11 Klise Naskah yang Bikin Aku Muak (dan Kenapa Kamu Harus Menghindarinya)

Tips Menulis Syafree

Bre,

Coba jujur. Berapa kali kamu baca novel atau nonton film, lalu tiba-tiba ada adegan yang bikin kamu mikir, “Duh, ini lagi, ini lagi”? Klise, bre. Formula basi yang diulang-ulang sampai rasanya hambar kayak kopi tanpa gula. Aku mengamati, banyak penulis masih aja kejebak di lubang yang sama. Seolah-olah mereka gak punya ide lain selain ngulang-ngulang formula basi.

Padahal, semua klise itu bisa dieksekusi dengan baik. Kau benar. Kalau penulisnya jago, bahkan klise paling usang pun bisa terasa segar. Tapi, itu butuh jam terbang dan mata jeli. Sayangnya, kebanyakan cuma asal comot, lalu disajikan mentah-mentah.

Nah, ini daftar 11 klise yang bikin aku pengen lempar buku ke tembok. Cekidot, siapa tahu ada yang sama denganmu:

1. Protagonis Hambar, Dikelilingi Karakter Pembantu Ciamik
Ini klise paling kampret. Protagonisnya datar, enggak punya daya tarik, tapi entah kenapa semua orang di sekitarnya pada naksir atau muji-muji. Sementara itu, karakter sampingannya justru lebih hidup, lebih menarik, dan lebih punya kepribadian. Penulisnya kayak maksa kita buat percaya kalau si protagonis ini spesial. Padahal, enggak ada yang spesial. Kita cuma ngerasa kayak buang waktu baca cerita yang salah fokus.

2. Orang Tua Absen atau Bodoh Total
Anak-anak atau remaja yang harus pecahin masalah sendiri karena orang tuanya entah menghilang, bodoh, atau enggak peduli. Aku mengerti, ini klise buat ngasih kebebasan karakter. Tapi, apa iya semua orang dewasa itu sebodoh itu? Di dunia nyata, kebanyakan orang tua bakal bantu kalau anaknya cerita. Klise ini ngirim pesan jelek ke pembaca muda.

3. Kisah Cinta Perselingkuhan yang Diagungkan
Ini yang paling bikin darah mendidih. Karakter yang sudah punya pasangan, lalu ketemu orang baru, jatuh cinta, dan kita diminta buat dukung perselingkuhan mereka. Alasannya? “Mereka sempurna satu sama lain.” Bre, kalau memang enggak bahagia, putus dulu. Jangan jadi pengecut. Cerita yang mengeksplorasi konsekuensi perselingkuhan itu penting. Tapi kalau malah menyemangati? Nggak banget.

4. Konflik yang Langsung Hilang Kalau Karakter Mau Ngomong
Satu percakapan jujur bisa selesaiin semua masalah. Tapi, karakter-karakternya malah milih muter-muter, salah paham, atau diem aja. Ini bukan drama, ini males. Kalau antagonisnya yang manipulatif, masih bisa diterima. Tapi kalau cuma karena karakter enggak mau komunikasi, itu namanya plot malas.

5. Kekasih Gelap dan Pemarah yang Sok Misterius
Edward Cullen, bre. Dia yang memulai tren ini. Cowok-cowok moody, tersiksa masa lalu, suka ngeluh, tapi entah kenapa jadi magnet cewek-cewek. Aku mengerti, bad boy itu menarik. Tapi apa enggak bisa sekali-kali jatuh cinta sama orang yang ceria, suka senyum, dan enggak bikin kita pusing?

6. Anak Kecil/Remaja yang Ngomongnya Kayak Profesor Filsafat
Ini klise yang bikin aku pengen ngakak sambil nangis. Anak umur enam tahun ngasih nasihat hidup yang bijak banget, atau remaja ngomongin politik dunia kayak aktivis veteran. Bre, anak kecil itu ngomongin permen, game, atau sekolah. Remaja ngomongin gebetan, tugas, atau nongkrong. Realistis sedikit lah.

7. Antagonis yang Kalah Gara-gara Banyak Omong
Penjahatnya udah di atas angin, eh malah monolog panjang lebar tentang rencananya, kehebatannya, atau masa lalunya. Sementara itu, si jagoan punya waktu buat kabur, manggil bala bantuan, atau nyari celah buat nyerang. Kalau mau jahat, ya jahat aja. Tembak langsung, jangan banyak bacot. Ini bukan teater, ini pertarungan hidup mati.

8. Karakter Cewek “Kuat” yang Cuma Cowok Pakai Rok atau Objek Seks
Ini sering banget kejadian. Penulis, terutama laki-laki, pengen bikin karakter cewek kuat. Tapi ujungnya, si cewek cuma jadi prajurit tanpa emosi kayak cowok, atau malah jadi objek seks yang kekuatannya diukur dari daya tarik fisiknya. Bre, kekuatan perempuan itu bukan cuma pedang atau tubuh seksi. Ada banyak dimensi lain.

9. Si Jane Biasa yang Tiba-tiba Jadi Rebutan Lima Puluh Pria
Ini klise yang paling bikin aku geleng-geleng. Si protagonis cewek digambarkan biasa-biasa aja, polos, enggak pede, tapi entah kenapa semua cowok di sekitarnya pada naksir. Di dunia nyata, cewek yang “biasa” itu enggak langsung jadi magnet cowok. Cewek tahu kok kalau dia menarik atau enggak. Jangan naif.

10. Kisah Latar Tragis yang Cuma Disebut Sekali
Karakternya punya kisah latar tragis, misalnya orang tuanya meninggal. Tapi, tragedi itu cuma disebut sekali di awal, enggak pernah memengaruhi plot atau perkembangan karakter. Ini cuma cara penulis buat dapetin simpati murahan. Kalau enggak relevan, potong aja. Enggak perlu bumbu basi.

11. Pemula yang Menyelamatkan Dunia Karena Nubuat
Orang biasa, enggak punya skill apa-apa, tiba-tiba masuk ke dunia baru dan jadi “Yang Terpilih”. Terus dia harus belajar semua hal dari nol, dibimbing sama ahli-ahli yang udah puluhan tahun latihan. Kenapa enggak si ahli itu aja yang nyelamatin dunia? Kenapa harus si pemula yang enggak punya pengalaman? Klise ini bikin aku pengen teriak.

Wkwkwk, itulah beberapa klise yang sering bikin aku ngelus dada. Menghindarinya bukan berarti kamu enggak boleh pakai elemen-elemen itu sama sekali, ya. Tapi, kalau mau pakai, pikirkan baik-baik bagaimana caranya biar enggak jadi klise yang basi. Gimana caranya bikin pembaca mikir, “Oh, ini beda”?

Kalau kamu ngerasa naskahmu masih banyak klise kayak gini, atau bingung gimana ngembangin ide biar enggak pasaran, mungkin kamu butuh panduan yang lebih terstruktur. Ebook “Selesaikan Naskahmu” bisa jadi peganganmu, bre. Isinya bukan cuma teori, tapi juga langkah-langkah praktis buat ngembangin ide, bikin plot yang kuat, dan nulis sampai tuntas. Bukan janji manis “10x lipat”, tapi panduan nyata dari pengalaman.

Link ke Ebook Selesaikan Naskahmu