolin
Sepuluh menit nyetir dari warung, dan tiba-tiba pemandangan berubah—jalan masih mulus (thank you, warisan tambang), tapi sekitarnya jadi lebih… sepi. Rumah jarang, pohon lebih banyak, sesekali keliatan kilatan air biru toska dari celah-celah.
“Kita mau ke mana?” “Danau Kaolin,” jawab Arkan. “Bukan pantai, bukan pulau. Danau bekas tambang.”
Gue langsung semangat. “Oh! Gue pernah liat ini di Instagram. Yang danau biru sama pasir putih itu kan? Viral banget.”
“Iya.” Ada sesuatu di nada suaranya. Gue nggak bisa nebak.
“Very photogenic.”
Kita parkir di area terbuka—literally cuma dataran kosong berdebu dengan beberapa motor dan couple of cars. Nggak ada papan nama, nggak ada loket. Cuma… raw access.
Keluar pikap, panas lembap langsung nampol. Tapi begitu gue liat view-nya— Ya ampun.
Danau biru toska—warna yang hampir nggak real, kayak orang nuang pewarna cat air—dikelilingi gundukan pasir putih yang mirip salju. Kontras sama pepohonan hijau di belakang, langit biru cerah. Stunning. Surreal. Kayak CGI.
“Ini CANTIK BANGET,” gue bisik, udah nyambar tas kamera. Arkan bersandar di bak belakang pikapnya, ngelihatin gue dengan ekspresi yang susah dibaca.
“Silakan. Ambil foto.”
Gue nggak perlu dibilang dua kali. Tripod keluar, kamera setup, cek outfit—sundress cream sama topi pantai (gue bawa tiga opsi pagi ini, thank God past-me rajin), sandal flat yang Instagram-appropriate tapi tetep nyaman. Nggak perlu nunggu golden hour—cahaya pagi udah sempurna. Lembut, merata, flattering.
Gue spent dua puluh menit dapetin angle terbaik:
- Wide shot danau dengan gue di foreground (classic travel blogger)
- Close-up refleksi danau
- Detail pasir putih dengan kaki gue di frame (aesthetic vibes)
- Candid-looking (tapi actually posed 12 kali) shot gue “menikmati pemandangan”
Ring light nggak perlu—pencahayaan natural udah on point.
Sementara itu Arkan duduk di tempat teduh, scrolling HP, sesekali lirik ke arah gue. Nggak nyampurin, nggak komen. Cuma… ada.
Akhirnya gue puas. Beresin gear, jalan ke arah dia. “Udah?” tanya dia.
“Udah. Amazing spot. Followers bakal suka ini.”
Dia ngangguk pelan. “Mungkin iya.” Jeda. “Lo tahu ini sebenernya tempat apa?” Gue kedip.
“Danau… cantik?”
“Bekas tambang kaolin,” jawab dia, berdiri. “Kaolin itu mineral tanah liat—dipake buat keramik, kosmetik, kertas. Perusahaan tambang extract dari sini, terus abandon tanpa reklamasi proper.”
Oh.
“Air hujan ngisi pit selama bertahun-tahun, jadilah danau. Pasir putih yang baru lo foto? Itu tailing waste. Limbah dari proses ekstraksi.” Gue membeku.
“Tunggu, jadi ini… polusi?”
“Technically, iya. Kaolin sendiri nggak toxic, tapi ini bukan ekosistem natural. Ini bekas luka lingkungan yang kebetulan cantik.”
Gue lihat balik ke danau—tiba-tiba nggak semagis tadi. Masih cantik, tapi… lebih berat. Atmosfernya berubah.
“Gue nggak boleh post ini?” Arkan angkat bahu.
“Terserah lo. Tapi kalau post, mungkin kasih konteks? Biar audience tahu ada cerita di balik estetika. Trade-off dari pembangunan.” First lesson learned: cantik nggak berarti sustainable.
