Akuarium Rania – 1

Novel karya Syafree

cover-akuarium-rania

Akuarium Rania – Bab 1: Tamparan Pertama

Koridor itu terasa dingin menggigit kulitku. Bukan sekadar dinginnya AC sentral, tapi dingin yang steril. Dengung pendingin ruangan berpadu dengan humming lampu neon—sebuah simfoni kantor yang monoton. Di Bappeda Kabupaten Belitung Utara, udara pun terasa birokratis; terkondisi, terukur, dan tanpa kejutan.

Aku memaksa kakiku melangkah. Ketukan sepatu pantofelku—yang masih berkilat tanpa kerutan khas CPNS baru—terdengar terlalu nyaring di atas lantai keramik kusam. Dari sudut mataku, aku mengamati deretan cubicle terbuka. Meja-meja berhadapan, monitor menyala, nol privasi.

Seperti akuarium, pikirku. Setiap gerak terlihat, setiap ekspresi terpantau.

Ini hari pertamaku kembali setelah sebulan penuh digembleng di Latsar Angkatan Pertama setelah Covid dinyatakan selesai. Tanganku refleks meremas ujung blazerku yang masih kaku. Aku ingin memeriksa ponsel untuk kelima kalinya dalam satu menit, tapi urung.

Lalu, aku melihatnya.

Sosok itu muncul dari belokan koridor. Langkahnya panjang-panjang, membelah udara statis di sekelilingnya.

Zarimuddin.

Kemeja putihnya digulung sembarangan hingga siku—satu-satunya hal yang tidak rapi dari penampilannya hari ini. Uban di pelipis yang menangkap pantulan lampu neon, membuatnya tampak lebih tua, atau mungkin cuma lebih lelah, dibanding saat aku terakhir melihatnya.

Aku menahan napas. Refleks tubuh yang konyol. Aku ingin menunduk, pura-pura sibuk menatap lantai, tapi terlambat.

Zarimuddin mendongak. Tatapan kami terkunci.

Tidak ada senyum ramah atasan-bawahan. Pria itu hanya memberikan satu anggukan singkat. Tajam. Konspiratif.

Anggukan itu cukup untuk menyeretku kembali ke ruang perpustakaan pengap di Pusdiklat, tiga minggu yang lalu.

“Tutup laptopmu.”

Perintah itu meluncur bahkan sebelum aku sempat duduk sempurna. Zarimuddin menyandarkan punggung ke kursi besi yang berdecit protes. Di meja, tumpukan kertas rancangan aktualisasiku tergeletak tak tersentuh.

“Tapi, Pak, saya sudah perbaiki format bab duanya sesuai—”

“Saya tidak peduli dengan margin 4-4-3-3 atau font Arial 12,” potong Zarimuddin. Matanya menyipit, menatapku seolah sedang menginspeksi retakan pada fondasi bangunan. “Laporanmu itu sopan. Rapi. Dan membosankan. Saya mau dengar isi kepalamu. The raw version.”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering. “Ini soal antrean RSUD, Pak. Lansia di sana harus datang jam lima pagi cuma buat ambil nomor. Itu… tidak manusiawi.”

“Solusinya?”

“Integrasi data.” Kalimat itu meluncur begitu saja. Aku menegakkan punggung, melupakan rasa takutku sejenak. “Kita punya data kependudukan di Dukcapil. Kita punya API WhatsApp Gateway. Kenapa nggak disambungin? Pasien cukup kirim NIK lewat WA dari rumah, sistem langsung verifikasi data BPJS mereka, dan balasan otomatis kirim nomor antrean dan estimasi jam periksa.”

Aku berhenti sejenak, napasku memburu. “Nggak ada lagi formulir kertas. Nggak ada lagi kakek-kakek yang pingsan karena antre subuh-subuh.”

Hening.

Hanya suara kipas angin tua yang berputar lambat di sudut ruangan. Aku meremas tanganku di bawah meja, nyaliku perlahan menciut. Apakah aku terlalu sok tahu? Apakah ini terlalu teknis untuk pejabat eselon tiga yang biasanya cuma terima beres?

“Maaf Pak, mungkin terlalu ambisius untuk proyek Latsar. Saya bisa ubah ke—”

“Liar,” gumam Zarimuddin.

Aku terdiam. “Pak?”

Sudut bibir Zarimuddin terangkat tipis. “Idemu ini terlalu liar untuk birokrat tua di kantor kita. Mereka lebih suka beli aplikasi jadi dari vendor rekanan daripada bangun sistem sendiri.”

Ia meraih kertas rancanganku, mencoret halaman depannya dengan pena merah, lalu menatapku tajam.

“Tapi justru itu yang membuatnya bagus. Sistem ini butuh sedikit keliaran yang terkendali. Kerjakan.”

Aroma parfum maskulin yang samar menyentakku kembali ke koridor Bappeda.

Zarimuddin sudah melewatiku, punggungnya menghilang di balik pintu kaca ruangannya yang bertuliskan “Kepala Bidang”. Koridor kembali kosong.

Namun aku masih berdiri mematung. Kakiku terasa berat, seolah mengakar ke lantai keramik.

Aku menatap sekeliling kantorku dengan mata yang berbeda. Deretan cubicle itu bukan lagi sekadar meja kerja. Itu adalah arena. Dan anggukan Zarimuddin tadi bukan sekadar sapaan—itu adalah pengingat bahwa ia sudah memilih pemainnya.

Di meja seberang, Dian melambai antusias. Teman seangkatanku itu tersenyum lebar tanpa beban, tidak tahu badai kecil yang baru saja melanda benakku.

Aku membalas lambaian itu dengan senyum tipis, lalu berjalan menuju mejaku sendiri. Di kejauhan, suara printer mulai berdetak ritmis seperti metronom, menandakan dimulainya jam kerja. Tapi bagiku, sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada rutinitas kantor baru saja dimulai.

***