Gue ngangguk pelan, nyerna. “Oke. Gue bakal tambahin caption soal itu. Edukasi plus estetika.” Sesuatu melembut di ekspresinya.
“Bagus.” Kita berdiri di situ sebentar, dua-duanya natap danau yang somehow cantik sekaligus sedih.
“Siap ke tempat selanjutnya?” tanya dia.
“Siap. Tapi… thanks ya. Udah ngasih tahu yang sebenarnya.” Dia lirik gue, surprised.
“Lo beneran mau tahu truth? Kebanyakan klien lebih suka pretty lies.”
“Gue bukan kebanyakan klien.” Senyum kecil.
“Nggak. Lo emang beda.”
Rumah Makan Belitong Timpo Duluk
Jam 12:00, perut udah mulai nuntut lagi (gimana caranya lapar lagi setelah sarapan gede? Udara laut Belitung bikin cepet laper kayaknya). Arkan nyetir ke Rumah Makan Belitong Timpo Duluk—Rumah traditional dengan dekor vintage yang langsung menarik perhatian gue. Ini literally bangunan RUMAH yang dijadikan traditional resto.
Interior: furniture kayu solid, foto-foto mining hitam-putih di dinding (era 1960-70an), etalase kaca mini museum-style berisi alat tambang timah, lampu minyak tanah jadi dekorasi. Vibes nostalgia kental banget. Deretan alat-alat makan berbentuk unik, bersanding dengan peralatan tambang.
“Tempatnya keren,” komen gue, udah mulai framing shots di otak. “Iya, pemiliknya passionate soal preservasi sejarah. Makanannya juga enak.”
Kita duduk di meja dulang—setup nampan bulat besar, traditional communal serving style. Pelayan datang bawa dulang penuh: nasi, gangan (sup ikan asam pedas), ikan bakar, sambal rujak, kerupuk, sayur. Colorful, wangi rempah, intimidating jumlahnya.
Lalu, peralatan makannya membuatku tertegun: set piring dan cangkir dari kaleng. Literrally kaleng seng yang kalo dipukul sendok akan berbunyi teng! Bukan ting! Arkan hampir tertawa ngakak.
“Belum pernah makan minum pakai kaleng?” tanyanya menahan tawa. Aku menggeleng. “Ini menduplikasi gaya hidup pekerja tambang, praktis, ringan, anti pecah plus bonus ‘mineral zinc’,” tangannya membuat air quote, “setiap kali makan atau minum. Ahahah…”
“Karat… corrosion maksud lo?” Aku melepas piring yang kupegang.
“Bwahahaha…!” Arkan ngakak beneran. Aku menatapnya tajam. Menunggu konfirmasi.
“Enggaklah… “ katanya setelah tawanya reda. “Itu dulu, sekarang uda modern, cuma modelnya saja vintage. Look, piring yang dipakai di sini kategori food grade, aman untuk makan.” Dia Kembali dalam mode unfair.
Aku menatapnya tajam. Dia mengangguk, “Aman aman… ada banyak mineral, tapi dari sayur dan ikan ini, bukan dari piring,” lagi. Dan dia mengambil piring di depanku, mengisinya dengan nasi yang disendoknya dari bakul nasi–baskom yang juga dari kaleng.
Dua centong, lalu menaruhnya kembali di depanku.
“Kita share ini?” tanya gue.
“Itu idenya. Dulang style—makan bareng.”
Gue coba semuanya. Gangan rasanya beda—asam, pedas, segar. Warna kuahnya kuning cerah dari kunyit. Ikan bakarnya perfectly charred, dagingnya putih lembut. Ca kangkung krenyes, sambal belacan (terasi) punya kompleksitas pedas-gurih umami dan sedikit asam–mungkin asam jawa, sedikit sekali. Tiap gigitan berasa… intentional. Homemade.
Sambil makan, gue perhatiin foto-foto di dinding. Pekerja tambang penuh debu, wajah-wajah lelah, alat-alat berat, situs ekstraksi timah jadul. Kerja keras yang terekam dalam foto pudar.
“Belitung dulu kota tambang?” tanya gue di sela-sela ngunyah. Arkan ngangguk.
“Masih, technically. Tambang timah mendominasi ekonomi puluhan tahun. Tapi cadangannya mulai menipis sekarang. But tambang masyarakat masih jalan below the radar. Tourism jadi alternatif pendapatan—makanya inisiatif kayak punya lo penting.”
“Jadi kalau tourism gagal…”
“Dua industri collapse. Komunitas kehilangan mata pencaharian.” Dia berhenti. “Makanya gue… hati-hati. Turis bisa nyelamatin atau ngehancurin tempat. Tergantung gimana dikelola.”
Beban tanggung jawab nampol gue. Ini bukan cuma content. Ini survival ekonomi.
“Gue bakal hati-hati,” gue bilang pelan. “Tunjukin Belitung dengan bener. Dengan hormat.” Dia lihat gue—beneran lihat—menilai ketulusan. Terus ngangguk.
“Gue percaya.” Sesuatu bergeser. Trust, mungkin. Masih tentative, rapuh, tapi ada.
Pantai Tanjung Tinggi
Jam 14:00, akhirnya kita sampai spot iconic: Pantai Tanjung Tinggi. Dan holy hell.
Batu granit raksasa—beberapa setinggi gedung dua lantai—berserakan kayak raksasa lagi main kelereng. Pantai pasir putih melebar luas. Air toska berkilauan nyapu lembut. Langit biru endless. Lokasi syuting Laskar Pelangi. THE visual Belitung yang semua orang kenal.
“OKAY,” gue tarik napas, turun pikap. Udara laut langsung terasa segar. “INI DIA.” Arkan ketawa—tulus, hangat.
“Lebih bagus dari Kaolin?”
“Jauh!”
Kali ini gue less frantic soal setup content. Lebih… hadir. Nikmatin view dulu, rencana foto kedua. Kita jalan barefoot di pasir (pasirnya halus dan adem di telapak kaki). Arkan bawain tas gear gue tanpa diminta—(gentleman points bertambah), mendekati cluster batu.
“Mau naik?” tanya dia, nunjuk ke yang particularly gede. Gue lihat ke atas. Intimidating tingginya, tapi…
“Yuk. Gas.”
Naik ternyata lebih susah dari perkiraan. Permukaan batu licin karena bergaram cipratan laut, pijakan tricky. Gue slip dua kali—tiap kali tangan Arkan stabilin gue. Genggaman kuat, telapak hangat, bertahan cukup lama buat stabilitas sebelum lepas. Gue hyper-aware tiap sentuhan. Bantuan profesional, obviously. Nggak lebih. (Jantung gue nggak setuju.)
Di puncak batu, view betul-betul mencuri napas. Laut membentang tanpa batas, pulau-pulau kecil kayak titik hijau bertebaran di horizon, matahari menari di ombak. “Worth it climbing?” tanya Arkan, duduk di samping gue.
“Banget.”
Gue narik HP buat foto, terus berhenti. Ingat kata-katanya: Experience first, document second. “Tunggu. Gue mau liat dulu aja,” gue mutusin, naruh HP. Surprise muncul di matanya.
“Serius?”
“Serius.” Gue settle ke moment. Rasain angin di rambut, bau udara asin, dengar suara ombak. Teriakan camar, sahutan anak-anak bermain air tak jauh di belakang kami. Tanpa performance. Tanpa tekanan. Damai.
Kita duduk hening—solid dua menit—cuma exist. Akhirnya gue ambil foto. Tapi angle berbeda kali ini. Nggak posed. View candid dengan kaki telanjang berpasir gue di frame, ombak di bawah. Real moment yang terekam, bukan dibuat-buat. Dan satu foto candid ekstrim close up guide berahang granit. Semoga dia ga tau aku candid. Haha. Siapa yang pencuri?
Setelah menikmati senja yang mulai pudar, Arkan memberi kode untuk turun. Kami berjalan kembali ke pikap dalam diam—bukan awkward silence, tapi yang comfortable. Jenis diam yang bikin gue realize: chemistry itu bukan cuma tentang ngobrol nonstop.
Di pikap, AC langsung menyala. Arkan nyetir keluar dari area pantai, masuk ke jalan raya yang sepi—forty-five minutes drive ke Tanjungpandan. Gue ngecek kamera, scroll footage golden hour tadi. Bagus banget. Tapi gue belum mau edit sekarang. Lebih pengen… well, just be present.
Jalan raya ini sepi banget. Pohon kelapa menjulang di kanan-kiri, sesekali rumah kecil dengan lampu kuning hangat mulai nyala, langit masih cerah biru meski matahari udah mulai condong ke barat. Gue ngeliatin Arkan—profil wajahnya calm, tangan di stir santai, mata fokus di jalan.
“Jadi,” gue mulai, breaking the silence. “Lo sering bawa tourist kayak gini?” Dia geleng.
“Jarang. Biasanya gue lebih suka private tours atau family groups. Lo… special case.”
Gue nyengir, tapi ada knot kecil di perut. Special case karena Tourism Board. Karena gue influencer. Bukan karena… well, gue. “Special gimana?”
“Beda.” Dia senyum tipis, masih nggak ngeliat gue.
“Beda bad atau beda good?”
“Belum tau.” Jeda. “Ask me again in two weeks.”
Fair enough.
Gue diam sebentar, ngeliatin scenery yang lewat. Tapi curiosity gue menang. “Tapi dengan semua yang lo cerita tadi… trust issues, protective soal pulau ini… kenapa lo nerima job ini? Tourism Board approach lo langsung?”
Arkan napas panjang. Kelihatan dia mikir—mau jawab atau nggak. Akhirnya dia ngomong, suara pelan tapi jelas. “Mereka approach gue. Well, lebih tepatnya… setengah maksa.” Gue angkat alis.
“Maksa gimana?”
“Tourism Board cari guide buat project ini. Mereka butuh yang bisa bahasa Inggris lancar, punya expertise soal sustainable tourism, dan… katanya, punya ‘cultural sensitivity‘.” Dia membuat tanda kutip air quote sekilas.
“Gue kuliah di Jogja, ambil Tourism Management. Pernah internship di NGO konservasi. Terus balik sini, jadi guide sambil ngajarin Bahasa Inggris di kampung. Basically, gue kandidat ‘ideal’ mereka.”
“Okay, tapi itu belum jawab kenapa lo reluctant.”
“Aku nggak full-time tour guide. Mostly research projects—conservation monitoring, ecological surveys, collaborate sama POKDARWIS for sustainable tourism development. Tapi kalau ada creator partnerships kayak gini, ASITA atau agensi sometimes contact aku—mereka butuh someone who tau community dynamics, bukan cuma tau Instagram spots.
“Payment decent untuk two weeks—cukup bantu Apak jaga-jaga boat maintenance, plus biaya kuliah adek.”
Dia jeda sebentar, matanya masih fokus ke jalan. Jari-jarinya mengetuk pelan di setir, seolah menimbang apakah harus lanjut bicara atau tidak.
“Plus,” katanya akhirnya, suara lebih pelan, “musim lada tahun lalu lumayan bagus. Harga naik pas harvest. Apak punya kebun kecil di daerah Mendanau—gue sama Alika masih punya hak waris dari Umak—jadi hasil panen itu bantu cover UKT Alika semester kemarin. Sekitar 30 jutaan bersih. Cukup buat satu semester dia.”
Gue diam, mencerna. Jadi… dia nggak cuma guide. Dia juga punya sumber lain.
“Tapi,” lanjutnya, senyum getir muncul di bibirnya, “musim ini kurang bagus. Curah hujan nggak stabil. Pertumbuhan biji buah lada kurang bagus, banyak bunga kecil yang rontok. Panen diperkirakan turun 40 persen. Makanya job Tourism Board ini… timing-nya pas banget. Gue nggak bisa nolak. Alika butuh UKT semester depan bulan Agustus—20 juta. Ditambah biaya hidup dia di Jakarta yang nggak murah.”
Oh. Jadi ini bukan cuma soal prinsip. Ini soal survival finansial. Literal.
“Makanya gue ambil job ini,” katanya, napas panjang. “Even though gue tahu what this is. Content creator dari Jakarta, 150K followers, sponsored trip—ini bukan tentang sustainable tourism. Ini tentang marketing. Aesthetic. Views. Dan gue…” Dia berhenti sebentar. “Gue nggak mau Belitung jadi backdrop buat Instagram feed. Tapi gue juga nggak bisa nolak fee yang bisa cover UKT adek gue.”
Guilt punch, again. Tapi kali ini lebih berat. Karena sekarang gue tahu—dia butuh ini. Dan gue… gue bagian dari sistem yang dia benci tapi terpaksa masuki.
“Tapi lo tetap ambil job-nya,” kata gue pelan.
“Karena mereka bilang kalau gue nggak, mereka bakal cari guide lain yang mungkin… kurang prioritasin sustainable angle. Mereka mau someone yang bisa balance antara commercial needs sama conservation messaging.”
Dia pause. “Dan gue tau itu sounds arrogant. Maksud gue bukan guide lain di sini nggak competent atau nggak care—banyak yang bagus, yang passionate. Tapi Tourism Board specifically butuh profil tertentu buat project ini. English fluent, background akademik, track record dengan NGO. It’s not about better or worse, cuma… different approach.”
“Jadi lo basically nggak bisa nolak.” “More like… gue nggak mau nolak kalau ada chance gue bisa shape narrative. Kalau bukan gue, orang lain mungkin lebih okay dengan surface-level content. Dan gue nggak pengen itu.”
Gue diam. Nggak tahu harus jawab apa. Karena dia… nggak salah. Project ini emang sponsored. Emang about views. Dan gue emang nggak bilang ke dia soal kontrak, soal fifty thousand views minimum, soal fee yang basically tiga bulan sewa apartemen gue. Dan soal… ah udahlah.
“Lo marah sama gue?” tanya gue, voice smaller than I intended. Arkan geleng.
“Nggak. Lo cuma doing your job. Gue marah sama… sistem. Sama cara tourism dijalankan sekarang. Everything’s transactional. Nothing’s sacred anymore. Bukan marah sih like yaah se la vi”
Oh, ok ini orang makin menarik. C’est la vie–begitulah hidup. Dia pasrah? Atau punya rencana memberontak?
Diam. Jalan masih panjang. Cahaya mulai berubah—nggak lagi harsh afternoon, tapi soft pre-golden hour. Langit mulai gradasi dari biru ke kuning pucat. Lampu pikap nyala, nyinarin aspal yang lurus.
“Thanks,” kata gue akhirnya.
“For what?”
“For caring enough to be angry.” Dia nggak jawab. Tapi gue notice—senyum tipis di bibirnya. Small, but there.
Kong Djie Coffee
Jam lima lewat dikit, mobil sudah mengitari Bundaran Satam–landmark terkenal Kota Tanjungpandan. Menarik, seonggok batu hitam segede gaban–literally segede gaban di tarok di atas panggung dengan air mancur. Dan gue sekarang butuh kafein. Arkan nyetir ke Kong Djie Coffee—warung kecil tepi jalan, kursi plastik, dengan view Sungai Siburik di seberang. Aroma kopi yang kuat kecium dari parkiran yang penuh jejeran mobil dan motor.
“Kopi susu atau mau yang lain?” tanya dia. “Kopi susu aja. Terus apa yang biasa kamu pesen?” Dia order: dua kopi susu, singkong goreng.
Pak Ishak—pemilik, generasi kedua anak pak Ho Kong Djie pendiri, bapak tua di belakang counter—notice Arkan, senyum lebar. “EHHH BANG ARKAN!” teriak Pak Ishak, cukup keras sampe sewarung dengerin. “Lama nggak mampir! Sibuk apa aja?” Arkan senyum—tulus, hangat.
“Lagi kerja, Pak. Proyek dua minggu.”
Pak Ishak mendekat, ngeliatin gue dengan minat yang jelas nggak subtil. Terus balik ke Arkan, senyum makin lebar. “Ohhh, kerja,” kata Pak Ishak, nada menggoda obvious. “Bawa tamu cewek cantik pula. Baru lagi ya, Bang? Kemarin kan sama Dinda. Sekarang ganti model?”
Pak Ishak ketawa ngakak—”HAHAHAHA!”—diikuti beberapa pelanggan tetap yang dengerin, ikutan ngakak. Gue beku. Wait, what? Muka Arkan langsung merah. Bukan merah-marah. Merah-malu.
“Pak,” kata Arkan, suara tegang tapi tetep sopan. “Ini klien. Proyek Tourism Board.”
“Ohhh klien,” Pak Kong ngangguk-ngangguk, masih nyengir. “Klien cantik ya, Bang. Untung kamu.” Kedip mata. LITERALLY KEDIP MATA. Tawa tambah rame dari meja sebelah.
Gue nggak tahu harus reaksi gimana. Senyum? Ketawa canggung? Bela Arkan? Pura-pura nggak denger? Arkan jelas mau mati. “Pak Ishak, tolong kopinya,” katanya, desperate pengen ngakhirin obrolan.
“Iya iya, sabar. Singkong lagi digoreng.” Pak Ishak akhirnya balik ke dapur, tapi masih gumam cukup keras buat kami denger: “Klien katanya. Klien ape, muke mira randang gitu. Hahahaha.”
Arkan napas panjang, duduk di meja paling jauh dari dapur kopi ikonik dengan tiga ceret kopi tinggi. Gue ikutin, nahan ketawa. “Maaf ya,” katanya, gosok muka pakai dua tangan. “Pak Ishak tuh… nggak ada filternya.”
“Ketahuan kok,” jawab gue, gigit bibir nahan senyum.
“Jadi… Dinda?”
Arkan kaku. Rahang mengeras. Gue langsung mundur. “Eh sorry, nggak harus dijawab. Gue cuma—”
“Mantan gue,” jawab dia, motong. Suara pelan. “Kami putus hampir setahun. Pak Ishak… semua orang di sini tahu. Kota kecil. Semua tahu urusan semua orang.”
“Oh.” Gue ngangguk pelan, nyerna. “Pasti… canggung ya.”
“Iya.” Senyum pahit. “Nggak bisa kabur dari masa lalu kalau seisi kota inget.”
Hening sebentar. Canggung, tapi nggak terlalu berat. Terus Pak Ishak datang bawa tray—dua kopi susu, singkong goreng masih ngepul. Dia taro di meja sambil, tentu saja, nggak bisa nahan satu komen lagi: “Bang Arkan, jaga baik-baik ya tamu cantik ini. Jangan kayak Dinda, sampai dibiarin pergi.” Setengah bercanda, setengah serius.
Arkan tegang. “Pak, please.” Pak Ishak ketawa, tepuk bahu Arkan. “Iya iya, aku diam. Enjoy kopinya, Mbak.” Kedip mata ke gue, terus balik ke counter. Gue lirik Arkan. Dia natap cangkir kopi, jelas nggak nyaman.
“Are… you Oke?” tanya gue pelan.
“Iya.” Dia nyeruput kopi, hindarin kontak mata. “Makanya gue jarang bawa klien ke sini. Tapi kopinya paling enak di Tanjungpandan, jadi ya…”
“Santai aja,” gue bilang. “Small town vibes kan. Gue ngerti. Jakarta juga sama, cuma gaya gosipnya beda.”
Dia akhirnya lihat ke gue. “Nggak aneh?”
“Aneh apanya? Diledekin gitu?” Gue angkat bahu.
“Biasa. Semua orang pasti punya mantan yang diinget orang.” Senyum kecil. Lega.
“Oke. Bagus deh.”
Gue coba singkong—luarnya garing banget, lembut dalem, perfect. Dicocol ke sambal manis yang kayaknya pakai gula aren. Nggak sengaja ngeluh. “Astaga, ini bahaya!” Arkan ketawa—tulus, ketegangan hilang.
“Kan udah bilang. Singkong Kong Djie legendary.”
Kami makan dengan hening nyaman sebentar. Terus, karena gue rupanya nggak bisa nahan diri: “Jadi… Dinda. Cerita panjang?” Arkan berhenti, mikir.
“Panjang, rumit, sakit.”
“Mau cerita?” Dia geleng. “Belum sekarang. Nanti mungkin… kalau nggak dikelilingi tetangga kepo.” Gue ketawa.
“Fair.”
Tapi ada yang berubah. Dia nggak nutup totally. Cuma… kasih batas. Nanti. Yang artinya dia ngeliat kita—dua minggu bareng—sebagai sesuatu lebih dari sekadar transaksi. Gue coba nggak overthinking. (Gue absolutely overthinking.)
Sunset – Pantai Tanjung Pendam
Jam 17:30, golden hour. Kita nyebrang jalan ke Pantai Tanjung Pendam. Nggak sedramatic Tanjung Tinggi, tapi lebih… real. Pasirnya pastel? bukan putih bersih, tapi anak-anak lokal main layang-layang, nelayan benerin jaring, keluarga jalan-jalan. Ada wangi ikan bakar dari warung-warung kecil di tepi pantai.
“Pantai ini nggak secantik Tanjung Tinggi,” kata Arkan sambil jalan barefoot. “Tapi lebih authentic. Ini tempat orang lokal.”
“Gue suka. Feels lived-in.”
Kita sampai spot sepi, duduk di pasir. Langit pelan-pelan berubah jadi orange, pink, ungu. Spektakuler. Hening nyaman.
Terus Arkan ngomong, unprompted. “Soal tadi. Komen Pak Ishak.” Gue lirik dia.
“Nggak usah—”
“Gue tahu.” Dia motong lembut. “Tapi kita bakal bareng dua minggu. Mending lo tahu gue bawa… baggage.”
Gue diem, biarkan dia yang atur pace. “Dinda itu pacar gue. Tiga tahun. Kami putus delapan bulan lalu.” Dia natap horizon, suara stabil tapi ada nada sakit. “Keluarganya… nggak setuju. Beda kelas sosial. Gue nggak cukup baik—secara finansial, status. Mereka dorong dia ambil kerja di Jakarta, jauh dari sini. Jauh dari gue.”
“Dan dia pergi.”
“Iya.” Senyum pahit. “Dia pergi. Pilih persetujuan keluarga daripada… kita. Gue nggak nyalahin dia, honestly. Family pressure di sini intens. Tapi tetep sakit.” Gue nyerna ini.
“Gue turut prihatin.”
Dia angkat bahu. “Ya begitulah. Gue stay di sini, dia pindah Jakarta. Kita berdua move on. Atau… nyoba.” Hening. Terus, lebih pelan: “Makanya komen Pak Ishak tadi ngena. Semua orang di sini inget. Inget kami. Inget kalau gue nggak cukup buat bikin dia stay.”
Oh. Itu lukanya. Bukan cuma putus. Inadequacy.
“Sekadar info,” gue bilang hati-hati, “kalau seseorang pergi gara-gara tekanan keluarga soal duit atau status… itu bukan tentang lo nggak cukup. Itu tentang sistemnya yang rusak.” Dia lihat gue, surprised.
“Gue serius,” gue lanjut. “Lo jelas dihormati di sini. Pak Ishak, Mak Tining, semua orang yang kita temuin—mereka kagum sama lo. Lo punya dampak. Itu lebih berharga dari gaji gede.” Sesuatu melembut di ekspresinya.
“Thanks. Itu… it helps.”
Kami duduk hening lagi. Tapi kali ini, lebih berat. Ada bobot pemahaman bersama. “Lo gimana?” tanya dia. “Ada pacar di Jakarta?” Gue geleng.
“Putus beberapa bulan lalu. Dia… kompetitif. Sesama content creator. Semua jadi transaksi, bandingan. Gue merasa inadequate terus.”
“Kedengarannya melelahkan.”
“Banget.” Gue senyum sedih. “Jadi yeah, kita berdua lagi healing dari hubungan yang berantakan. Solidaritas.” Dia ketawa—pelan, tulus.
“Solidaritas.”
Sunset makin dalam. Langit memerah dengan warna-warna mustahil—orange, pink, ungu. Dan duduk di sini, sama seseorang yang ngerti gimana rasanya ditinggalin, dianggap kurang— Rasanya nggak sesepi itu. Dan aku notice pulau kecil di seberang pantai yang ramai ini. Pulau Kalimoa.
Check-in Hotel
Jam 18:30, akhirnya ke hotel. Havana Mutiara Hotel Belitung—decent mid-range, viewbukan beachfrontsih–lebih menarik kawasan pasar pecinan lama, lobi bersih. Arkan bantuin luggage check-in, nungguin sementara receptionist proses. “Dinner?” tanya dia.
“Mau. Tempat yang low-key?”
“Gue tahu beberapa tempat.”
Dinner – Warung Simple
Jam 19:00, warung tepi pantai area jalan Pattimura. Ikan bakar (lagi—gue nggak komplain), nasi, sayur asam. Sederhana tapi rasanya nendang. Dua-duanya capek tapi puas.
“Besok island hopping,” kata Arkan. “Start jam 8. Bawa sunscreen extra, topi, sunglasses. Full day di laut.”
Gue ngeluh. “Itu mah pagi banget.”
Dia senyum kecil. “Worth it. Percaya deh.”
“Gue mulai percaya.”
Sesuatu muncul di matanya. Surprise. Mungkin takut.
Setelah dinner, dia anterin gue balik hotel. Parkiran sepi. “Makasih buat hari ini,” gue bilang. “Beda dari yang gue kira.”
“Beda gimana?”
“Beda yang bagus. Yang real.”
Dia ngangguk, puas. “Istirahat ya. Besok lebih seru.”
“Malem, Arkan.”
“Malem, Kira.”
Gue masuk lobi, lirik sekali. Dia masih di sana, berdiri di samping pintu pikap, ngelihatin. Ekspresi conflicted. Gue bertanya-tanya apa yang ada di pikirannya. Terus ingat kata-katanya: Dia pergi. Pilih Jakarta.
Dan gue ADALAH Jakarta. Temporary. Dua minggu, terus pergi. Di matanya, apa gue pengulangan heartbreak? Gue singkirkan pikiran itu.
Terlalu berat buat malam pertama.
Tapi begitu tiduran nanti, scroll foto hari ini—Kaolin, Tanjung Tinggi, candid shot Arkan bantuin gue naik batu— Gue sadar sesuatu yang menakutkan: Ini bukan cuma soal content lagi. Buat pertama kali dalam berbulan-bulan, gue ngerasa sesuatu selain pressure.
Gue ngerasa hidup.
Dan itu bikin takut.
